Penantian Sang Buah Hati (2)

Posted: January 20, 2017 in curcol abiss :D, Uncategorized
Tags: ,

sebelumnya di..

https://wordpress.com/read/feeds/653307/posts/1280845925

25 September 2016

Ini hari Minggu, dan sudah sejak usia hamil 7  bulan, pagi minggu adalah jadwal Yoga istri di GBS. Dan kebetulan saat itu instruktur nya Mba Neny dan sekalian kami control kandungannya. Walau sudah kontrol ke dokter pada hari Jumat lalu, mengingat perubahan yang cukup signifikan pada istri dalam 2 hari terakhir, tiada salahnya kami kontrol lagi. Dan Alhamdulillah utk kesekian kalinya, ternyata debay nya sudah masuk panggul, dan sudah dalam posisi yang tepat dan siap untuk meluncur. Berarti hari kelahiran  makin dekat, dan kami semakin deg-degan. Walau kontraksi semakin intens, namun indicator itu belum terpenuhi, induksi-induksi alami tetap dilakukan, baik dari sisi makanan dan juga istri melakukan gerakan yoga di rumah, serta saya bantu untuk melakukan rebozo. Hingga malam dan pagi besoknya, sungguh aku merasa kasian melihat istri atas kesusahan-kesusahan yang dialaminya. Walaupun saat-saat sakit itu ia masih sering bercanda dan tertawa sambil kontraksi, yaa sudah air mata yang mau keluar karena iba tadi jatuh ke dalam. Akupun tetap usahakan senyum dan sekali-sekali bercanda juga, karena itu juga lah yang membuatnya bahagia yang pada saat yang sama memunculkan oksitosin untuk meningkatkan kontraksi itu sendiri. Dan nurutku memang begitulah seharusnya, walaupun didera keperihan atas gelombang cinta yang semakin kuat, satu sisi kita seharusnya juga bahagia, karena itu jg menjadi pertanda sang buah hati yang ditunggu-tunggu akan lahir ke dunia.

26 September 2016

Ini hari Senin, dan aku izin cuti dadakan kepada atasan, karena dari dini hari intensitas dan skala gelombang cinta yang dirasakan istri semakin kuat. Dan saat ini salah satu dibutuhkan istri adalah pendampingan dan penenangan dari suaminya. Dan juga tidak tega rasanya, meninggalkannya dengan kondisi seperti itu walau hanya sekedar ke kantor. Mumpung jatah cuti masih banyak, hari itupun aku putuskan utk tidak ke kantor. Dengan semakin kuatnya kontraksi yang dialami, beberapa kali aku tawarkan utk ke RS, namun kata istri tidak usah dulu, karena memang walaupun sudah lebih sering, tetapi belum hingga pada titik lebih 3x dalam 10’. Lebih baik menambah bukaan di rumah, dari pada menunggu bukaan di RS, karena kalaulah di RS, kami memprediksi akan banyak intervensi2 yang malah kontraproduktif dalam perkembangan bukaan. Aku kagum, di saat-saat yang menahan rasa sakit tersebut, ia masih mampu mempertimbangkan dengan matang, agar kelahiran ini jadi lebih aman dan nyaman. Walau satu sisi makin kasihan, dan air mataku hanya mampu dijatuhkan ke dalam.

Ketika maghrib, istriku terpaksa shalat dalam kondisi duduk, saking sudah melemahnya badan, tidak kuat lagi untuk berdiri. Kemudian, ia pun muntah, sepertinya karena menahan rasa sakit yang sudah tidak tertahankan. Aku suruh makan, tapi tidak ada selera untuk makan. Setelah didiskusikan, akhirnya kami sepakat, setelah isya kami berangkat ke masjid, sepertinya sudah tanda-tanda. Dan terpenting, kontraksinya diperkirakan udah lebih 3 dalam 10’, ia pun tidak dapat menghitung dengan benar-benar ingat, karena rasa sakit yang sepertinya tiada berhenti. Setelah segala persiapan, sekitar jam 9 malam kami berangkat menuju RS yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah. Sampainya disana, masuk ke UGD dan urus Administrasi. Dilalahnya, kamar kelas VIP nya penuh, tersisa kamar kelas dibawahnya, yang musti berbagi kamar dengan orang lain. Hal ini tentunya sangat tidak nyaman, mengingat pasca melahirkan tentu butuh sekali ruang privasi ini, tapi ya sudahlah, musti gimana lagi.

Pendek kata, akhirnya istriku masuk ke ruang persalinan. Sebelum masuk, kembali emosiku diuji, kata perawat yang jaga, suami tidak diperkenankan masuk, aturan baru kata nya. How come? Tensi ku sempat tinggi, bagaimana mungkin suami tidak boleh masuk, pada hal pada saat-saat genting seperti ini istri tentu butuh ketenangan berada di dekat suami. Dari banyak referensi yang ku baca, bahkan suami semestinya berada di dekat istri, memegang tangan istri, menenangkan istri, saat detik-detik menuju persalinan tersebut. Aku sampaikan pada perawat yang jaga, kalau atasan nya marah, suruh ketemu saya, saya berani beradu argument kalau terkait peraturan tidak jelas seperti ini, apalagi RS ini punya afiliasi dengan perusahaan tempatku bekerja, kok bisa pada RS yang sebesar ini ada peraturan yang tidak jelas seperti itu? Akhirnya, aku bisa memaksa masuk dan menemani istri di dalam persalinan. Kemudian calon ibu ini di cek, salah satunya adalah di cek pembukaannya, atau istilahnya di veto. Setelah di cek, ternyata sudah bukaan 7, dan saat di cek tersebut ketuban nya pecah. Kata bidan yang memeriksa, berarti ini sudah semakin dekat. Tunggu beberapa saat dulu, nanti akan di cek lagi pembukaannya. Menjelang pukul 12 malam, sudah pembukaan 10 sehingga proses persalinan siap untuk dilakukan. Proses persalinan akan membutuhkan banyak energy, masalahnya adalah karena istri ada muntah dan muncul rasa mual, sehingga ia belum makan malam. Yang disantap hanya snack dan minuman susu kotak aja. Sungguh aku tak tega, melihat kesusahpayahannya dalam melahirkan tersebut. Dan kebetulan bidan yang membimbing menyuruh dengan proses mengejan, padahal selama ini istri mempersiapkan melahirkan dengan optimalisasi proses pernafasan. Dari informasi yang kutahu, di RS ini sudah mengerti dan memahami salah proses persalinan dengan optimalisasi pernafasan, namun seperti nya belum semua bidannya memahami hal ini, dan istriku makin kepayahan, ditambah dengan teriakan dari beberapa bidan serta perawat yang mendampingi, bahkan juga membentak karena memang beberapa kali proses ngejan nya tidak optimal. Kalau tahu kondisinya seperti ini, terbesit mending lahiran di GBS saja, yang tentu proses pembimbingannya lebih gentle dan mengutamakan kenyamanan saat lahiran. Aku minta salah satu perawat minggir, untuk bisa lebih mendekat pada istriku, memegang tangannya, minta ia menatap mataku, meyakinkannya bahwa ia pasti kuat, dan anak kita akan selamat. Aku sugesti dengan kalimat-kalimat positif, untuk menenangkannya, aku kecup keningnya dan membisikan bahwa kamu pasti bisa. Aku kuatkan dan yakinkan, sambil terus melafazkan kalimat-kalimat ilahi. Aku dorong, mengejannya pasti bisa, walau baru belajarnya pas di RS ini, lha wong untuk persiapa lahir dengan cara pernafasan. Waktu pun terus berjalan, bahkan bidan nya sudah mewanti-wanti, harus lahir sebelum satu jam, kalau nggak dikhwatirkan terjadi apa-apa dengan bayi nya. Aku paham sekali, bahkan dengan dibilang demikian sebenarnya menambah stress istri ku. Fisiknya memang sudah lemah sekali, sebab sebelumnya tidak makan malam, hal ini sangat mempengaruhi kekuatannya. Namun, secara psikologis terus saya dorong dengan keyakinan pasti bisa dan bayi lahir dengan sehat dan selamat. Sempat ada kondisi detak jantung bayi menurun, sementara proses mengejannya belum berhasil juga, mengingat saat USG berat debay sudah 3 kg lebih, dan karena ini juga bayi pertama, maka adalah wajar memang proses persalinan akan terasa lebih susah. Tepat pukul 01 dini hari, akhirnya putra pertamaku tersebut memunculkan kepalanya, dan diikuti badannya dalam waktu sekejap mata. Alhamdulillah, Allahuakbar.. lafadz tahmid dan takbir tiada henti kuucapkan, atas segala kuasa dan karunia ilahi ini. Ku kecup kening istri, masih tampak wajah lelah payahnya, namun semua itu sepertinya tiada terasa setelah sang anak keluar ke dunia, mendengar tangisannya yang lucu saat semua orang masih terlelap dalam peristirahatan mereka masing-masing.

img_0357

Selanjutnya, bidan-bidan melakukan pembersihan dan cek kondisi lahir putra kami tersebut, kondisi fisik dan indra nya. Alhamdulillah semuanya dalam keadaan normal dan detak jantung sempurna. Sebelumnya sempat khwatir dikarenakan proses persalinan yang cukup lama mempengaruhi kondisi jantungnya, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Berikutnya, sempat terjadi perdebatan antara saya dan bidan, tentang pemotongan tali pusar. Sependek pengetahuan dan pemahaman kami bahwa tali pusar tersebut dibiarkan saja dulu, agar sisa2 asupan ketuban di dalam tali pusar tersebut yang notabene adalah hak si bayi tetap tersalur secara optimal dan maksimal. Namun dari bidan tersebut mengatakan bahwa maksimal hanya 10’ aja tali pusar tersebut masih tersambung, setelahnya harus segera dipotong. Malas untuk memperpanjang debat tersebut, dari kami berdua tidak ada yang berlatarbelakang kesehatan otomatis tidak bisa memaksakan kehendak. Ya sudah, akhirnya tetap segera dipotong, dan aku sendiri yang melakukan pemotongan tali pusar tersebut.

Kemudian dilanjutkan dengan IMD atau Inisiasi Menyusui Dini, untunglah tidak terdapat perbedaan mazhab antara kami dengan para bidan tersebut, sehingga bayi tersebut diperkenankan untuk ditaruh di atas badan ibunya, kemudian ia dibiarkan untuk mencari puting susu. Kemudian aku baru tahu, bahwa air susu ibu itu bau dan rasa nya mirip dengan air ketuban, sehingga si bayi secara reflek akan mendekati sumber bau nya tersebut. Sesuatu yang menggembirakan adalah bayi kami tersebut menunjukkan pergerakan menuju sumber ASI, bahkan bidan yang mendampingi pun sedikit takjub, sebab sebelumnya ada kesusahan dalam proses persalinannya, dan pasti si bayi kelelahan, tapi tidak halnya dengan apa yang dilakukan oleh bayi kami tersebut. Dari referensi yang aku baca, IMD ini sangat penting bagi bayi, sebab ASI yang pertama keluar tersebut terdapat zat yang dapat menetralisir racun-racun di dalam tubuhnya, dan sangat berefek terhadap kondisi kesehatannya kedepannya. Alhamdulillah, bayi kami dapat IMD secara optimal dan menyusu pertamanya dengan tenang dan nyaman dibawah dekapan ibu nya.

Saat pasca persalinan ini ada hal yang terlewat sebenarnya, bahwa planning nya adalah melakukan tahnik terhadap anak kami, yaitu cairan dari kurma yang dikunyah oleh ayahnya, namun baru bisa aku implementasikan beberapa hari kemudian, sebab saat itu kurma nya ketinggalan dan kondisi pasca persalinan lagi sedang-sedang crowdednya serta masih terbawa haru biru euphoria anak pertama.

Bersambung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s