Archive for January, 2017

sebelumnya di..

https://wordpress.com/read/feeds/653307/posts/1280845925

25 September 2016

Ini hari Minggu, dan sudah sejak usia hamil 7  bulan, pagi minggu adalah jadwal Yoga istri di GBS. Dan kebetulan saat itu instruktur nya Mba Neny dan sekalian kami control kandungannya. Walau sudah kontrol ke dokter pada hari Jumat lalu, mengingat perubahan yang cukup signifikan pada istri dalam 2 hari terakhir, tiada salahnya kami kontrol lagi. Dan Alhamdulillah utk kesekian kalinya, ternyata debay nya sudah masuk panggul, dan sudah dalam posisi yang tepat dan siap untuk meluncur. Berarti hari kelahiran  makin dekat, dan kami semakin deg-degan. Walau kontraksi semakin intens, namun indicator itu belum terpenuhi, induksi-induksi alami tetap dilakukan, baik dari sisi makanan dan juga istri melakukan gerakan yoga di rumah, serta saya bantu untuk melakukan rebozo. Hingga malam dan pagi besoknya, sungguh aku merasa kasian melihat istri atas kesusahan-kesusahan yang dialaminya. Walaupun saat-saat sakit itu ia masih sering bercanda dan tertawa sambil kontraksi, yaa sudah air mata yang mau keluar karena iba tadi jatuh ke dalam. Akupun tetap usahakan senyum dan sekali-sekali bercanda juga, karena itu juga lah yang membuatnya bahagia yang pada saat yang sama memunculkan oksitosin untuk meningkatkan kontraksi itu sendiri. Dan nurutku memang begitulah seharusnya, walaupun didera keperihan atas gelombang cinta yang semakin kuat, satu sisi kita seharusnya juga bahagia, karena itu jg menjadi pertanda sang buah hati yang ditunggu-tunggu akan lahir ke dunia.

26 September 2016

Ini hari Senin, dan aku izin cuti dadakan kepada atasan, karena dari dini hari intensitas dan skala gelombang cinta yang dirasakan istri semakin kuat. Dan saat ini salah satu dibutuhkan istri adalah pendampingan dan penenangan dari suaminya. Dan juga tidak tega rasanya, meninggalkannya dengan kondisi seperti itu walau hanya sekedar ke kantor. Mumpung jatah cuti masih banyak, hari itupun aku putuskan utk tidak ke kantor. Dengan semakin kuatnya kontraksi yang dialami, beberapa kali aku tawarkan utk ke RS, namun kata istri tidak usah dulu, karena memang walaupun sudah lebih sering, tetapi belum hingga pada titik lebih 3x dalam 10’. Lebih baik menambah bukaan di rumah, dari pada menunggu bukaan di RS, karena kalaulah di RS, kami memprediksi akan banyak intervensi2 yang malah kontraproduktif dalam perkembangan bukaan. Aku kagum, di saat-saat yang menahan rasa sakit tersebut, ia masih mampu mempertimbangkan dengan matang, agar kelahiran ini jadi lebih aman dan nyaman. Walau satu sisi makin kasihan, dan air mataku hanya mampu dijatuhkan ke dalam.

Ketika maghrib, istriku terpaksa shalat dalam kondisi duduk, saking sudah melemahnya badan, tidak kuat lagi untuk berdiri. Kemudian, ia pun muntah, sepertinya karena menahan rasa sakit yang sudah tidak tertahankan. Aku suruh makan, tapi tidak ada selera untuk makan. Setelah didiskusikan, akhirnya kami sepakat, setelah isya kami berangkat ke masjid, sepertinya sudah tanda-tanda. Dan terpenting, kontraksinya diperkirakan udah lebih 3 dalam 10’, ia pun tidak dapat menghitung dengan benar-benar ingat, karena rasa sakit yang sepertinya tiada berhenti. Setelah segala persiapan, sekitar jam 9 malam kami berangkat menuju RS yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah. Sampainya disana, masuk ke UGD dan urus Administrasi. Dilalahnya, kamar kelas VIP nya penuh, tersisa kamar kelas dibawahnya, yang musti berbagi kamar dengan orang lain. Hal ini tentunya sangat tidak nyaman, mengingat pasca melahirkan tentu butuh sekali ruang privasi ini, tapi ya sudahlah, musti gimana lagi. (more…)

img-20161231-140050Alhamdulillah wa syukurillah, anak ku telah lahir kedunia pada 27 September lalu, sebuah proses yang susah utk disebut mudah yang dilalui oleh ibunya, namun terselip kebahagiaan dalam menjalani proses-proses tersebut, sejak dari awal-awal kehamilan, trimester I, II, hingga trimester III dan lanjut proses persalinan. Tidak hanya berhenti disitu sebenarnya, saat ini pun adalah masa-masa penuh perjuangan untuk dilewati, menjaga si bayi, tetap terpenuhi kebutuhan ASI nya dan kenyamanannya. Benarlah kiranya dengan apa yang sudah difirmankan Allah dalam QS Luqman 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Bahwa proses kesusahan yang dilewati mulai dari Hamil, kemudian melahirkan, tidak berhenti disitu pasca melahirkan juga demikian. Karena setelah lahir pun akan ada kesibukan tambahan untuk dijalani, waktu tidur yang berkurang, dan juga waktu yang berleha-leha tidak sebanyak seperti biasanya. Alhamdulillah, istriku sudah melewati fase 1 dan 2 nya, dan sedang berproses pada fase 3, yaitu fase menyusui. Walau tidak mudah, dari pancaran wajahnya aku dapat melihat, kesusahan yang dialami tersebut sungguh sudah terkalahkan dengan kebahagiaan menjaga sang putra ini.

Sudah lama ingin ku tuliskan, bagaimana proses bersalinan itu berlangsung, namun selalu saja ada hal yang tidak menyempatkannya. Walau sudah lewat beberapa waktu semoga masih dapat bermanfaat dan ada pelajaran yang dapat diambil. Alhamdulillah, komentar beberapa orang kami khsusnya istri termasuk orang yang beruntung dan diberi kemudahan dalam melahirkan. Hal ini patut disyukui sebagai karunia Allah SWT, dan juga usaha kami untuk memperbanyak referensi dan ilmu agar dapat melahirkan dalam keadaan normal, cepat, aman, dan nyaman.

Semuanya berawal dari ketika kami bersilaturahim dengan salah satu teman kantor saat lebaran Idul Fitri, kami tidak mudik ke Padang, karena saat itu istri sudah memasuki hamil 7 bulan, atau sudah memasuki trisemester III, tentu ini adalah kondisi yang cukup beresiko bagi ibu hamil untuk naik pesawat, sehingga lebaran tahun 2016 ini kami lewati di Balikpapan. Hikmahnya dapat bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat di Balikpapan. Kebetulan teman kantor yang kami kunjungi sudah punya anak, darinya kami dapat informasi mengenai Hypnobirthing, sesuatu yang tidak tertemukan pada buku-buku kehamilan yang sudah dibeli, kalau istri sih katanya sempat melihat istilah tersebut dari sebuah buku, namun tidak dijelaskan detail. Dari teman tersebut juga kami diberi informasi tentang kelas Hypnobirthing di Balikpapan yang diselenggarakan oleh Griya Bunda Sehat, dengan bidan pengasuh Mba Neny. Akhirnya kami pun ikut kelas tersebut, Alhamdulillah banyak pencerahan yang kami peroleh seperti tentang paradigma menjalani proses kehamilan. Sebelumnya persalinan adalah proses yang dianggap menakutkan oleh istri, dari kelas tersebut diketahui ternyata pandangan kita salah, malah seharusnya proses kelahiran ini  adalah proses yang ditunggu-tunggu sebab kita akan bertemu dengan si buah hati, ibarat kata kencan pertama, seharusnya proses melahirkan menjadi sesuatu yang mendebarkan sekaligus menyenangkan. Walau ada rasa sakit yang tetap pasti untuk dilewati, namun dengan sugesti-sugesti positif tersebut rasa sakit itu dapat lebih kuat untuk dihadapi oleh sang ibu. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah ilmu2 seputar menjalani kehamilan dan kelahiran yang didapat pada kelas hypnobirthing tersebut. Aku dan istri sama-sama bukanlah orang kesehatan, sehingga ada banyak ilmu2 teknis yang kami peroleh seputar menjalani masa kehamilan dan titik kritis menjelang persalinan. Dan salah satu point yang kami peroleh adalah tentang waktu yang paling pas si calon ibu di bawa ke RS untuk melahirkan, yaitu ketika “kontraksi telah berdurasi minimal 3x dalam 10’. Dan ilmu ini sungguh sangat berharga.

Singkat cerita, tiada terasa usia kandungan istri sudah mendekati waktu HPLnya (Hari Perkiraan Lahir), yaitu tanggal 20 September 2016. Gelombang cinta itu sudah mulai dirasakan sebenarnya. Gelombang cinta ini istilah lain dari kontraksi, istilah yang diperoleh dari kelas Hypnobirthing tersebut, dan juga sebagai bentuk sugesti positif atas kontraksi yang dirasakan. Tanggal 20 Sept pun tiba, belum terlihat tanda-tanda bahwa si Dedek Bayi akan lahir pada tanggal tersebut, gelombang cinta masih sering terjadi hanya saja intensitasnya masih sedikit.

23  September

Hari ini adalah waktu control pekanan ke dokter kandungan. Alhamdulillah posisi bayi tidak berubah, masih normal dengan kepala di bawah, walau ada sedikit lilitan, menurut informasi kami terima, lilitan tersebut bukanlah sesuatu yang cukup dikhwatirkan untuk dilakukan proses persalinan normal. Hanya saja berat badan dedek yang cukup banyak, sudah memasuki 3,3 Kg, dan istri pun sudah melakukan diet gula untuk menahan laju ini, dan juga ternyata si dedek belum juga masuk ke panggul ibu nya, dan untuk hal ini pun istri sudah melakukan rebozo dan gerakan-gerakan yoga untuk mendorong agar debay turun ke panggul (ilmu ini juga diperoleh dari GBS).

24 September

Dini hari nya aku dibangunkan oleh istri, terlihat kecemasan tingkat tinggi di wajahnya. Sebab ada cairan yang keluar, bukan air seni, menurut info yang diperoleh dari saudara yang pernah mengalami, air tersebut adalah air ketuban. Jika demikian, berarti air ketubannya pecah. Demikianlah kesimpulan kami saat itu, sehingga menurutku harus segera ke RS, ngecek, ada kemungkinan waktu lahir sudah dekat, dan jika ketuban pecah ada kekhawatiran berdampak pada kesehatan debay. Namun istri mengingatkan, gimana coba konsul dulu ke Mba Neny. Aku mengiyakan, jadinya 1/3 malam itu istri nge wa Mb Neny, kalau telpon takutnya ngeganggu, kemungkinan masih tidur. Alhamdulillah, menjelang shubuh, ada balasan dari Mba Neny, dengan menanyakan beberapa hal terkait detail yang terjadi terhadap istri. Alhamdulillah lagi, setelah memperoleh penjelasan, air rembesan tersebut memang air ketuban, namun hal itu karena ada sedikit kebocoran dan amat mungkin dapat ditutupi lagi dengan banyak minum air kelapa serta kangen water. Atas saran Mba Neny, kami mengurungkan untuk ke Rumah Sakit, walaupun hal yang terjadi merupakan pertanda semakin dekatnya hari lahir, dan kamipun semakin deg-deg-an. Yang dibutuhkan saat itu adalah bagaimana memunculkan kontraksi yang semakin intens dan semakin kuat sehingga dapat menambah bukaan pada jalin lahir. HPL telah lewat, tentu yang perlu dilakukan adalah bagaimana mempercepat kelahirannya, dan jalan yang kami pilih adalah dengan induksi alami. Maka nya seharian tersebut yang kami lakukan adalah bagaimana menstimulan munculnya kontraksi atau gelombang cinta tersebut, diantaranya pergi makan duren dan nenas, melakukan PR no 12, serta melakukan aktivitas2 yang membuat istri senang. Rasa senang ini penting, karena salah satu yang mendorong kontraksi adalah hormon oksitosin, yang salah factor nya adalah perasaan gembira dan senang dari si calon Ibu. Perlu juga aku sampaikan, melaksanakan PR no 12 ternyata benar-benar berefek banyak terhadap perkembangan kontraksi, kontraksi nya makin intens dengan skala yang lebih kuat. Setelah bersenang-senang seharian, termasuk mengajak mertua ke pantai, pada malam hari nya flek pun muncul. Terkait rembesan sebelumnya sudah berkurang dan hampir tidak ada, karena seharian istri banyak minum air kelapa  muda dan kangen water. Flek yang muncul pertanda setidaknya sudah bukaan 1 atau 2, kalaulah tidak tahu ilmu ini tentulah kami jadi makin stress dan bersegera ke RS. Padahal itu di satu sisi pertanda baik, dan hal yang normal menjelang kelahiran. Bukaan 1, salah satu indicator kala 1 pada proses persalinan, dan sayangnya tidak bisa dipastikan tepat kapan lanjutan bukaannya, karena kala satu ke kala 2 pertambahannya bermacam-macam setiap orang, ada yang cepat dan kebanyakan masih membutuhkan waktu beberapa hari. Maka nya saat itu kami masih bertahan dan belum memutuskan utk ke RS, berdasarkan perhitungan kontraksi nya masih dibawah 3x dalam 10’, walaupun gelombang cinta yang dirasakan istri skalanya makin kuat.

(bersambung)