Posted: December 17, 2015 in Uncategorized

Dari Icha di Taman Lavender

“April 2014 lalu saat semua rumah sakit angkat tangan dengan hasil pet scan Icha, mereka tak bisa melakukan apa apa karena jenis ca Icha yang langka dan tak merespon kemo juga radiasi.
Melalui informasi dari teteh Indi, dan seorang sahabat suami icha kami berangkat ke C care. Saat itu pak Warsito ada di luar negri kami bertemu para fisika medisnya saja, mereka menginfokan bahwa mereka baru 1x menerima pasien jenis ca seperti icha dan pasien tersebut tak menunjukan progress baik, tersirat bahwa sepertinya progressnya lambat atau mungkin tdk ada progress.

Sekali lagi air mata Icha menetes, Icha mencoba menerima dan berdamai keadaan. Suami Icha tetap optimis dan terus menyemangati agar tetap mencoba.

Saat itu icha disarankan untuk menggunakan 3 alat, rompi untuk paru paru dan spinal, celana untuk lumbal dan abdomen bawah, satu lagi dibahu kiri yang bentuknya seperti penyangga patah tulang (cukup rame penyebarannya ).
Keadaan ekonomi kami hanya bisa untuk membeli 2 alat saja maka kami sepakat membeli 2 alat dulu untuk kemudian akan membeli 1 lagi setelah ada THR (tunjangan hari raya).

Kami menunggu alat disiapkan sampai setengah 6 sore, saat itu bulan Ramadhan maka kami memutuskan untuk menunggu magrib, sholat baru kemudian pulang.

Lalu masuk seorang laki laki rambunya kelabu, wajahnya ramah penuh senyum. Ia melihat ke arah kami, tapi terlihat ragu untuk menyapa kami, kamipun demikian, dalam hati bertanya apakah ini beliau? (melihat rekaman video penjelasan beliau diawal tadi).

Suami Icha memberanikan diri untuk mendekati bertanya kepada beliau dan ternyata memang benar itu beliau.

Kemudian mereka bercakap cakap, Icha memilih untuk tak terlibat percakapan itu mungkin mereka mau menjaga perasaan Icha dan tak mau Icha mendengar apa yg Icha takut untuk dengar. Suami Icha menunjukan hasil pet scan dan memanggil Icha untuk mendekat. Beliau melihat Icha dengan seksama dan melihat kertas yang berisi anjuran pemakaian kemudian melihat lagi hasil pet scan, lalu ia berkata… “Jangan putus harapan…”

Dan air mata icha bukan hanya menetes tapi mengalir deras. Beliau tak mengatakan apa yang Icha takut untuk dengar. Beliau memberikan Icha kesempatan untuk berharap. Itu berarti sekali untuk Icha. Ia mengganti resep pemakaian alat dan menanyakan mengapa hanya ada 2 alat, seharusnya ada 3 alat. Icha menjawab “Insya Allah Icha akan kembali 1 minggu lagi.” Beliau tanya kenapa?
Icha jawab, “Keadaannya belum mengijinkan, tapi Icha akan kembali 1 minggu lagi (hati kecil icha berkata disini icha bisa berharap, sekecil apapun harapan itu akan icha perjuangkan).”

Kemudian beliau memanggil salah satu fisika medisnya dan meminta Icha mengukur alat ke tiga. Icha tegaskan bahwa jangan sekarang keadaannya blm mengijinkan, namun beliau berkata, “Ini untuk kamu dan kamu tak perlu menunggu 1 minggu, jangan putus harapan.”

Allah mempertemukan Icha dengan beliau dan memberikan Icha kesempatan berharap.

Sekarang 1 tahun berlalu, Icha masih disini bersama anak-anak dan suami tercinta, masih bersama keluarga tersayang Icha dan karena Pak War Icha tidak putus harapan.

Terimakasih Pak Warsito dan “jangan putus harapan…”
Doa kami bersamamu selalu, Pak.
Love you always

🍃🌿🌻🍃🌿🌻

Kalau sampai C Care tak bisa lagi melayani pengguna ECCT baru, mau ke mana Icha-Icha lain?
Ada yang bisa jawab?
Bagaimana kalau Icha itu adikmu, istrimu, ibumu?

#PerempuanUntukKanker

View on Path

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s