Jangan Sekedar Bermimpi

Posted: March 25, 2015 in Motivation
Tags: ,

Kenyataan hari ini adalah mimpi kita kemaren, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok (Hasan Al Banna).

images2

Dalam menjalankan hidup kita harus memiliki tujuan atau akhir hidup yang akan dicapai. Visualisasi dari tujuan hidup ini adalah berupa mimpi dan cita-cita. Kita dituntut untuk berani bermimpi dan bercita-cita tinggi, namun tidak sekedar bermimpi karena juga harus diikuti usaha yang kuat untuk mencapainya. Pilihan mimpi yang tepat akan menambah peluang terealisasinya mimpi tersebut. Banyak orang yang bermimpi tinggi-tinggi, tapi kemudian mimpi itu hanya menjadi angan karena dirumuskan sembarangan, tidak memperhatikan kapasitas dan kapabilitas diri dalam mencapainya.

Saatnya melakukan kilas balik atas sejarah diri, dalam beberapa tahun kita hidup, coba renungkan, proses keberjalanan hidup kita selama ini? Apa yang kita suka? Hingga kondisi lingkungan yang membentuk kita. Kumpulkan serpihan-serpihan perjalanan hidup tersebut, kemudian rumuskan dalam sebuah analisis atas diri kita. Di dalamnya akan tertuang kelebihan serta kekurangan yang kita miliki, dan juga potensi serta bakat diri yang bisa dikembangkan sehingga bisa disesuaikan dengan karir kita kedepannya. Tentunya akan menjadi salah alamat jika seseorang yang selama hidupnya ternyata amat alergi melihat darah kemudian memilih profesi menjadi dokter, atau seorang yang amat senang melukis kemudian memaksakan diri untuk menjadi ilmuan. Pemahaman atas kondisi diri amat penting dilakukan sebelum kita merumuskan mimpi atau cita-cita yang ingin kita capai.

Setelah memahami analisis diri, dan juga mempertimbangan peluang dan tantangan kedepannya, saatnya untuk merumuskan cita-cita dan mimpi besar kita kedepannya. Mimpi besar itu tertuang dalam visi dan misi hidup kita. Dan salah satu wujudnya adalah berupa cita-cita itu sendiri. Cita-cita tersebut haruslah jelas, tidak mengambang, dan membayang-bayang. Acap kita menemukan orang-orang yang ketika ditanyakan cita-cita nya adalah menjadi “orang yang bermanfaat bagi agama nusa dan bangsa”. Nah, bermanfaat seperti apa yang dimaksudkan? Harus jelas, jika memang tujuan nya ingin benar-benar menjadi pribadi bermanfaat banyak orang, tentukanlah cita-cita yang lebih spesifik, jadi dokter di pedalaman misalnya, jadi guru, atau profesi lainnya, yang penting disini adalah kejelasan atas target hidup yang ingin dicapai sehingga jelas juga dalam pemilihan langkah yang diambil.

Perencanaan hidup apakah selesai sampai disini? Tidak, itu baru starting awal, sebagus apapun cita-cita nya dan semulia apapun visi yang hidup yang dimiliki jika tidak jelas langkah-langkah dalam pencapaiannya semua nya pun akan berakhir sia-sia. Berikutnya yang perlu dilakukan adalah pembuatan peta hidup. Dalam peta hidup tertuang rincian tahap demi tahap dalam pencapaian cita-cita besar yang ingin dicapai. Seiring langkah-langkah menggapai mimpi besar tersebut, dalam peta hidup juga tertuang cita-cita kecil yang merupakan pemanasan untuk menggapai cita-cita besarnya. Disinilah bedanya orang-orang yang benar-benar memiliki tekad untuk mewujudkan mimpinya dengan orang-orang yang hanya terus bermimpi dan berujung angan-angan belaka. Melalui peta hidup terlihat jelas langkah-langkah dalam mencapai cita-cita tersebut, mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki serta faktor pendukung dan penghambat dalam pencapaiannya. Kalaupun ada hal-hal yang diluar dugaan, peta hidup itupun masih bisa direvisi, disesuaikan dengan keadaan, karena ada banyak kemungkinan yang terjadi di masa depan yang tidak terprediksi saat ini.

Peta hidup kemudian akan menjadi penunjuk bagi kita dalam menjalankan hidup ini agar senantiasa on the track dalam pencapaian cita-cita kita. Saat waktu demi waktu telah berjalan, dan targetan hidup satu demi satu pun tercapai, saatnya melakukan evaluasi atas capaian-capaian tersebut dengan peta hidup yang telah dibuat. Ucapkan syukur atas satu demi satu target yang telah tercapai, untuk target-target yang tidak tercapai lakukan evaluasi, analisis faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan pencapaian target tersebut. Bisa jadi strategi pencapaian target tersebut kurang tepat, sehingga perlu disiasati opsi strategi lain yang bisa dilakukan untuk menggapai target tersebut.

Harapannya target-target yang ingin dicapai tidak hanya sesuatu yang sifatnya sekedar ambisi pribadi, tetapi juga diperhatikan target atas kontribusi kita terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Memiliki target untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan dan memiliki harta yang berlimpah tentu sesuatu yang diperbolehkan, namun juga perlu dipersiapkan kiranya target untuk sesuatu yang bersifat sosial seperti memiliki anak asuh sekian orang, mendirikan lembaga sosial, mendirikan lembaga ekonomi kemasyarakatan, dan yang sejenisnya. Tidak hanya sampai disitu, juga perencanaan yang matang dalam rangka peningkatan level keimanan kita sebagai makhluk beragama, bagi yang muslim seperti ada target kapan naik haji, targetan untuk hafalan qur’annya, atau bahkan targetan kontrubusinya dalam dunia dakwah seperti pernah menjadi Khatib Jum’at.

Semua perencanaan akan berakhir hanya di atas kertas jika tidak ada usaha dalam mewujudkannya. Dibutuhkan kerja keras dan komitmen yang kuat untuk merealisasikan semua yang telah direncanakan tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan agar komitmen kita tetap terjaga untuk merealisasikan langkah-langkah pencapaian cita-cita yang telah disusun diantaranya dengan membuat komitmen untuk menghukum diri jika tidak memenuhi targetan, seperti ada target untuk membaca buku 1 jam per hari, jika gagal dalam merealisasikannya menghukum diri dengan push up 50 kali, atau bisa hukuman dalam bentuk lain seperti berinfak 100 ribu atas tiap kegagalan pencapaian tiap hari nya. Semangat itu juga bisa tetap terjaga dengan saling mengingatkan antar teman. Ajaklah beberapa orang teman untuk melakukan hal yang sama, kebersamaan akan menambah semangat dalam merealisasikan target-target yang disusun untuk menggapai cita-cita yang diinginkan.

Sebaik apapun rencana kita, masih baik rencana Allah terhadap kita. Kadang kala beberapa target hidup memang tidak tercapai atau bahkan takdir hidup mengarahkan kepada sesuatu yang malahan tidak terencanakan sebelumnya. Berikutnya lakukanlah evaluasi secara periodik atas ketercapaian yang diraih, ucap syukur karena tercapainya beberapa target yang direncanakan, dan coba renungkan beberapa perencanaan hidup yang belum tersentuh. Analisis lagi kondisi kedepannya, apakah mungkin beberapa target hidup tersebut masih bisa untuk direalisasikan? Kalau masih bisa, tentukan opsi langkah yang lebih reliable untuk diterapkan. Sebaliknya, kalau tidak memungkinkan lagi, coba pikirkan targetan pengganti yang bisa dilakukan, sehingga cita-cita besar itu masih bisa untuk diraih kedepannya. Kalaupun cita-cita besar itu yang tidak mungkin untuk terwujud berdasarkan analisis kondisi yang dilakukan, tidak mengapa untuk memutar haluan, memilih jalur hidup yang lebih mungkin untuk bisa kita jalani. Tidak ada gunanya menyesali hidup, menangisi takdir hidup yang tidak sesuai target. Lebih baik segera move on, temukan cita-cita hidup yang baru, karena bisa jadi disitulah rezeki kita, ada disanalah takdir hidup kita.

Mimpi setinggi langit hanya akan menjadi angan-angan jika tidak ada usaha dan doa untuk mencapainya. Jadi, jangan sekedar bermimpi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s