Pertamina Vs PLN

Posted: August 12, 2014 in diagnosa
Tags:

Baru-baru ini bagi rekan-rekan yang memperhatikan informasi ekonomi bisnis dalam negeri. Ada yang heboh lo, yaitu perselisihan antara 2 BUMN besar di Indonesia, yaitu PLN dan Pertamina. Pasalnya Pertamina mulai bulan Agustus ini akan melakukan pemberhentian 50% penyaluran Solar kepada PLN, sehubungan tidak terjadinya kesepakatan atas perubahan harga pasokan kepada PLN. Dari PLN pun mengancam, dengan pengurangan penyaluran tersebut maka akan berdampak pada pemadaman listrik di banyak daerah, karena memang faktanya hingga saat ini produksi listrik oleh PLN sebagian besar dengan menggunakan bahan bakar minyak yang dibeli dari Pertamina.

Ketika pemadaman listrik itu benar-benar terjadi, PLN akan meng claim penyebabnya karena Pertamina mengurangi pasokan. Jadi siapa yang salah? Pertamina, begitulah opini kira-kira yang akan dibentuk. Namun, perlu beberapa hal yang harus masyarakat ketahui, mengapa pasokan solar ke PLN ini harus dikurangi, yang mana info ini saya peroleh dari broadcast BBM dari salah seorang pekerja Pertamina yang besumber dari Surat Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero) ke PLN:

  1. Perubahan penawaran harga oleh Pertamina sudah dilakukan 2x namun tetap tidak disepakati oleh PLN
  2. Direktur PNBP penerimaan Negara bukan Pajak menjelaskan bahwa transaksi Pertamina dengan PLN adalah B to B (business to business) sehingga tidak diperlukan campur tangan pemerintah
  3. Berkurangnya pasokan ini sesuai dengan addendum III pasal 3 ayat 7.c (bukan sepihak dari Pertamina)
  4. Secara bisnis seharusnya PLN dapat mencari Supplier BBM lain selain Pertamina demi memenuhi kebutuhan masyarakat, tentunya jika mampu mendapatkan harga yang lebih murah dan service yang lebih baik

Demikian 4 hal penting yang masyarakat perlu ketahui agar dapat menilai secara objektif.

IMG-20140812-WA000

Hmm, semoga kedua BUMN bisa saling menemukan solusi terbaik, yang win win solution. Pun dari pemerintah harapannya bijak dalam menetapkan kebijakannya. However, kedua BUMN ini memgang hajat hidup orang banyak, tentunya kita tidak ingin akibat egoisentris dari masing-masing BUMN malah masyarakat yang dirugikan. Tetap yang dijadikan dasar pertimbangan utama adalah bagaimana masyarakat terjamin keamanannya dan terpenuhi setiap kebutuhannya. Dan juga perlu diperhatikan, Pertamina disini adalah berperan sebagai perusahaan yang berada dalam kompetisi persaingan yang sangat kuat dalam lingkungan bisnis oil & gas, bagaimanapun juga orang waras tidak akan mau melakukan jualan rugi. Disinilah dituntut keprofesionalitasan, jelas Pertamina disini memakai logika bisnis, yang namanya jualan harus untung, karena memang perjanjian dari awal adalah B to B antara kedua belah pihak. Amat disayangkan kalau PLN malah mencari kambing hitam atas permasalahan management nya sendiri, dalam hal ini meng kambinghitamkan Pertamina, menjadikan Pertamina musuh masyarakat. Harusnya managementnya diperbaiki, bagaimana meminimalisir cost dan biayanya, sehingga utang2 pun terbayar dan kemudian bisa menyesuaikan harga dengan pihak Pertaminanya. Dan PLN pun ada kebebasan untuk mencari supplier selain Pertamina sebenarnya, tentunya hal ini harga nya tidak akan jauh beda, karena dari Pertamina sendiri pun penetapan harganya sesuai harga pasar.

Dan..akhirnya kita menunggu bagaimana sikap pemerintah, walau sebenarnya ini gak wajib campur tangan pemerintan, namun karena ini BUMN dan keduanya menyangkut hajat hidup orang banyak, pemerintah tetaplah harus turun tangan tanpa ada salah satu pihak yang terzhalimi.

#SekedarOpini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s