Sedikit Cuap Tentang Kependidikan Hari Ini (Hardiknas Edition)

Posted: May 2, 2014 in diagnosa
Tags: ,

2 Mei menjadi hari tanggal yang bersejarah bagi segenap warga Indonesia yang terjun dalam dunia pendidikan, karena tiap tanggal 2 Mei ini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tapi saying, hardiknas belum menjadi hari libur nasional, kalau jadi hari libur nasional wah seru juga tuh. Musababnya karena mulai tahun 2014 ini tanggal 1 Mei yg notabene hari buruh dunia dijadikan sebagai hari libur nasional, nah kalau hardiknas juga maka bisa libur 2 hari berturut-turut tuh, seru kan? Hehehe #lazyedition. Mungkin sebaiknya tiap tanggal 2 para guru dan siswa se Indonesia juga turun ke jalan, sehingga tanggal 2 Mei ini dijadikan hari libur seperti hari buruh yang tiap May Day itu mereka selalu berdemo serentak di seluruh Indonesia.

Eits, bukan perihal tidak liburnya hardiknas ini yang ingin aku tuliskan, tetapi ada hal yang lebih strategis untuk menjadi perhatian kita bersama, tentang efektifitas dan produktifitas system kependidikan yang sudah berjalan sejauh ini. Aku bukanlah pakar pendidikan, yang paham dengan pengelolaan atau manajemen kependidikan ini. Lah wong backgroundnya Akuntansi kok, dan kerja nya juga bukan di Sekolahan atau Dept Pendidikan, tetapi di Perusahaan yang malah bergerak dalam minyak dan gas. Namun tidak mengapa, aku nulis nya di blog sendiri, suka-suka gw dong mau cuap apapun asal itu dalam waktu bersamaan tidak mengganggu hak orang lain.

Ngomong-ngomong masalah pendidikan di Indonesia, hal pertama yang saya perhatikan adalah ketidakjelasan kurikulum pendidikan yang ada. Aku tidak menemukan grand strategic yang jelas atas kurikulum ini. Yang malah aku temukan adalah kurikulum kita berubah seiring dengan berubahnya menteri. Apalagi jika mendiknas nya yang baru berbeda partai dengan mendiknas sebelumnya. Perubahan yang terjadi bisa lebih drastic lagi tuh, karena juga ada pergantian pada jajaran-jajaran di bawahnya. Agak lucu memang, masing-masing partai punya platform pendidikannya sendiri, sehingga nya yang terjadi pengelolaan manajemen kependidikan tergantung siapa menterinya. Lah, kalau begini adanya, mau dibawa kemana system kependidikan kita? Seharusnya ada renstra (Rencana Strategis) yang jelas dalam 25-50 tahun kedepan, kejelasan yang dimaksud adalah berupa target yang ingin dicapai, tahapan-tahapannya, dll. Renstra yang sudah dibikin diikat secara konstitusi, da nada kewajiban komit dari pejabat yang berwenang untuk tetap berpedoman pada renstra tersebut. Harapannya adalah terjadi keberjalanan yang berlanjut atas pendidikan yang terjadi, tidak terjadi stagnansi.

Kemudian hal lain yang patut untuk dicermati adalah penanaman nilai-nilai kebaikan kepada anak didik. Di sekolahan-sekolahan pada umumnya yang menjadi titik pencapaian target pada nilai kognitif mata pelajaran saja. Pada hal ada aspek lain untuk lebih diperhatikan, yaitu nilai kepribadian dan moral itu tadi. Di TK saja anak-anak sudah dipaksa untuk bisa membaca dan berhitung. Pada hal pada usia yang demikian tersebut amat baik untuk membentuk kepribadiannya. Di Jepang aja misalnya, anak-anak TK dan sekolah dasar lebih ditekankan penanaman budaya kebaikan, seperti kedisiplinan, tepat waktu, budaya antri, dll. Jangan heran kalau kiranya manusia-manusia di Indonesia amat ngaret dalam masalah waktu. Jangan kaget juga kalau korupsi sudah sangat membudaya di Indonesia, karena sedari SD aja contek-mencontek saat Ujian Akhir Nasional dilegalkan oleh sekolah dalam rangka mencapai nilai peringkat sekolah yang lebih tinggi atau agar bisa lulus semua. Lucu kan, adanya UAN tersebut malah menjadi pemicu penanaman budaya contek yang merupakan cikal bakal kelakuan berkorupsi. Syukurlah sebenarnya saat ini sudah ada usaha dari Dept Dik Bud sendiri untuk membentuk soal UAN yang terdiri dari banyak paket soal sehingga untuk meminimalisir prosesnya contek mencontek antar siswa. Namun ya namanya udah niat, tetap aja ada kecurang-kecurangan yang dilakukan siswanya bahkan itu atas dorongan dari gurunya. Yahh, semoga kedepannya ada usaha yang lebih baik, bukan sekedar menyiapkan tools yang membentuk siswa nya untuk berkepribadian baik, tapi juga secara langsung mengubah mental anak didiknya.

Sudah sore, sekian dulu yakk, mau pulang dulu, nanti malam juga mau ada badminton (ngantor nyambi ngeblog 😀

 

Comments
  1. suararaa says:

    setauku mmg dah ga da yg namanya GBHN (garis2 besar haluan negara), shng rencana2 kenegaraan yg ada (tidak hny pendidikan) yg jngka pnjang. mgkin ada smpai 20 thn k dpn, spt rencana2 kementrian pariwisata dan ek.kreatif tp entah klu ganti menteri apakah akn dilanjut dg rencana sblmnya atau ganti br…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s