Antara Sang Pengusaha dan Pekerja (May Day Edition)

Posted: April 30, 2014 in diagnosa
Tags: , ,

Hadits Nabi: “Berikanlah upah seorang pekerja sebelum keringatnya kering”. (HR Ibnu Majah).

Walau belum mempunyai karyawan, tidak ada salahnya untuk memahami bagaimana beretika kepada karyawan atau buruh kita. Mumpung besok hari buruh, gak ada salah nya sedikit bercuap-cuap perihal hubungan antara owner/pengusaha dengan pekerja ini. Bahkan, jika masing-masing melihat kepentingan sendiri aja, maka antara pengusaha dan pekerja atau bahasa lain buruh ini gak akan pernah ada habisnya. Sang pengusaha tentunya menginginkan laba yang setinggi-tingginya dengan menekan pembiayaan serendah mungkin, dan bagi pekerja menginginkan kesejahteraan yang setinggi-tingginya yang mana sayangnya kesejahteraan pekerja ini akan berkorelasi searah dengan naiknya pembiayaan. Perlu ada nya saling tenggang rasa, saling pemahaman kepentingan masing-masing, sehingga terciptalah titik equilibrium diantara masing-masing kepentingan tersebut.

Bagi sang pengusaha, perlulah memiliki pemahaman yang berdasar pada hadits Rasulullah telah dituliskan di atas. Ada etika dalam pemberian upah, yaitu dibayar sebelum kering keringatnya. Makna yang terkandung disini adalah kewajiban untuk menyegerakan dalam pembayaran upah. Amat miris rasa nya ketika kita melihat fenomena-fenomena adanya pegawai-pegawai pabrik atau pembantu rumah tangga yang bahkan hingga beberapa bulan gajinya tidak dibayarkan. Atau perlu saya sampaikan juga fakta yang terjadi atas nasib guru di beberapa daerah, diantaranya perihal pembayaran uang sertifikasi guru PNS, guru nya harus demo dan turun ke jalan dulu baru kemudian uang sertifikasinya dalam beberapa bulan tersebut dibayarkan oleh Dept Pendidikan daerah tersebut, padahal dana nya sudah digelontorkan dari pusat pada awal tahun, sungguh terkutuk orang-orang yang berbuat zalim di dept pendidikan daerah tersebut.

Selain dalam hal pembayaran upah yang harus disegerakan, juga ada etika berbuat baik oleh sang pengusaha dengan karyawannya. Walaupun dalam hal ini sang pengusaha adalah berada pada posisi di atas, posisi lebih berkuasa, sementara sang karyawan adalah pada posisi penggantungan hidupnya pada pengusaha. Etisnya sang pengusaha tidak berbuat semena-mena, tetap memuliakan, tetap berbuat baik, tidak berlaku kasar, dan tetap menghormati hak-haknya. Miris juga kita rasanya, ketika menemukan dan melihat fenomena di beberapa wilayah, yang dalam hal ini sering terjadi terhadap pembantu rumah tangga, disiksa, diancam, sering dimaki-maki, dan nauzubillah bahkan ada yang hingga diperkosa oleh majikannya. Sungguh ini perbuatan yang tidak dibenarkan, pekerja atau buruh itu bukan budak yang bisa seenaknya diperlakukan sesuka kita. Tidak ada hak pengusaha terhadap personal dan pencabutan hak asasi pekerja, yang ada hanyalah pemanfaatan jasa nya. Namun banyak sepertinya par abos-bos besar tersebut yang salah kaprah, menganggap sudah bisa berkuasa segalanya dan boleh berbuat apa saja. Sekali lagi, bagaimanapun juga, etika tetap harus dijaga, semisal punya pegawai yang usia nya lebih tua dari pengusaha tersebut, tetaplah harus menghormati, menjaga etika sebagaimana orang yang lebih muda terhadap orang yang lebih tua.

Kemudian, dari sisi pekerjanya pun harus ada kesadaran diri dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang sudah diamanahkan kepadanya. Jangan hanya tiap sebentar menuntut hak,gaji, insentif ini dan itu tetapi pekerjaan nya tidak memadai, kemudian berdalih persoalan HAM utk kesejahteraan buruh dalam penuntutan, padahal keberadaannya hanya menyercoki perusahaan. Kemudian, selain tanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, juga ada kesadaran dari pekerja untuk senantiasa meningkatkan kompetensi dan kapasitas diri nya. Dia paham bahwa perusahaan tempat ia bernaung tidak sekedar tempat ia bekerja, namun ia juga memahami bahwa seberapapun posisi dia di perusahaan, memiliki arti penting terhadap perusahaan, yang mana hasil2 karya dari perusahaan itu juga memberi manfaat terhadap masyarakat sekitar. Yang ada dipikiran bukan sekedar bekerja untuk mendapat upah, tetapi pemahamannya sudah pada tataran bekerja untuk berkontribusi yang memberi manfaat terhadap masyarakat dan sekitarnya. Sehingganya, yang ada hanyalah usaha untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Dan tentunya di dunia ini semua nya saling berpasangan, berlaku hukum timbal balik. Saat anda memberikan yang terbaik bagi perusahaan, yakinlah bonafit yang sepadan juga akan kita peroleh. Siapa yang menanam benih, dia lah yang akan memetik buah nya.

Yapp, ketika ada saling kepemahaman, dan berusaha saling memberikan yang terbaik, tentunya efektifitas dan produktif kerja akan meningkat juga. Dimanapun posisi anda, baik sebagai sang pengusaha atau sebagai buruhnya, berikan kontibusi dan kebermanfaatan aja, timbal balik yang sepadan akan diperoleh.

Sekian dulu yak, udah sore nih. Mau pulang dulu, *masih di kantor 😀

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s