Bersihin dan Perawatan Gigi Part 2

Posted: March 7, 2014 in curcol abiss :D
Tags:

Sebelumnya ada banyak bercerita tentang pengalaman pertamaku dalam melakukan perawatan gigi, yaitu saat masih berstatus calon karyawan Pertamina, saat itu ada kesempatan melakukan scaling gigi di klinik kantor.

Saat menerima SK pengangkatan aku memperoleh penempatan di unit Pemasaran Kalimantan, masih di kota Balikpapan, hanya saja berbeda dengan kantor saat masih OJT dulu. Di kantor pun ada kliniknya, tetapi hanya berisi dokter umum, untuk perawatan lebih spesifik untuk gigi misalnya harus dirujuk ke RS Pertamina Balikpapan. Setelah perawatan saat masih OJT tersebut dulu itu, dari dokternya ada rekomendasi untuk tetap melanjutkan perawatan, karena di gigi kiriku masih bisa ditambal tetapi tidak untuk geraham kanannya, karena lubangnya terlalu besar sehingga akan menjadi riskan untuk ditambal. Perlu perawatan lama untuk memperbaikinya atau kemungkinan terburuk dicabut giginya. Itulah sebabnya, selain karena kesibukan di kantor karena sebagai pegawai baru (cieleehh..), aku tidak bersegra untuk melakukan perawatan atas gigi tersebut. Hingga beberapa bulan kemudian, saat wudhu shalat duha di kantor, tetiba gigiku berdarah, hingga beberapa kali kumur-kumur darahnya gak hilang-hilang. Saat melihat di cermin barulah aku menyadari bahwa gigi berlubang tersebut sudah berdarah. Tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin gusinya berdarah karena tidak terlindung. Sesaat kemudian darahnya lumayan menghilang, namun saat siang istirahat zuhur, darahnya muncul lagi. Alamat gawat ini pikirku. Setelah dapat kabar bahwa ada praktek gigi sore di RSPB, pulang kantor tenggo, aku bersegera ke klinik gigi RSPB, berbekal dengan kartu inhealt yang ku punya.

Sampai di klinik jam setengah lima, ternyata aku kecepatan, praktek baru buka jam 17.00, dokternya belum datang. Setengah jam menunggu aku ketuk pintu klinik yang dari tadi tertutup, ternyata ada orang, yaitu perawatnya. Ditanya apakah sudah ada janjian, tentu aja belum. Maka aku didaftarkan dan disuruh menunggu karena sang dokter belum datang jua. Hingga jam setengah 6 lebih barulah si dokter yang ditunggu-tunggu datang. Dokternya laki-laki, masih muda. Aku pasien pertama, pasien yang lain sudah banyak juga yang datang. Mungkin  karena sudah biasa dan tahu kalau klinik baru benar-benar buka pada jam setengah 6 lebih, tuk itu mereka baru datang pikirku. Kemudian aku sampaikanlah keluhanku perihal darah yang keluar dari gigi geraham tersebut. Kemudian sang dokter pun membersihkan gigi tersebut, agak berusaha keras juga dokter untuk membersihkan karena darahnya yang tidak berhenti keluar, hingga kemudian darahnya berhenti juga. Dokter giginya pun bilang bahwa gigi ini harus benar-benar dirawat. Bisa ditambal aja kah dok? Tanya ku. Dokternya bilang bahwa ini bisa diusahakan. Kemudian, gigiku tersebut diperiksa lebih teliti lagi, ternyata lobang nya itu udah sangat parah, dan untuk solusinya palingan hanya bisa dicabut. Dan aku pun diminta untuk datang lagi minggu depannya untuk melanjutkan perawatan. Saat perjalanan pulang, ada sedikit kehampaan., di saat masih muda begini gigi ku akan sudah kehilangan satu. Alah makkk..pada hal ku belum menikah..nah loh, hubungannya?? 😀

Dua minggu kemudian aku datang lagi ke klinik, nggak sesuai janji sebenarnya karena ada beberapa kerjaan di kantor sehingga baru bisa datang dua minggu setelah perawatan sebelumnya. Dan aku pun sudah bersiap untuk kehilangan gigi satu, dan persiapan finansial untuk penggantian gigi palsu, karena untuk mengganti gigi palsu kompensasi dari perusahaan adalah di reimburse dengan nilai maximal 10 juta. Ada rencana untuk pasang gigi palsu permanen aja, gak apa2 sedikit mahal dari pada repot2 yang bisa terlepas dan harus ngebersihin secara rutinnya. Wahh, aku nggak ngebayangin gimana rasanya punya gigi palsu tersebut. Ada rasa sesal kenapa tidak sedari awal yaitu saat kuliah melakukan perawatan gigi, padahal aku sempat mengetahui promo murah bahkan gratis konsultasi gigi di Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Yaa sudahlah pikirku, nasi sudah menjadi bubur, yang penting sekarang do the best aja, dengan memberi perawatan terbaik, dan lagian juga gratis ini, yo wiss dirawat seoptimalnya. Sesampainya di klinik gigi, aku mendapati tidak ada dokter yang sebelumnya merawatku, sebutlah Dokter E. Dari perawat klinik aku mendapat informasi kalau ternyata dokter E tidak masuk hari tersebut. Trus dokternya ada kapan yakk? Kata perawatnya baru ada selasa pekan depannya. Yahh, akhirnya cabut gigi hari itu gagal. Setidaknya masih ada beberapa hari membersamai gigiku yang rusak parah ini.

Pekan depannya, aku klinik lagi. Dan ternyata dokter E belum ada juga, wahh gimana ini? Sempat aku luapkan kekesalan kepada perawatnya, karena sesuai janjinya hari Selasa ini. Tapi kemudian, perawatnya menawarkan jika dirawat dengan dokter gigi yang satu lagi, yaitu dengan dokter Evita, dan kebetulan dokternya perempuan. Ya sudah, kadung udah datang ke sini, aku ganti dokternya aja. Dari pada nanti telat dirawat dan berdampak lebih parah, gak apa-apa deh untuk hari ini coba dikonsultasikan dengan Dokter Evita ini dulu. Sebelumnya aku jelaskan history kasus gigiku tersebut, walau tidak terlalu berharap sempat aku mengkonfirmasi lagi ke dokternya, apakah gigi tersebut masih bisa dirawat dalam artian tidak dicabut? Dengan PD nya dokternya bilang, bisa..nah loh, kata dokter sebelumnya udah nggak bisa lagi. Namun kata dokternya bisa sebenarnya, hanya saja butuh perawatan hingga beberapa kali, kalau aku sabar untuk terus konsul dan rawat gigi tersebut tidak perlu dicabut. Rekomendasi dokter tersebut sebaiknya dirawat aja, lagian juga udah dibayarkan perusahaan, sayang aja kalau dicabut. Dan akhirnya gigi ku tidak jadi dicabut hari itu, bukan main senangnya, aku gak jadi pake gigi palsu, hehe. Hari itu aku di fotoscan, agar bisa dilihat lebih detail atas gigi yang bermasalah tersebut. Terlihat dokternya menghela nafas saat melihat hasil foto nya tersebut, aku bisa membaca bahasa tubuhnya kalau gigi nya ini ternyata parah banget. Tenang aja, bisa dirawat kok walau butuh waktu yang agak lama ucapnya.

Setelah itu jadilah secara rutin tiap minggu aku klinik untuk konsultasi dan dirawat. Aku pun gak ngerti gigi ku diapain. Di congkel-congkel, di semprotkan angin, dimasaukkan cairan-cairan yang pahit rasanya, dimasukkan sejenis selang/pipa yang sangat tipis, ditusuk-tusuk juga, dan memang acap kali harus menahan rasa perih di gigi dan juga rasa cairan yang menjemukan. Tapi apalah daya semua itu harus sabar dan tabah untuk dijalani, demi selamatnya gigi ku yang satu ini. Ada mungkin lebih kurang 11-13 kali kunjungan, hingga lupa persisnya berapa kali saking banyak dan lamanya. Dan yang lebih bersyukur lagi untunglah semua itu sudah ditanggung oleh perusahaan tempatku bekerja, kalau tidak kere juga tuh..pasalnya tiap kali kunjungan itu tagihannya bisa mencapai 300.000-600.000 rupiah. Kali kan aja tuh dengan jumlah kali pertemuan tersebut.

Alhamdulillah, saat ini gigi yang parah tersebut sudah lebih baik dengan perlakuan berupa tambalan aja. Sebenarnya juga ditawarkan untuk perawatan yang lebih intensif lagi agar yang ditambal tersebut benar-benar ter protect dari pelepasan karena benda keras dan sejenisnya. Namun treatment yang bernama Crown Porcelain tersebut harus di lab dokternya di Surabaya dengan kisaran biaya 2-3 juta rupiah. Alahmakk, utk saat ini aku tidak menerima tawaran dokter tersebut, lagian kalau untuk treatment yang seperti ini kemungkinan tidak dikompensasi perusahaan. Untuk sekarang udah cukup dulu pikirku, tinggal nanti bagaimana menjaga untuk menghindari makanan yang terlalu keras dan secara rutin melakukan scalling. Salah satu hal perubahan yang ku rasakan adalah mulai saat itu aku tidak perlu lagi mencari-cari tusuk gigi saat setelah selesai makan. Kalau dulu tusuk gigi merupakan hal yang perlu ada karena pasti ada makanan yang nyangkut di gigi berlubang tersebut.

Pesan nya adalah senantiasa lah untuk melakukan konsultasi dan perawatan gigi ke dokter gigi, at least scalling secara rutin paling sedikit 1 kali dalam 6 bulan.

 

Comments
  1. rifki says:

    Maaf saya mau tanya, saat mau masuk pertamina apakah ada medical checkup? lalu dgn kondisi gigi berlubang /berkarang apakah bisa lolos tes tsb? Terimakasih

    • anggiawan23 says:

      iya ada, bisa dibaca di tulisan Job Seeker.
      pada saat itu ada notes bahwa gigi berlubang dari dokter nya, walaupun saat itu sy lolos, tapi ada baiknya untuk memperhatikan kondisi kesehatan gigi sebelum medcheck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s