Kasih Tak Berharap (2)

Posted: February 12, 2014 in story
Tags: ,

Episode 2

Hari itu, saat jeda istirahat pertama kegiatan belajar mengajar, Wawan menghampiri Yuni di depan kelasnya. Pagi sebelum masuk kelas Yuni sempat berpesan pada Wawan bahwa ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Wawan ingin segera saja diomongkan pada pagi itu, tetapi berhubung bel masuk sudah berbunyi, mereka pun belum sempat membicarakan apapun. Ketika sesi istirahat pun datang, segera saja Wawan menuju kelas Yuni. Wajah murung Yuni saat berbicara dengannya tadi pagi sungguh memenuhi tanda tanya dalam benaknya, sehingga pelajaran matematika yang disampaikan di kelas tadi pun tidak terserap sama sekali karena ada hal lain yang telah mengganjal di pikirannya.

Saat bertemu Wawan, wajah Yuni pun belum berubah, masih murung sebagaimana ditemui Wawan tadi pagi.

“Ada apa toh Yun? Kamu kok wajahnya sedih banget gitu?”, Wawan mengawali pembicaraan.

“Hmm, iya..ada hal penting yang musti aku sampaikan ke kamu Wan..tentang hubungan kita”, jawab Yuni.

“Ada apakah Yun? Maaf banget yaa, kalau selama ini aku belum bisa menjadi pacar yang baik bagimu. Masih kurang perhatian”, sesal Wawan.

“Bukan itu Wan, kamu udah baik banget kok. Bahkan aku seneng banget bisa jadi pacar kamu. Masalahnya ada pada aku”, bantah Yuni.

“Terus..ada apakah kira-kira gerangan?”, tanya Wawan penasaran.

“Hmm…kita ketahuan pacaran sama Mama..”, jawab Yuni.

“Hahh?? Kok bisa? Gimana ceritanya?”, penasaran Wawan makin menjadi.

“Jadi, saat kita jalan bareng hari Minggu kemaren, ada tetanggaku yang ngeliat. Terus diadukan ke sama Mama ku. Kemudian, aku diintrogasi Mama, aku gak bisa boong sama Mama. Mama marah, karena seharusnya belum saatnya pacaran, disuruh belajar serius. Dan aku diminta mutusin kamu. Atau hal ini akan diceritakan ke Papa, dan kalau Papa sampai tahu pasti lebih rumit lagi masalahnya”, cerita Yuni sedih dengan mata yang berkaca.

Wawan pun terdiam, tidak mampu berkata apa-apa. Sungguh dia sangat sayang pada Yuni, dan saat ini ia lagi semangat-semangatnya belajar disertai dengan aktivitas lain seperti pramuka, osis, dan latihan band tidak lepas dari faktor support dari Yuni. Bagaimana mungkin mereka harus putus secepat ini? Wawan pun hanya menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Kekagetannya barusan membuatnya bingung harus berkata apa.

“Aku bingung Wan, aku sangat sayang kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Tapi aku juga takut sama ancaman Mama”, sesal Yuni.

“Hmm..gimana ya Yun. Aku juga sedih kalau kita harus berpisah secepat ini. Jujur, aku belum ikhlas untuk putus denganmu. Tapi…aku bingung..terserah kamu saja lah”, Wawan berlepas diri.

“Wan..aku gak mau putus denganmu..aku gak mau kehilanganmu..tapi..”, sesal Yuni sambil terisak.

“Tapi mau gak mau kita harus putus kan? Itu kan yang kamu mau bilang. Sudahlah, to the point aja lah ya. Kamu inginnya hari ini kita putus kan? Ok, kita putus. Mungkin memang belum saatnya untuk kita bersatu, atau bahkan memang ditakdirkan kita tidak berjodoh.”, jawab Wawan dengan nada meninggi.

“Wan…!!!”, tangisan Yuni makin menjadi.

Wawan pun beranjak pergi meninggalkan Yuni, walau samar-samar ia mendengar Yuni memanggil-manggil namanya. Beberapa siswa siswi yang berada disekitar kelas pun pada menoleh, mencoba menyaksikan adegan drama picisan yang sedang terjadi. Wawan pun tak peduli, emosi bercampur sedih berkecamuk dalam dirinya. Kalau saat-saat gundah seperti ini obat peredanya adalah makan, maka ia pun pergi ke kantin, dan memesan mie goreng double pakai telur. Semoga setelah perutnya terisi sedikit memberi ketenangan harapnya.

Sementara Yuni, yang ditinggal pergi dalam keadaan menangis oleh Wawan, masuk kedalam kelasnya dengan tangis yang makin menjadi. Beberapa teman akrabnya pun mencoba menghibur atas kesedihan yang menimpanya. Pun hingga bel masuk berbunyi, tangisan Yuni pun belum berhenti sehingga sempat menimbulkan tanda tanya oleh guru yang mengajar.

Comments
  1. suararaa says:

    entah knp y wlwpun tag-nya story, rasany kyk bc ksh nyata.. ini kisah kmu wktu SMA y?

  2. anggiawan23 says:

    Wahh, ngerasa demikian yakk? Isi nya bukan 100% fiksi, tapi bukan 100% fakta juga sih..jadi campur2..hehehe.. dan juga ini setting ceritanya utk siswa SMP, bukan SMA lo.. tapi masih bersambung, belum kelar..dan belum ada ghiroh lagi utk melanjutkan..:D

  3. ayu says:

    Ceritanya jadi keingat masa masa sekolah ku dulu…
    Hhmmm…membacanya jadi keingat masa2 ku disekolah dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s