Kasih Tak Berharap (1)

Posted: February 7, 2014 in story
Tags: ,

Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah. Penggalan syair dari Obie Mesakh itu senantiasa menjadi lantunan lagu terindah buat para mereka remaja yang lagi dirudung cinta. Begitupun hal nya dengan Wawan, salah satu siswa SMP Bahari di kota Payakumbuh. Sudah hampir 3 bulan ini perasaannya tidak menentu, ada perasaan senang setiap kali melihat gadis tersebut, apalagi kala berbicara dengannya. Perasaan apakah itu? Apakah itu yang nama nya cinta? Ingin ia mengungkapkan rasa ini, tapi dia belum terlalu percaya diri, takut kalau cinta nya ditolak. Gadis yang memesona nya itu adalah siswi di lokal sebelah, kelas VIII A, yang bernama Yuni.

Sebelumnya Wawan dan Yuni sudah cukup dekat sebagai seorang teman, tahun lalu mereka satu lokal saat masih kelas VII. Pada kelas VIII ini, mereka berbeda kelas, Wawan masuk kelas VIII C sementara Yuni ada di kelas VIII A. Semenjak kelas VIII ini, interaksi mereka pun jarang terjadi, palingan hanyalah ketika pinjam dan meminjam buku. Wawan amatlah senang kalau Yuni meminjam buku catatannya, entah apa alasannya Yuni meminjam ke dia, padahal dia bukanlah termasuk orang yang rajin mencatat. Setiap Yuni sudah mengembalikan buku pinjamannya, Wawan selalu memeriksa keseluruhan buku tersebut, berharap ada surat atau apalah yang ditemukannya yang berisi ungkapan hati Yuni, namun setiap selesai dipinjam buku nya tetap seperti sebelumnya, tidak ada perbedaaan sama sekali. Firasat Wawan mengatakan bahwa Yuni juga punya perasaan terhadapnya, hal itu terlihat dari tatapan matanya, senyumannya, ataupun kebiasaan Yuni yang suka minjam buku catatannya. Namun, Wawan bukanlah pria yang pemberani dalam mengungkapkan cinta, hingga suatu saat dia sudah melihat petanda yang jelas, saat itulah mungkin cinta ini akan terungkap. Hingga kemudian, saat hari ulang tahunnya, Wawan sudah menemukan tanda yang jelas tersebut.

Tanggal 11 Januari yang merupakan hari ulang tahun Wawan yang ke 14, Wawan menemukan sebuah kado dengan bungkusan indah diatas meja nya saat memasuki kelas usai istirahat. Sedikit kaget, siapakah yang menaruh kado ini? Seingatnya tidak ada yang tahu kalau hari ini adalah ulang tahunnya, dan memang sengaja ia tidak koar-koar kalau hari itu adalah ulang tahunnya sebab pasti bakalan banyak yang ngerjain kalau tahu bahwa hari itu ia ulang tahun.

“Don, lu tau yang naruh kado ini di meja gw siapa?”, tanya Wawan pada Doni teman sebangkunya yang lebih dulu ada di dalam kelas.

“Hmm, kurang tau gw Wan, tadi pas gua masuk kelas kado ini udah ada disini. Emang ini kado apaan ya? Eh, oh iya, lu kan sekarang ultah Wan? Sorry baru inget, hahaha, lu gak ngabar2i sih kalau mau ultah”, sambil merangkul Wawan mengucapkan selamat.

“iya, tanks Don, gw sengaja diam-diam aja biar kalian gak ngerjain gua,hahaha. Tapi gua masih penasaran dengan nih kado, gak ada namanya lagi”, sambil membolak-balik kado tersebut.

“Sudah, dibuka aja. Siapa tahu ada suratnya di dalam”, usul Doni kepada Wawan.

“Tapi gak apa-apa kan ya? Jangan-jangan isi nya bom, Bro”, masih menimang-nimang kadonya.

“Halah lu kebanyakan nonton film, apa untungnya nge bom lu”, jawab Doni sambil nyengir.

“Hahaha, sapa tau aja? Kalau gua kenapa-kenapa ini kan kelas gak ada ketuanya, maka terjadilah vacum power di kelas ini”, balas Wawan sambil sudah membuka kadonya.

Kemudian Wawan dan Doni sudah membuka bingkisan tersebut, yang ternyata berisi sebuh topi berwarna biru. Namun sayang tidak ada secuil kertas pun di dalam nya yang bisa menjelaskan siapa yang mengirimkan kado misterius tersebut. Beberapa saat kemudian, Rosi, siswi yang duduk disamping mereka datang menghampiri, dan menyampaikan pesan bahwa yang naruh kado tersebut adalah Rais, siswa di lokal sebelah. Dari Rais, Wawan mengetahui bahwa memang dia lah yang menaruh kado tersebut di meja nya, namun kado bukanlah dari Rais, tapi titipan dari salah seorang siswi meminta tolong kepada nya, siswi itu adalah si Yuni, jelas Rais. Bagai disambar petir, Wawan amat kagetnya. Dari mana Yuni tahu kalau hari ini ia Ulang tahun? Seberapa spesial dia dimata Yuni sehingga cewek tersebut ngasih kado pada nya? Dan sederet pertanyaan2 lain bermunculan di benaknya akan kenyataan yang baru dilihatnya ini.

“Yuni ngasih tahu ke lu nggak? Ia ngasih kado ini dalam rangka apa?”, tanya penasaran ke Rais.

“Ya karena lu ulang tahun lah, lu gimana sih?”, jawab Rais malah tanya balik.

“Ia gua tahu karena ulang tahun, tapi kenapa dia ngasih ke gua ya, emang kalau setiap yang ada ultah dia ngasih kado kali ya..”, Wawan masih penasaran, ekspresi heran tapi senang.

“Aduh Wan..Lu ini gimana sih? Masa’ gak paham-paham juga gitu lo?”, ungkap Rais sambil geleng-geleng kepala.

“Maksud lu? Paham tentang apaan?”

“Ihh, masa gak ngerti juga sih? Lu gak nyadar ya, si Yuni tu suka sama Lu”

“Ahh, masa’ sih? Gak yakin gua, hehehe”, Wawan mengibaskan tangannya.

“Aduh, lu pura-pura lugu deh, udah jelas banget Wan, Yuni suka sama lu, mending lu langsung tembak aja deh. Jangan digantung cintanya”

“Hehehe, kalau ditembak mati dong”, Wawan sambil berlalu kembali ke kelasnya karena bel selesai jam istirahat sudah berbunyi.

Wawan sama sekali tidak konsen mengikuti pelajaran saat itu, pikirannya masih pad kado yang diterima nya dan juga pernyataan dari Rais yang ia dengar tadi, apakah benar Yuni juga suka sama dia? Yang pertanda itu bahwa cinta nya tidak bertepuk sebelah tangan. Larut dalam lamunan, Wawan senyum-senyum sendiri dalam pelajaran di kelas tersebut, untunglah ia duduk di bangku belakang sehingga tidak diketahui guru tingkah aneh yang sedang dilakukannya.

Keesokan hari nya merupakan hari Jumat, yang sore nya diselenggarakan latihan Pramuka di sekolah. Bagi anak pramuka yang kelas VIII mereka sudah memperoleh kenaikan jenjang, yaitu menjadi semacam asisten pelatih. Begitupun hal nya dengan Wawan, sebagai salah seorang yang cukup aktif dalam kegiatan kepramukaan, ia juga memegang posisi itu dengan menghadonahi kelas VIIA. Yuni pun juga cukup aktif dalam kegiatan kepramukaan, hanya saja Yuni menjadi pelatih untuk kelas VIIE, terpisah jauh dengan kelas yang dihadonahi Wawan. Latihan pramuka saat itu berjalan lancar sebagaimana biasa nya, ada pelajaran baru dan lagu-lagu pramuka baru yang diajarkan ke siswa kelas VII. Hingga jam istirahat pun datang, break ini juga mengakhiri sesi yang dikelas, setelah break dilanjutkan dengan shalat ashar berjamaah dan arahan kepada seluruhan anggota yang dipimpin oleh pelatih utama. Wawan keluar kelas terakhir kali setelah membereskan berkas latihan tertulis dari anak pramuka kelas yang dibimbingnya. Kebetulan, kelas VIIA dan VIIE ada dalam satu deretan, kelas VIIA ada pada ujung barat, dan kelas VIIE ada pada ujung timur gedung. Saat Wawan melintasi kelas VIIE, jantungnya pun berdegup kencang demi melihat seorang kakak pelatih yang masih ada di dalam, yang lain tak bukan adalah siswi yang mempesonanya beberapa bulan belakangan ini. Niat hati ingin menghampiri ke dalam, tapi dia bingung mencari alasannya. Oh iya, dia belum mengucapkan terima kasih atas kado yang diberikan kemaren. Akhirnya perihal kado tersebut dijadikan alasan oleh Wawan untuk menyapa Yuni di dalam kelas tersebut.

“Haii..”, sapa Wawan pad Yuni mengawali percakapan.

“Haii Wawan”, balas Yuni dengan senyum manisnya yang mengepul.

“Hmm, mau tanya, kado yang kemaren, apa benar kamu yang ngasih kah?”

“Hehehe, iya..gimana? Wawan suka kan dengan kadonya?”

“Hmm..hmm, suka kok suka, hehehe”, demi melihat senyum Yuni, Wawan semakin runtuh hatinya.

“Yuni..ada yang pengen Wawan sampaikan”

“Yapp, mau nyampein apa Wan?”, tanya Yuni penasaran dan muka nya pun memerah.

“Hmm, jujur..hmm, Wawan..hmmm..”, Wawan masih terbata-bata dengan kalimatnya dan memandang ke lantai kelas yang tinggal mereka berdua.

“Hmm, Wawan..suka Yuni, apa Yuni mau jadi pacar Wawan?”,  Wawan berkata tegas dengan memandang ke lantai sambil memejamkan matanya.

Yuni pun masih tertunduk, pernyataan Wawan barusan sungguh amat mengagetkannya dan tak menyangka kalau laki-laki yang ada dihadapannya telah “menembak” nya sore hari ini. Yuni pun paham bahwa ia harus membuat keputusan karena Wawan menunggu jawaban dari nya. Dan Yuni pun menjawab pertanyaan Wawan yang gak disangkanya itu.

“Iya Wawan, Yuni juga suka sama Wawan, sangattt suka malah, hehehe. Dan Yuni siap jadi pacar kamu”, jawab Yuni malu dengan masih melihat ke lantai untuk menutupi muka nya yang merah. Bahkan sebenarnya Yuni sudah lama menunggu masa-masa seperti ini, masa dimana Wawan memintanya untuk dijadikan pacar.

Mulai saat itu, mereka pun menjadi sepasang kekasih, yang saling mengasihi satu sama lain.

…..

Bukan perjuangan kalau bukan cinta namanya. Menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih belia, bukanlah tanpa cobaan dan rintangan yang mereka lalui. Dua bulan berjalan semuanya begitu mulus saja, hari-hari yang terlalui dengan begitu indahnya. Tidak peduli, apakah perasaan itu hanya sekedar cinta monyet cintanya remaja, ataukah benar-benar cinta sejati yang terpatri dalam diri-diri masing-masing mereka. Hingga kemudian, sedikit kerikil pun itu datang menghampiri, untuk menguji seberapa kuatkah kekuatan cinta yang sedang mereka jalani.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s