Daqiqul Ied

Posted: January 7, 2014 in hikmah
Tags: ,

Ceritanya selain ikut ODOJ reguler, saya bersama dengan temen2 pengurus dan alumni MITI KM juga tergabung di group ODOJ sendiri, yang ketentuannya beda dari ODOJ reguler. Disini tak sekedar pencapaian target tilawah 1 juz per hari, tapi juga ada evaluasi QL nya, alma’surat nya, dan juga kecepatan dalam penyelesaiannya semua amalan tersebut. Moto nya adalah MJR-SJS (Malam Jadi Rahib, Siang Jadi Singa), keren kan..hehe. Maksudnya, amalan2 ibadahnya akan lebih baik sudah terselesaikan sebelum pagi, atau sebelum beraktifitas di Sekolah, Kuliah, Kerja, dll. Sehingga siangnya udah benar2 bisa optimal menyelesaikan tanggung jawab/amanah kerja di lingkungannya. Oh ya, selain secara berjamaah saling menguatkan dalam menjaga konsistensi amalan2 di atas, juga sering ada diskusi2 menarik di dalamnya. Salah satu nya adalah yang akan saya posting ini, ini adalah tulisan dari Sensei Edi Syukur (nyebut Sensei, karena beliau S1-S3 nya di Jepang) yang juga pencetus ODOK MJR-SJS ini. Ini adalah postingan beliau pada tahun 2010, dan masih relevan tuk di baca saat sekarang. Dan juga sudah ijin beliau utk posting ini di blog pribadi. Semoga bermanfaat dan terinspirasi. 

 

Sambil menunggu waktu appointment di hari kedua di Jogja pagi ini, saya mencoba menghabiskan waktu dengan membaca buku Syarah Hadits Arba’in karya Ibnu Daqiqul ‘Ied. Ini bukan pertama kali saya membacanya, tetapi entah mengapa saat membuka buku itu saya langsung teringat pada ibu, adik, istri saya yang sedang menunggu bersama lima orang “Jenderal” di rumah. Ingatan saya terbang pada kisah kenapa bapak sang penulis tersebut dinamakan Daqiqul ‘Ied.

Dalam satu riwayat, hiduplah seorang syaikh, ulama yang sangat terkenal pada jamannya. Mungkin cocok kalau di sebut da’i kondang atau da’i sejuta umat. Sebagaimana layaknya da’I kondang, beiau sering diundang untuk mengisi pengajian-pengajian. Suatu saat, selepas Ramadhan dan memasuki bulan Syawal beliau diundang untuk menjadi khotib memberikan khutbah ‘Iedul Fitri. Ketika sudah siap untuk berangkat ke lapangan, tiba-tiba sang istri mengatakan kepada suaminya tersebut, “Bang, di lebaran ini kita belum punya kue lebaran”. Beliau terdiam sejenak lalu menjawab, “Iya, nanti saya pikirkan!”. Begitu kira-kira isi percakapan singkat suami istri tersebut.

Singkat cerita berkhutbahlah beliau dengan penuh semangat dan berapi-api di depan khalayak ramai. Sampai satu saat dia mengatakan dengan tanpa sadar, ” Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, jadi dalam lebaran ini kita harus menyediakan “Daqiqul ‘Ied”. Semua orang yang mendengarkan khutbah beliau menjadi bingung terhadap pernyataan itu.  Sang syaikh pun terdiam sejenak. Beliau pun melanjutkan khutbahnya setelah dirinya tenang. (Daqiqul I’ed adalah kue lebaran).

Sesampainya di rumah, disambutlah beliau oleh istrinya seraya mengucapkan maaf, dengan mengatakan kira-kira, “Maafkan saya bang. Bukan maksud saya mengatakan itu tadi pagi untuk menjadi beban pikiran. “.

Begitulah kira-kira sepenggal kisah yang terjadi pada seorang ulama, yang atas kejadian tersebut beliau mendapat panggilan As Syaikh ad Daqiqul ‘Ied. “Syaikh Kue Lebaran”. Peristiwa sederhana (tuntutan dari keluarga) yang ternyata cukup memberikan dampak luar biasa pada seorang syaikh.

Pikiran saya juga melayang pada kisah di dalam Alquran tentang kebesaran Nabi Musa as yang ternyata dibelakang beliau ada 5 orang wanita yang sangat berperan dalam hidupnya, seperti diceritakan dalam surat Al Qoshosh, yaitu ibunya, adik perempuannya, Asiyah, dan kedua istrinya. Mereka adalah perempuan-perempuan super yang mendukung kerja dakwah Nabi Musa. Tanpa upaya, dorongan dan kerjasama mereka, dakwah tidak akan berjalan dengan mulus.

Ini yang terkadang tidak dipahami dan disadari dengan utuh oleh pasangan suami istri, bahwa tanpa dukungan full dari keluarga, agak sulit untuk bisa terus berkomitmen dalam dakwah. Saya selalu berusaha mencari penyebab kenapa terjadi banyak kecenderungan seseorang yang sangat idealis saat menjadi mahasiswa, namun luntur sedikit demi sedikit setelah berumah tangga. Dari beberapa pengalaman, saya mendapatkan dua hal mendasar yang menurut saya cukup signigicant.

Penyebab pertama karena azzam yang kurang kuat untuk hidup bersama dakwah. Azzam yang kuat sangat diperlukan oleh sebuah pasangan, terutama oleh suami karena suami berperan sebagai nakoda rumah tangga. Layaknya sebuah organisasi, bagaimana mungkin sebuah organisasi dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai visinya jika sang pemimpin tidak aktif, tidak menaruh perhatian terhadap organisasi dan lebih asyik dengan kepentingan pribadinya saja. Begitu pula halnya dengan kepala rumah tangga. Idealnya, kepala keluarga mengarahkan dan membawa roda organisasi rumah tangga ke arah yang akan dituju, dan pasangannya memberi dukungan maksimum untuk mendukung seluruh aktifitas ke arah tersebut. Jika dalam satu kondisi sang kepala keluarga kehilangan arah, pasangannya harus sesegera mungkin mengingatkannya dan mengembalikan ke arah yang sebenarnya. Kita tidak berharap keduanya berada dalam kondisi kehilangan arah.

Kedua, terlalu menuntut sesuatu yang berlebihan terhadap pasangan. Kondisi seperti ini banyak terjadi pada pasangan muda walaupun tidak menutup kemungkinan terjadi pada pasangan yang sudah lama. Awalnya mungkin hanya tuntutan yang kecil, tanpa sadar terus tuntutan itu berubah menjadi besar secara bertahap.

Dalam beberapa kasus, mundurnya seorang aktivis dakwah perlahan-lahan berawal dari hal-hal yang sangat simple. Sebagaimana kita ketahui, seorang perempuan lebih cenderung menggunakan perasaan dibandingkan logika (maaf, ini bukan masalah gender lho ya). Perasaan ini dapat menjadi senjata untuk menaklukan sang suami dengan merengek-rengek. Sebagai contoh misalnya, sang istri minta diantar ke liqo, minta diantar belanja, minta dibeliin ini, minta itu dan urusan kecil lainnya. Umumnya ini terjadi pada pasangan-pasangan muda. Parahnya sang suami menuruti saja seluruh keinginannya, walaupun harus mengorbankan kegiatan dakwah dirinya. Dalam pikirannya mungkin, kapan lagi menyenangkan istri? Padahal kalau dipikir-pikir, waktu belum menikah dia biasa pergi kemana-mana sendiri. Kenapa pula setelah menikah harus selalu minta diantar? Sekali dua kali mungkin masih wajar, tetapi tidak jarang hal itu menjadi sebuah kebiasaan.

Seminggu, dua minggu, satu bulan sang pasangan muda makin asyik dengan kehidupan barunya. Sedikit demi sedikit waktu di luar jam kerja yang tadinya dipakai untuk memikirkan kerja-kerja dakwah terkikis sedikit demi sedikit. Perhatian lebih banyak diberikan kepada pasangan dengan alasan agar dapat lebih mengenal pasangan. Tak terasa waktu berjalan cepat, di bulan keempat atau kelima sang istri hamil. Perhatian suami kepada istrinya pun makin bertambah. Suami tidak tega melihat kondisi sang istri yang kepayahan. Sang istri pun menikmati perhatian suaminya tanpa sadar terhadap efek sistemik yang akan terjadi. Kisah heroik perjuangan ibunda Khonsa yang dulu hafal luar kepala hilang dalam ingatannya. Dalam benaknya, toh hal ini tidak akan lama. Setelah anak pertamanya lahir, semua akan kembali normal seperti sedia kala. Di satu sisi, sang suami makin menikmati kegiatan menuggu kelahiran sang anak, tanpa sadar bahwa kereta dakwah sudah melaju sedemikian cepat. Ruang lingkup kegiatannya pun makin terbatas, ditambah tuntutan pekerjaan yang makin menyita waktunya.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, sang anak hadir di permukaan bumi. Makin semaraklah kehidupan pasangan muda ini. Perhatian sang suami makin bertambah, tidak lagi kepada istri tapi juga kepada anaknya. Sang suami makin berat meninggalkan keluarga, apalagi saat sang putra pertama sakit… dan seterusnya .. dan seterusnya. Akhirnya sang suami benar-benar meninggalkan seluruh kegiatan dakwahnya yang awalnya hanya disebabkan karena hal yang sepele. Kalau pun tidak meninggalkan kegiatan dakwahnya, dia menjadi sedemikian pelit untuk memberikan waktu yang benar-benar fresh untuk dakwah dengan alasan keluarga dan profesinya.

Contoh di atas memang ilustrasi saja. Itupun dibuat dengan amat sangat extra super lebay bangets! Akan tetapi, kasus yang mirip dengan hal itu pernah. Hal ini sebetulnya bisa dihindari jika pasangan itu mempunyai azzam yang kuat untuk tetap menghidupi dakwah. Sang istri juga tidak menggunakan perasaan-perasaan yang berlebihan yang dapat membuat sang suami berada dalam posisi bimbang antara memilih untuk terus aktif atau memberi perhatian yang lebih besar pada keluarganya.

Ada sebuah kisah nyata, tentang seorang al akh yang cukup strik terhadap istrinya. Pada hari pertama setelah menikah, dia langsung minta maaf kepada istrinya. “Maafkan karena saya sebelum ijab qabul hari ini, saya sebetulnya sudah menikah. Saya sudah menikah dengan dakwah dan berjanji setia untuk senantiasa bersamanya. Dia tidak memerlukan saya, tetapi saya yang memerlukan dia. Saya tidak mungkin meninggalkannya.  Pikiran dan perhatian saya juga akan lebih banyak tercurah ke sana . Kita tidak mungkin bersama terus 24 jam, jadi semua hal yang bisa kita lakukan sendiri, kita harus bisa dilakukan sendiri. Saya bisa bisa pergi kapan saja sesuai keinginan dia”, begitu kira-kira kata-kata yang keluar kepada istrinya.

Beberapa waktu setelah menikah, kemudian dia mengajak istrinya tinggal di Jepang. Tiba di Narita Airport, al akh tersebut tidak langsung mengajak istrinya ke apartemen, tetapi naik diajak ke satu tempat anjungan bandara. Di tempat itu, dia mengatakan, “hari-hari saya di Jepang sangat sibuk. Senin sampai Jumat, full di lab. Sabtu sampai minggu jadwal kegiatan sudah full kegiatan di luar. Saya tidak akan dapat mengantar kemana-mana, seperti kesepakatan kita, hal-hal yang bisa dilakuan sendiri, kita lakukan sendiri”. Esok paginya, dia melatih istrinya yang tidak bisa bahasa Jepang, cara membeli tiket kereta, cara naik bis, cara berbelanja di supermarket, membeli minuman di jidouhambaiki (vendor machine) dan lain-lain. Sang istri pun bukan seorang perempuan yang cengeng. Dia menjalani semua kehidupan di negeri yang membuatnya jadi tuli dan buta huruf dengan tegar. Saat sedang hamil pun tidak masalah baginya untuk pergi sendiri menempuh jarak yang cukup jauh. Konon katanya sampai menjelang kelahiran anaknya pun masih wira wiri ke sana kemari.

Ada seorang ibu yang bercerita, saat anak pertamanya lahir pun ternyata tidak menjadi halangan. Ada sebuah kejadian yang cukup unik. Satu saat, dia harus pergi ke satu kota yang cukup jauh dari rumahnya, padahal sang anak baru belum lagi berusia 4 bulan. Lokasi yang harus ditempuhnya mencapai 3 jam perjalanan (1 jam kereta dan 2 jam bus), ditambah lagi dia tidak bisa baca kanji dan tidak bisa berbahasa Jepang. Sesampainya di lokasi acara, ternyata yang ribut adalah ibu-ibu yang mengundangnya. Mereka tidak percaya anaknya yang belum 4 bulan itu sudah diajak jalan sejauh itu dalam kondisi cuaca yang sangat dingin.

Pada saat yang lain, ketika sang suami pergi ke satu tempat, sang putra pertama jatuh sakit. Badannya panas cukup tinggi. Pada saat ditinggalkan memang sudah dalam keadaan panas tinggi. Sang istri nampaknya agak panik, kemudian dia menelpon suaminya agar segera pulang dan minta diantar ke rumah sakit. Akan tetapi, sang suami hanya mengatakan agar membawa anaknya itu ke klinik di seberang rel rumahnya. Hampir semua orang yang ada di dekat sang suami menyarankan agar dia segera pulang, tetapi jawabannya cukup mengejutkan. “Akh, jarak dari sini ke rumah hampir seharian. Kalau nunggu saya pulang mungkin panasnya masih tinggi dan mungkin bisa terlambat. Kalau sekarang di bawa ke dokter, dokternya insya Allah bisa mengobati. Dokter di dekat rumah itu dokter yang sudah veteran dan sudah tuli, usinya sudah lebih dari 70 tahun. Dia sudah sangat pengalaman. Kalau saya datang pun, dokter itu gak mendengarkan omongan saya. Jadi, walaupun istri saya datang ke dokter itu dan tidak ngomong apa-apa pun, dengan melihat gejala klinis bayi insya Allah dokter itu sudah bisa memberi obat. Kalau antum jadi  saya, pilih mana? Inget gak kisah Hasan Al Banna. Satu saat beliau sedang berdakwah, sang putra ternyata meninggal dunia. Saat itu beliau sedang memberikan ceramah, di satu tempat. Dia tidak menghentikan ceramahnya, hanya menuliskan beberapa kata yang isinya untuk segera mengkafani, menyolatkan dan menguburkan. Dia sendiri tidak pulang. Selain itu, istri saya itu seorang doker. Sebetulnya dia tahu apa yang harus dilakukan. Hanya saat ini dia lebih banyak menggunakan perasaannya, karena yang sakit adalah anaknya sendiri. Saya hanya ingin memberi saran agar dia juga menggunakan logika kedokterannya saja”. Hmmmm.. yang lain pun hanya bisa terdiam seraya berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan sang putra al akh tersebut.

Hmmm, saya tidak bisa membayangkan jika ibu, adik, istri dan anak-anak saya tidak mendukung kegiatan saya. Mungkin saya sudah tergerus dengan kejamnya waktu dan asyik dengan dunia ‘autis’ saya sendiri. Kisah-kisah ini yang mengingatkan saya pada istri di rumah yang telah sangat berperan dalam berbagai aktifitas saya. Teringat akan begitu banyak pengorbanan yang telah diberikannya selama ini. Saat saya tertawa bercanda dengan teman-teman, dia begitu sabar menghadapi lima orang “Jendral” yang senantiasa mengeluarkan perintah. Saat saya berkibar-kibar di luar rumah, berkelana dengan ide-ide dan pikiran-pikiran lainnya, dia berputar-putar laksana kitiran di dalam rumah dengan urusan rumah tangga yang tak kunjung habis. Begitu banyak kesulitan yang dia hadapi namun sedikit sekali keluhan yang keluar dari mulutnya, sama sedikitnya dengan apresiasi yang keluar dari mulut ini.

11 Feb 2010 (ES)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s