Perjuangan Penyelesaian Karya Tulis Kesarjanaan [2]

Posted: October 31, 2013 in In memorian
Tags: ,

Owh, Ok, I’ve posted the first part several months ago, and I just continue it now for the second part, and still to be continued, hehehe. hopefully it’ll be finished immediately.

This is link for the first part.

https://anggiawan23.wordpress.com/2013/08/01/perjuangan-penyelesaian-karya-tulis-kesarjanaan-1/

 

Sebenarnya, aku sudah punya bayangan terkait tema yang akan diangkat. Sebelum bertemu dengan Pak Taura, aku sudah mempersiapkan beberapa judul, dengan mereferensi pada skripsi-skripsi pada tahun sebelumnya yang dengan mudah bisa ditemukan di perpustakaan fakultas. Aku tidak mempunyai taret yang muluk-muluk untuk skripsi ini, yang penting bisa selesai dengan secepatnya sehingga bisa wisuda tepat waktu. Maka, aku mencari judul dengan tema yang terkesan biasa, mudah diperoleh datanya, gampang menemukan referensi tinjauan teorinya, serta tidak sulit untuk dianalisis. Saat ini, beberapa sisi keidealismean ku pun sudah mulai memudar. Idealisme yang dimaksud adalah bahwa mimpi ku dulu adalah menghasilkan skripsi yang berkualitas, memiliki dampak kebermanfaatan sehingga ada nilai kontributifnya, dan juga bisa diterbitkan untuk menjadi sebuah buku. Namun, realita pun berbicara, kebelakang banyak realisasi target2 akademisku yang diluar prediksi, sehingga yang ada dalam bayangan ku saat itu adalah yang penting skripsinya selesai, bisa disidang, dan memperoleh tiket wisuda. Ahh, betapa paragmatisnya diri ini.

Aku pun mengajukan proposal pada DPS ku seminggu kemudian. Tema yang ku angkat adalah mengenai Penilaian Kesehatan Bank Syariah. Sebuah skripsi yang secara konsep mereplikasi skripsi terdahulu, hanya saja aku modifikasi beda subjek bank syariah dan beda tahun anggarannya. Setelah menerima proposalku, Pak Taura tidak berkomentar banyak, langsung diparaf serta juga surat prsetujuan sebagai pembimbing skripsi untuk disubmit ke bagian akademik. Aku cukup sumringah saat itu, kalau skripsi ini disetujui berarti skripsiku bisa lebih cepat diselesaikan pikirku.

Selanjutnya, aku pun berfokus untuk melanjuti skripsi ini. Kalau dikerjakan lebih cepat nanti pas KKN aku bisa lebih berkonsentrasi pada KKN pikirku. Waktu dua minggu lebih dari cukup untuk menyelesaikan BAB 2, yaitu Landasan Teori. Namun malang nian, Bapaknya cukup sibuk sehingga tidak pernah bertemu setiap kali ke ruangannya saat jadwal konsultasi. Sayangnya setiap SMS tidak pernah di balas, telepon tidak pernah diangkat. Pak Taura termasuk dosen yang saklek untuk jadwal konsultasi skripsi ataupun thesis bagi mahasiswa S2. Beliau hanya mau berkonsul sesuai jadwal yang telah di tetapkan, yaitu Selasa dan Kamis pada pukul 11.00-13.00, diluar hari jangan harap untuk diladeni. Nyatanya, aku baru bisa bertemu dengan Pak Taura satu bulan kemudian, kemaren-kemaren ini ternyata ia keluar kota. Aku mengajukan sekalian hingga BAB 3 Metode Penelitian. Sebenarnya aku pun sudah mulai mengangsur penulisan BAB 4, hanya saja tidak aku ajukan karena selain belum selesai kalimatnya pun masih acak-acakan belum ku edit. Dengan berpatokan pada proposal yang sudah aku ajukan sebelumnya, seharusnya BAB-BAB tersebut sudah bisa disetujui keculi mungkin pada redaksi penulisan yang berbeda.

Aku cukup deg-deg an melihat raut muka DPS ku tersebut saat membaca serta membolak balik skripsiku. Dia terlihat mencoret beberapa bagian. Aku curiga apa jangan-jangan ada kesalahan fatalkah?

“Skripsimu ini terlalu biasa, skripsi untuk penilaian kesehatan bank ini sudah banyak dilakukan, bahkan Bank Indonesia pun melakukan dengan cara metode CAMEL seperti yang kamu ajukan. Tanpa kamu menulispun sudah bisa diperoleh data nya”, komentar Pak Taura.

Aku pun terdiam, bingung harus jawab apa.

“Coba kamu baca-baca lebih banyak jurnal lagi, terutama jurnal-jurnal luar negeri. Coba cari penilaian kesehatan bank yang memperhatikan pada aspek syariahnya. Kalau CAMEL ini sama seperti penilaian atas bank konvensional. Seharusnya kamu mencoba untuk mengkritisi BI atas cara mereka melakukan penilaian terhadap Bank Syariah, jangan malah bereferensi utama ke situ”, lanjut Bapaknya seperti memahami kebingunganku.

“Baik Pak , nanti coba saya searching dulu”, jawabku sambil mengambil skripsi tersebut.

Keluar ruangan, hampa terasa seluruh jiwa. Ini diluar prediksi, aku harus merombak semuanya, khususnya metode skripsi tersebut. Atau juga bisa disebut ganti judul. Salah satu statement yang sangat menohok dari pak Taura adalah bahwa “skripsiku ini biasa-biasa saja”. Beliau minta lebih, yang berarti aku pun harus memerlukan keseriusan lebih untuk penulisannya dan juga butuh waktu yang lebih banyak. Sesudah itu, aku baru sadar, sepertinya memang harus menunda wisuda lagi. Apa yang terjadi diluar prediksi.

Dan benar terbukti, sebulan berlalu pun  aku pun belum berani bertemu dengan Pak Taura, karena belum menemukan jurnal yang pas dengan metode yang diinginkan. Selain itu konsentrasiku pun terpecah untuk mempersiapkan KKN, yang mana aku sebagai leader disana dan parahnya lagi juga ada banyak ketidakberesan pada awal-awal KKN ku ini.

Dan aku pun sudah memasuki masa-masa KKN (April-Mei). Aku sengaja memilih lokasi KKN yang dekat yaitu di Magelang Borobudur sehingga bisa nyambi menyelesaikan skripsi dan kalaupun ke kampus jaraknya dekat. Yahh, yang namanya rencana ya rencana doang. 2 bulan KKN, skripsiku blas gak tersentuh sama sekali bahkan tidak terpikirkan. Segala pikir dan konsentrasiku terkuras ke KKN.

KKN pun berakhir, aku kembali mencoba menata pikiran serta fokus pada skripsi di sisa waktu yang tersisa. Berkutat di perpustakaan magister FEB mencoba mencari jurnal ataupun artikel yang bisa dijadikan referensi untuk dijadikan model penelitian. Ingin rasanya bikin model sendiri aja, tapi apa iya bisa, tentunya malah dipertanyakan keakuratannya, secara masih anak S1 kok bisa-bisa nya bikin model ekonomi. Juni pun mulai mendekati masa akhir, dan aku bahkan belum menemukan sama sekali jurnal yang diinginkan. Sudah 6 bulan berjalan, dan skripsiku jalan di tempat. Mama sudah berapa kali telepon perkembangannya, sayang jawabanku mengecewakan.

Saat-saat gundah gulana tak menentu tersebut, saat jalan pulang dari kampus aku ketemu dengan Didin, teman seangkatan dan sejurusan. Ia mengajak untuk naik gunung, gunung Lawu. Wah, naik gunung merupakan salah satu keinginanku yang belum kesampaian, senang rasanya ada ajakan naik gunung kali ini. Tapi aku berpikir lagi, skripsi sedang mentok ini dan lagi ngejar target. Tapi malah si Didin membantah, justru itu bro katanya, dalam kejenuhan itu perlu refreshing agar bisa mikir lebih tenang dan segar sehingga bisa lebih optimal lagi penyelesaian skripsinya. Sejenak aku berpikir, benar juga katanya, dan aku pun mantap menerima tawarannya untuk naik gunung Lawu.

Naik gunung merupakan pengalaman baru dan berkesan bagiku. Dari atas gunung, makin terlihatlah kuasa Allah atas keindahan ciptaanNya. Di atas gunung aku sempatkan untuk bermuhasabah dan bermunajah. Dari atas gunung Allah terasa makin dekat, walau sejatinya Allah selalu amatlah dekat dengan hambaNya.

“Ya Allah, berilah kekuatan dan kesabaran untuk menyelesaikan skripsi ini, dan berikanlah keberkahan dan kemudahan di dalamNya”, demikian bisikku dalam doa.

(bersambung)

Comments
  1. […] Perjuangan Penyelesaian Karya Tulis Kesarjanaan [2] […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s