Perjuangan Penyelesaian “Karya Tulis Kesarjanaan” (1)

Posted: August 1, 2013 in curcol abiss :D
Tags: ,

skripsi

Karya Tulis Kesarjanaan atau yang lebih kita kenal dengan skripsi menjadi momok yang menakutkan bagi hampir sebagian besar mahasiswa yang akan menyelesaikan studinya di kampus. Banyak kasus ditemukan, seseorang mahasiswa lulusnya menjadi jauh lebih terlambat hanya gara-gara skripsi ini. Dengan sebab yang bermacam-macam, mulai dari judul yang sudah beberapa kali diajukan tidak di acc pembimbing, mentok ide, tidak menemukan referensi, hingga tulisan yang tidak kunjung selesai karena gagap dalam merangkai kalimat-kalimat. Bahkan aku pernah dengar cerita, ada salah seorang senior di kampus dulu yang mana kuliah kelasnya sebenarnya sudah selesai dalam 3 tahun, tapi baru diwisuda 7 tahun kemudian, berarti ia untuk menyelesaikan skripsinya butuh 7 tahun. Tapi senior tersebut kasus khusus, skripsinya molor karena ia langsung ditawari kerja saat masih menyusun skripsi, sehingga skripsinya terlantar gara-gara sibuk di pekerjaannya. Pada intinya, dianggap sebagian besar mahasiswa merupakan salah satu variabel paling berpengaruh untuk meraih gelar kesarjanaan. Wajarlah kiranya banyak mahasiswa yang sangat bahagia ketika ada isu skripsi ini bisa diganti dengan alternatif lain seperti dengan pengambilan mata kuliah kelas. Tapi sepertinya hal itu tidak pernah kejadian, bahkan sebaliknya aku pernah dengar syarat kelulusan ditambah dengan harus publish di jurnal ilmiah. Wah, kalau itu benar-benar kejadian lebih banyak lagi yang nunggak kelulusannya tuh, hehehe.

Tetapi, disamping banyak yang berkeluh akan skripsi ini, ternyata ada sebagian kecil mahasiswa yang ia merasa enjoy-enjoy aja jika sudah tiba saatnya menulis skripsi. Mereka adalah yang sudah terbiasa melakukan penelitian dan mengikuti lomba-lomba penulisan karya ilmiah. Bagi mereka, skripsi hanya seperti karya tulis biasa aja karena menulis yang lebih berat dan lebih ilmiah dari skripsi pernah mereka lakukan. Kalaupun skripsinya juga lama  kelarnya, itu terlebih karena mereka punya target kualitas tersendiri terhadap skripsinya tersebut, seperti bisa di publish di jurnal, atau bahkan dapat dicetak menjadi sebuah buku. Tidak level bagi mereka menulis skripsi dengan standar biasa-biasa saja. Aku punya salah seorang senior di kampus dulu, yang mana skripsinya tersebut saat disidang pendadaran dikomentari penguji bahwa skripsi nya tersebut tidak layak untuk disebut karya mahasiswa S1, lebih cocok disebut disertasi mahasiswa doktoral. Dan skripsinya tersebut pun dibukukan, terakhir aku dengar sih udah mau masuk ke penerbitan, tapi gak tahu sekarang sudah beredar belum ya karena belum pernah melihat juga.

Alhamdulillah, aku sudah melewati masa-masa kritis tersebut, aku sudah di wisuda dengan predikat cumlaude, dan sekarang pun sudah bekerja dengan penghasilan yang lebih dari cukup. Namun, tidak ada salahnya sekedar aku tulis ulang di blog ini, secara pribadi buat bikin ketawa ketika udah dibaca pada saat beberapa tahun kedepan. Bagi khalayak khususnya yang masih  berjuang menyelesaikan skripsi, semoga aja menjadi inspirasi untuk lebih males ngerjain skripsinya, hehehe. Ya, males ngerjain skripsi karena keasyikan baca blog sehingga skripsinya terlantarkan. Hey jangan nge blog mulu, kerjain skripmu sana, hahaha.

Oke, cerita berawal pada Januari 2011. Saat itu merupakan akhir dari semester ke 7 buat ku, yang mana kuliah kelas ku sudah selesai semua. SKS ku tinggal penyelesaian skripsi dan KKN. Yang lucunya adalah aku belum memulai skripsi sama sekali, bahkan memikirkan judul pun belum. Beda banget dengan beberapa temanku yang diantara mereka sudah mempersiapkan untuk sidang pendadaran karena akan di wisuda Februari nanti.

Dulu, saat masih di semester 1, di lifeplan ku jelas tertulis bahwa diwisuda pada bulan Februari 2011. Kemudian, pada awal tahun 2009 aku terpilih menjadi Ketua Umum SEF, dengan pertimbangan amanah ini aku merevisi kelulusan menjadi bulan Mei 2011. Kemudian, setelah berakhirnya amanah sebagai Ketua SEF, pada awal 2010 aku terpilih lagi sebagai Presiden UKM Gama Cendekia. Gegara ini aku terpaksa merevisi beberapa life plan, termasuk target wisuda yang harus dimundur lagi menjadi bulan Agustus 2011. Seharusnya pada awal semester 7 ini skripsi ku sudah memasuki BAB 3, sehingga aku bisa lebih banyak berkonsentrasi pada KKN yang akan dijalani ditengah semester. Namun, kenyataannya adalah aku bahkan belum memikirkan judul dan belum mempunyai pembimbing. Sulit kiranya jika ingin tetap lulus bulan Agustus nanti sementara satu huruf pun belum ada tertulis di lembaran skripsi. Namun saat itu aku meyakini prinsip orang optimis,”ini memang sulit, tapi bisa dijalani”. Tidak ada revisi life plan, Agustus musti wisuda, demikian tekadku. Planning bulanan akademispun sudah aku siapkan: Januari-Februari (proposal penelitian), Maret BAB 2, April-Mei Pelaksanaan KKN dan nyambi skripsi dengan BAB 3 selesai, Juni skripsi selesai, Juli Sidang Pendadaran, Agustus Wisuda. Wow, perencanaan yang matang pikirku saat itu yang mana beberapa bulan kemudian baru kusadari bahwa planning tersebut gagal total, dan memang benar-benar perlu direvisi. Kenapa sebab?

Pada bulan Maret 2011, ternyata aku diberi amanah lagi untuk menjadi Presidium Kepemimpinan SCCF, suatu amanah yang sulit aku terima sebenarnya. Dan lagi, life plan kelulusan pun kembali aku revisi, jadi wisudanya September aja, karena kalau mengejar Agustus hampir mustahil. Fokus pikiran aku makin bercabang, mikirin skripsi, KKN yang kebetulan aku juga menjadi Kormasitnya, kemudian ditambah sebagai presidium kepemimpinan ini yang juga sebagai koordinator 3 presidium lainnya. Ditambah lagi, sudah bulan Maret, skripsi ku masih jalan ditempat.

Awalnya, proses pengerjaan skripsiku berjalan lancar. Pertama, pencarian dosen pembimbing, aku ingin memilih sendiri agar ada kecocokan dengan dosen tersebut, kalau mau praktis sih bisa aja dengan dipilihkan secara otomatis oleh sistem akademik fakultas, namun aku gak mau ambil risiko itu jika yang tersisa dosen yang “ditakuti”. Dosen pembimbing pilihanku jatuh pada Pak Taura, memilih beliau karena salah dosen yang bisa klop dengan tema yang akan aku ambil. Sebagaimana yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa aku pernah aktif di kelompok studi ekonomi islam di kampus, dan menjadi ketua disana. Menjadi suatu beban moral perihal pembuatan skripsi, yaitu dengan mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan ekonomi syariah. Pak Taura merupakan salah dosen yang concern terkait ekonomi syariah, khususnya akuntansi syariah karena beliau berbackground akuntansi. Saat ditemui pertama kali, alhamdulillah Pak Taura bersedia untuk menjadi Dosen Pembimbing Skripsi (DPS) ku, dan aku pun diminta untuk segera membuat proposal penelitian untuk segera di submit ke bagian akademik sehingga saat proses input KRS Pak Taura sudah teravailable menjadi DPS ku secara formal.

(bersambung)

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s