Job Seeker #5 (tamat)

Posted: June 10, 2013 in In memorian

Sebenarnya, saat memberitahukan Mama bahwa setelah tes kesehatan aku langsung pulang ke Yogya, mendapat ketidaksetujuan dari Mama, ia lebih mengerekomendasikan untuk stay di Jakarta aja dulu, karena kemungkinan pengumumannya tidak akan lama. Akan tetapi, sehubungan dengan ada banyaknya hal yang harus aku selesaikan di Yogya, maka aku bersikeras untuk tetap ke balik ke Yogya. Adanya banyak hal yang perlu aku kelarkan adalah sehubungan dengan amanahku yang belum berakhir yaitu sebagai Presidium Kepemimpinan SCCF UGM. Akhir tahun merupakan masa-masa suksesi lembaga yang aku hadonahi, tentunya kondisi ini menuntut peran yang masif dari masing-masing presidium terhadap lembaganya, khususnya adalah Presidium Kepemimpinan yang nota bene adalah aku sendiri. Suksesi lembaga sejatinya penentuan Ketua baru lembaga tersebut, nah tentunya butuh pendampingan ke masing-masing lembaga agar tersedia stock kepemimpinan yang cukup di lembaganya. Untuk itu aku bersama Presidium yang lain telah mempersiapkan beberapa agenda dalam rangka pendampingan ke lembaga-lembaga di bawah naungan SCCF tersebut, diantaranya adalah jaulah ke tiap lembaga, pemberian award untuk lembaga terbaik, dan Leadership Camp. Dan yang sedang berjalan adalah jaulah ke tiap lembaga tersebut, lebih dari seminggu aku meninggalkan Jogya, sudah seminggupun vakum berjalan jaulah lembaga nya, yang lakukan hanya komunikasi jarak jauh via phone dengan presidium lainnya.

Tanpa terasa, seminggu pun berlalu sejak tes kesehatan di Jakarta tersebut, akupun sibuk dengan rutinitas-rutinitas ke kampus (walau sudah lulus dari kampus, tapi masih ngurusin kampus). Hingga saat itu, hari Rabu kalau nggak salah, saat lagi asyik bersantai siang hari di Dorm, HP ku berdering dengan nomor depan 021, jantungku pun berdegup kencang apakah ini dari Pertamina? Segera aku angkat panggilan tersebut, dan benar saja suara dari seberang sana menyampaikan kabar bahwa aku lolos tes kesehatan dan diundang untuk menghadiri Wawancara dengan Direksi pada hari Jum’at nya. Segera saja aku buka email di Laptop, di list pertama inbox ada dari recruitment Pertamina dengan subjek undangan Wawancara dengan Top Management yang diselenggarakan pada hari Jumat pukul 12.30 WIB. Demi melihat jadwal wawancara yang pada siang hari tersebut, aku berhitung dengan waktu, berarti aku setidaknya nyampe disana pada Jumat pagi, dengan demikian aku putuskan untuk berangkat dari Yogya pada Kamis malam, sehingga bisa nyampe pagi di Jakarta, istirahat sejenak di kos kakakku dan tancap gas ke kantor pada siangnya. Saat itu segera saja aku bangkit dan tancap motor ku si Hitam ke stasiun Lempuyangan, semoga masih tersisa tiket kereta untuk Kamis malam.

Untunglah masih tersedia tiket ke Jakarta untuk Kamis malam, namun alangkah kagetnya aku karena pada besok harinya, orang HR nya menelpon ku lagi dalam rangka memberitahukan bahwa jadwal interviewnya dirubah menjadi Jumat pagi pukul 07.00 WIB. Mengetahui hal demikian, aku sempat protes ke orang HR nya karena sudah terlanjur beli tiket pada Kamis malam yang diperkirakan bisa sampai di Jakarta pada subuh hari Jumat. Namun hal itu sangat riskan untuk terlambat, tahulah kalau tidak telat bukan kereta api Indonesia namanya. Orang HR nya memberikan penjelasan bahwa ada perubahan jadwal dari Direkturnya. Saat itu aku meminta kompensasi izin terlambat dan menterakhirkan jadwal interview buatku, dan alhamdulillah orang HR nya pengertian dan akan mengkondisikan hal tersebut. Syukurlah, aku bisa tenang sehingga bisa fokus pada mempersiapkan diri untuk menghadapi wawancara nantinya.

Tanya sana sini dengan senior kampus yang sudah pernah interview Top Management, aku mendapat bocoran bahwa sejatinya interview kali ini lebih untuk mengukur akan konsistensi serta komitmen kita untuk bekerja Pertamina. Pesan dari salah seorang senior adalah bahwa kita harus bisa meyakinkan direkturnya kalau kita amat siap di Pertamina, bahkan dengan menyebutkan permisalan jikalah perusahaan itu dalam kondisi collaps, kita masih tetap stay disana bersama sedikit orang yang memperjuangkan keberlanjutan perusahaan. Idealis memang, tapi nanti aku akan menjawab semampuku aja dan sesuai dengan kondisi yang ada, serta mencoba merelevansikan antara bekerja Pertamina dengan cita-cita (life plan) yang aku miliki, sehingga nanti terlihatlah kesungguhan ku untuk bekerja di perusahaan minyak negara ini.

Kamis malam, aku berangkat ke ibukota dengan Kereta Ekonomi AC Gajah Wong, semoga aja tidak ada halang rintang di jalan sehingga bisa sampai di Jakarta sesuai jadwal, ucap batinku berharap. Benar saja, keberuntungan masih ada di pihakku, selama perjalanan tidak terjadi apa-apa dan aku bisa sampai di Jakarta pada subuh harinya. Dari stasiun Gambir aku menuju Masjid Istiqlal, sesuai rencanaku aku akan bersih-bersih diri di istiqlal aja, karena kalau aku ke kost kakakku dulu sudah dipastikan akan terlambat. Pikirku istiqlal pagi-pagi ini masih sepi pengunjung, sehingga aku bisa mempergunakan kamar mandinya dengan optimal. Namun nyatanya, sesampainya di plataran parkir masjid, diluar dugaan ramai sekali wisatawan disana. Yang lebih kaget saat aku masuk ke kamar mandinya, ternyata pada ngantri disana. Aku baru sadar, ternyata yang memanfaatkan layanan tempat mandi gratis ini tidak hanya aku aja, ada banyak rombongan yang lagi Tour ke Jakarta, memanfaatkan tempat ini untuk membersihkan diri. 15 menit menunggu akhirnya aku memperoleh satu kamar mandi, segera bersih-bersih diri dan mengganti pakaian dengan kemeja, celana bahan, tampilan serapi mungkin sehingga siap untuk diwawancara. Aku percepat selesainya semua urusan, karena tahu bahwa juga banyak orang ngantri di luar.

Waktu menunjukkan pukul 06.45 WIB, aku berjalan dari istiqlal menuju Kantor Pusat Pertamina. Sebenarnya jaraknya amatlah dekat, tetapi berhubung gerbang masjid yang merupakan akses ke Pertamina jam segini masih tertutup, terpaksalah aku melewati gerbang utama yang harus memutar dulu untuk ke kantor, sehingga baru sampai di kantor 15 menit kemudian. Sebagaimana intruksi sebelumnya, bahwa interview dilaksanakan di gedung utama lantai 6, segera aku menuju kesana bersama dengan Sony, teman sesama FEB UGM yang kebetulan juga lolos interview saat itu, tapi proses test nya dia kebelakang diselenggarakan di Yogyakarta. Sesampainya di lantai 6, kaget juga ternyata juga sudah datang peserta test lainnya yang ternyata juga adalah sesama alumi di FEB UGM, bahkan bareng wisuda malah. Aku pikir yang hanya akan di test hanya yang lolos saat tes kesehatan kemaren, ternyata digabung yang hasil tes yang diselenggarakan di Yogyakarta. Jadilah ada 6 orang yang akan diwawancara saat itu, uniknya 5 diantara kita adalah alumni FEB UGM semua, dan satu dari FE Unpad.

Setelah menunggu hingga satu jaman lebih, salah satu orang HR nya keluar dan menyampaikan bahwa wawancara diundur hingga siang nanti, berhubung Bapak Direkturnya ada acara lain. Semua dari kami berucap, Yahhh, dag dig dug jantungnya tambah makin lama deh.

Seusai shalat Jumat, kami berkumpul lagi di lantai HR. Setelah sekitar jam 2an lebih baru kita diantar ke ruangan direktur keuangan.  Ada info baru lagi ternyata, Direktur Keuangannya tidak bisa, sehingga yang mewawancara adalah Senior Vice Presiden nya, yaitu Bapak Budi Himawan dan Bapak Purwo. Satu per satu dari kami dipanggil, dan aku mendapatkan urutan ke 5 untuk diwawancara. Dari yang sudah duluan, dapat bocoran bahwa sama kayak interview yang sebelumnya diawali dengan B. Inggris, tapi yang kali ini banyak dikasih pertanyaan studi kasus. Aku berdoa saja, semoga nanti dimudahkan dan interview nya lagi baik hati, hehehe. Akhirnya, giliranku untuk dipanggil pun tiba, sebelumnya aku kembali merapikan pakaian dan membenarkan posisi dasi. Dasi pinjaman dari temann yang udah wawancara duluan, aku sama sekali tidak tahu ada aturan tidak tertulis seperti ini bahwa untuk interview direksi memakai dasi, sehingga tidak mempersiapkan membawa dasi sebelumnya.

Saat memasuki ruangan interview, sudah menunggu dua orang Bapak2 dan juga Ibu Santi, orang HR yang sudah kukenal saat interview  user pekan lalu. Kemudian, aku dipersilahkan duduk dan diminta untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan B. Inggris.

“Good afternoon Mr, let me introduce my Self, My Name is M Zia Anggiawan, you can call me Anggi. I jus graduated from Accounting Mayority, Economic & Business Faculty, Gadjah Mada University. I come from Payakumbuh, Wes Sumatera. My Hobby is reading and travelling. I think that’s all from me, any else?”, aku menutup perkenalan singkat ku dengan B.Inggris yang agak lumayan lancar, karena standar introducing ini udah aku hafal-hafalin sebelumnya.

“Ok M. Zia, can you tell us Why do you apply at Pertamina?”, Pak Budi mereply pembukaan perkenalan dariku.

“Yaa, thank you for your Question Sir. My reason apply at Pertamina..So far I know if Pertamina is ones of the biggest national company in Indonesia. In my mind, if I give my best to this company, in same time I give my best to this country. Different condition, if I work at private comany or foreign company, my capablity will not give effect to my country. So that’s why I choose national company (BUMN, red) and Pertamina is the best national company I guess. Because of that, I can improve n develop my knowledge, my capability, etc via Pertamina. It is a big company, so my capability will be develop quickly.”, aku mencoba menjelaskan dengan grammar begitu kacaunya, tapi aku nggak peduli yang penting bapak nya mengerti dengan apa yang aku jelaskan.

Kemudian, percakapan pun berlanjut oleh kedua interviewer tersebut dengan menggunakan bahasa inggris, beda saat interview user sebelumnya yang mana speaking english hanya sebentar saja, kali ini cukup lama juga sehingga rada-rada kewalahan aku menyusun kata-kata, karena diluar dugaan banyak pertanyaan-pertanyaan diluar prediksi, sehingga selain mempersiapkan jawaban yang pas juga memikirkan vocab atas jawaban tersebut, maklumlah aku belum terlalu master bahasa international ini sehingga belum keluar secara natural tapi penuh dengan keterbata-bataan. Hingga kemudian Bapaknya memberikan sebuah pertanyaan unik, tapi untunglah sesi bahasa inggrisnya udah selesai sehingga aku bisa menjawab dengan bahasa Indonesia.

“Mas Zia, Anda dari UGM kan ya? Berarti kenal dong dengan teman-teman yang juga interview sekarang?”, Pak Purwo menyampaikan pertanyaannya.

“oh yes Sir, I know them. Sorry Sir, for the next question Its ok if I answer the question using Bahasa, isn’t?”, jawabku dengan masih pake B.Inggris.

“Yaya, pake bahasa Indonesia aja, gak papa”

“Baik, terima kasih Pak”, ucapku lega.

“Sekarang saya mau tanya gini, kamu kan kenal dengan teman-teman yang lain itu kan. Menurutmu, diantara semua teman-teman mu yang lain dan termasuk kamu juga yang paling berhak untuk lulus interview ini siapa?”, tanya Bapaknya sambil tersenyum.

“Hmmm..saya kenal mereka Pak, hanya saja saya tidak mengenal mereka begitu mendalam hingga tataran kompetensi mereka. Sehingga saya kesulitan untuk menjawab pertanyaan Bapak tadi”

“Tapi kamu harus memilih, pilih salah satu, atau kalau mau pilih diri sendiri juga boleh”

“Tapi kondisinya adalah saya tidak mempunyai pertimbangan yang cukup matang untuk menilai Pak, sehingga dalam konteks seperti ini pilihan yang saya tentukan jadi nya gambling, tidak berdasar. Padahal menurut saya setiap keputusan harus ada dasarnya, yang logis dan masuk akal disertai dengan data dan bukti yang mendukung. Kembali ke statement saya sebelumnya, saya tidak bisa memberikan keputusan untuk hal ini. Beda cerita kalau saya diberi kesempatan untuk mewawancarai mereka, sehingga saya mempunyai data yang cukup untuk menentukan kualitas mereka sehingga bisa menentuka siapa yang paling layak diantara mereka untuk dinyatakan lolos tes.”, jawabku dengan tetap pada pendirian awalku.

“Kondisinya saat ini kamu harus menentukan pilihan dek, saya gak peduli apakah kamu kenal mereka atau tidak”, bapaknya ngeyel tetap meminta pilihanku.

“tapi Pak..”

“Gak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus memilih”, Bapaknya memotong pembicaraan.

“Kalau demikian adanya, sesuai dengan rasionalitas saya tadi, yang mana saya harus menentukan berdasarkan data, tidak asal pilih, dan berhubung data yang saya punyai cukup lengkap dan valid hanya diri saya seorang Pak, untuk itu ya saya pilih diri saya sendiri”, jawabku sambil tersenyum gak bisa ngeles lagi.

Kedua Bapaknya tertawa, kemudian mereka menjelaskan alasan mereka bertanya hal tersebut, bagi mereka jawaban yang diberikan tidak penting, tapi cara menentukan jawaban, metode berpikir yang digunakan itulah yang ingin mereka ketahui saat memberikan pertanyaan tersebut. Aku hanya ber “oh” saja, berharap rasionalisasi yang aku kemukan tadi merupakan metode berpikir yang mereka harapkan karena mereka juga tidak memberi tahukan apakah jawaban yang aku berikan sudah tepat atau belum.

Alhamdulillah, setengah jam lebih diinterview akhirnya selesai juga. Kemudian aku keluar ke tempat berkumpul yang lainnya, menyampaikan pesan untuk peserta test berikutnya dipersilahkan masuk. Sambil menunggu selesai semuanya, kami ditemani oleh orang HR, Ibu nya bilang bahwa pengumuman akan disampaikan pada hari Senin nanti, jadi diminta stand by aja dengan HP masing-masing. Kegiatan pendidikan akan dimulai pada hari Senin depannya lagi, tanggal 2 Januari 2012. “Berhubung yang tidak lolos tidak akan dihubungi, maka kalau kalian tidak dihubungi hingga hari tanggal 2 tersebut, berarti kalian tidak lolos”, jelas Bu Diana orang HR tersebut.

Aku berhitung dengan waktu, kalau pendidikan dimulai hari Senin minggu depannya lagi, berarti seharusnya paling lama hari Rabu sudah diumumkan. Kalau tidak dihubungi hingga hari Rabu tersebut, berarti pupuslah sudah harapan. Aku meminta izin untuk duluan pulang, karena aku rencananya akan langsung ke Yogya malam ini, terkait ada kegiatan di kampus yang musti ku hadiri (terkait amanah dakwah thulaby yang masih ada di pundak). Jadi aku akan ke stasiun dulu, semoga masih ada tiket kereta sehingga aku bisa langsung pulang. Pertama aku ke Gambir dulu, tiket malam ini sudah habis. Kemudian aku ke stasiun Senen, ternyata juga habis tiket nya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lewat, aku naik aja ke Kopaja 20 yang menuju Terminal Lebak Bulus, jalur Bus Jakarta-Jogya yang aku tahu ada disana. Setelah naik, aku tanya kondekturnya terkait bus yang ke Yogya di Lebak Bulus, alangkah mengecewakan jawabannya karena kemungkinan biasanya jam 4 sore bus ke Yogya udah habis, atau paling lama sekitar jam 5an katanya. Sementara untuk ke Lebak Bulus paling cepat 2 jam-an. Yahh, gak akan terkejar lagi mah itu pikirku. Akhirnya aku putuskan untuk pulang besok sore aja dengan menggunakan bus, karena tiket kereta untuk besok juga sudah habis. Sehingga sore itu kembali ke kost kakakku dulu, yang kebetulan angkutannya juga dengan menggunakan Kopaja 20 itu.

Setelah 1 jam lebih diatas bus karena macet, akhirnya sampai juga di daerah Mampang, aku berdiri untuk bersiap turun. Mengingat bus nya juga penuh padat, aku berdiri dulu sehingga ketika benar-benar sampai aku tinggal lompat turun. Beberapa saat setelah turun, aku mau ngambil HP yang tadi aku masukkan ke dalam tas. Alangkah terkejutnya, karena resleting tas ku terlihat terbuka, dan lebih kagetnya karena hp ku dalam tas sudah tidak ada lagi, padahal tadi aku masukkan ke tas bagian luar ini. Kemudian, aku mencoba periksa lagi, dengan melihat bagian tas yang lainnya, tetap tidak ada. Benarlah ternyata, HP ku ditilep orang, menurut dugaanku diambil saat aku berdiri tadi yang saat itu kebetulan membelakangi tas. Apes memang, sudah sekian kali naik Kopaja, akhirnya aku juga sempat menjadi korban pencopetannya. Pada hal itu HP nya juga HP baru lagi, baru ku beli beberapa bulan yang lalu. Untung masih ada Hp yang satu lagi, dengan mengandalkan beberapa kontak yang masih tersimpan aku mengabarkan bahwa Hp ku yang nomor IM3 tersebut barusan ilang, jadi kalau ada yang SMS aneh2 tersebut udah pada tahu bahwa itu bukan aku sehingga tidak usah menggubrisnya. Interview hari ini berakhir dengan sad ending, sudahlah tidak dapat tiket langsung ke Yogya, HP ku dicuri lagi. Nasib ya nasib, semoga diganti dengan yang lebih baik, berusaha untuk ikhlas.

Keesokan harinya, aku jadi pulang ke Yogya dengan menggunakan Bus dari Lebak Bulus, dan aku salah pilih Bus lagi, yang aku naiki adalah memang bus yang jurusan Yogya, tetapi Bus nya lewat jalur Solo, sehingga sampainya di Yogya cukup lama. Sudah berangkatnya dari Jakarta jam 8 malam, sampai di Yogya pada pukul 2 siang, perjalanan panjang yang lama dan melelahkan. Saat hari Senin, seharian perasaanku gak karuan, dag dig dug. Tiap sebentar ngeliat ke HP, berharap-harap ada nelpon dengan nomor kode area 021. Namun, ternyata hingga malam tidak ada telpon sama sekali. Sedikit kecewa, berharap besoknya ada kabar yang menggembirakan.

Pada hari Selasa pun demikian, harap-harap cemas aku menunggu telepon. Blas dua hari ini aku tidakn ada keluar rumah, jadi tambah galaulah menunggu kabar yang entah kapan datangnya ini. Hingga malam tiba, tidak ada panggilan sama sekali, tidur ku pun kali ini diiringi dengan kekecewaan. Kalau besok masih juga tidak ada yang nelpon, berarti sudah tidak harapan sama sekali, demikian batinku. Dan ternyata benar, besokpun hingga malam tidak ada panggilan sama sekali. Malamnya aku mencoba mengikhlaskan diri, mungkin ini adalah hasil yang terbaik, dengan harapan ada peluang untuk kerja di perusahaan lain. Aku pun mencoba untuk mulai fokus untuk kegiatan yang lain, melupakan Perusahaan minyak negara ini. Sebagaimana amanah yang aku emban saat ini, aku kembali mencoba menyusun agenda kunjungan ke lembaga-lembaga fakultas. Aku konfirmasi masing-masing ketua lembaga dan juga rekan SCCF lainnya, sehingga cukup padatlah agenda ku dari Kamis-Sabtu. Gak apa-apa, walaupun capek, setidaknya aku bisa melupakan kekecewaan kepada Pertamina ini.

Saat itu hari Jum’at, siang ini pukul 14.00 aku ada jadwal kunjungan ke salah kelompok studi fakultas Kedokteran Hewan. Setelah sempat mutar-mutar mencari ruangan sekrenya, akhirnya ketemu juga yang berlokasi di gedung yang terletak di dekat kandang hewan. Sesampainya di sekre agak kaget juga, karena ternyata anggotanya yang datang semuanya adalah perempuan, jadilah aku laki-laki terganteng saat itu atau dengan kata lain satu-satunya cowok saat itu. Setelah hampir 1jam an sharing dan diskusi dengan mereka, tiba-tiba hanphone ku berbunyi, sempat tidak ingin untuk mengangkat karena aku sedang berbicara didepan forum anggota KSF tersebut, tapi demi melihat kode are 021 jantungku berdegup kencang lagi. Dan saat aku menjawab panggilannya.

“Hallo, selamat siang sapaku”

“Hallo, selamat siang, dengan Bapak M Zia Anggiawan?”

“Iya, dengan saya sendiri mas”

“Saya dari HR Pertamina, ingin memberitahukan bahwa Mas Zia dinyatakan di terima untuk program BPS Pertamina Persero. Apakah Mas Zia bersedia menerima tawaran ini?”, penjelasan suara laki-laki disana mengagetkanku atas hal yang ia sampaikan.

“Benaran mas? Diterima di Pertamina?”, aku balik bertanya untuk meyakinkan.

“Iya mas Zia, anda diterima di Pertamina. Jadi, bersedia ya?”, tanya mas nya lagi.

“Iya mas, insyaallah pasti bersedia lah saya. Untuk penjelasan lebih detailnya sudah kami kirimkan via email, silahkah dicek dan dipenuhi ketentuan-ketentuan yang ada di dalamnya. Oh ya, karena program training akan sudah dimulai pada hari Senin besok, agar hari Minggu sudah berada di lokasi pelatihan ya. Untuk keterangan lebih jelasnya bisa dilihat di email yang sudah kami kirimkan.”, penjelasan dari mas nya panjang lebar.

“Oh iya mas, siap siap. Terima kasih atas infonya”

“Baiklah kalau begitu, demikian saja dari saya, terima kasih, selamat siang Mas Zia”, orang HR nya mengakhiri pembicaraan.

“Ok mas, sekali lagi terima kasih atas informasinya dan kepercayaannya”, jawabku sambil menutup telepon.

Beberapa saat aku sempat tercenung, atas informasi yang baru aja ku dengar. Serasa sedang bermimpi, ALHAMDULILLAH, AKU DITERIMA DI PERTAMINA.

Kembali aku masuk ke ruang sekre nya, untunglah ketemuannya sudah akan berakhir karena sejatinya aku sudah tidak konsen lagi, pikiranku masih pada pengumuman yang baru aja aku terima. Dan kesadaran bahwa sekarang sudah Jumat sore, dan Minggu pagi aku sudah harus di Jakarta, berarti paling lama besok sore aku sudah hijrah. Wow, pada hal ada banyak yang harus ku clearkan disini.

Kegiatan jaulah ke FKH tersebut aku percepat dari biasanya, ada banyak hal yang harus ku kerjakan sore ini. Selepas dari FKH, aku tancap gas menuju rental mobil. Aku udah kudung janji mencarikan rental mobil buat salah seorang senior yang main ke Yogya dengan istrinya esok hari. Cukup kesal juga, mendatangi beberapa rental mobil yang aku ketahui ternyata full booked semua. Aku give up, aku kabarin senior ku tersebut bahwa tidak bisa menemukan rental mobil dan menyampaikan kondisi yang aku hadapi saat ini. Setelah urusan rental mobil ini kelar, aku segera menuju warnet terdekat, dan kaget banget karena tidak sekedar undangan panggilan pelatihan itu yang perlu dibawa, tetapi ada banyak berkas yang musti dipersiapkan. Sejenak, aku menatap beberapa syarat tersebut, dan semua bisa dipersiapkan dalam semalam, demikian batinku. Segera aja aku print syarat-syarat tersebut beserta form-form yang perlu dipersiapkan. Kemudian aku langsung tancap gas menuju daerah Tugu untuk membeli tiket travel ke Jakarta besok sore. Kalau dengan kereta api aku sudah yakin sekali kalau pasti sudah habis tiketnya. Alhamdulillah, sesampai di loket travel masih tersisa tiket jurusan Jakarta untuk besok sorenya. Setelah perurusan tiket ini selesai segera aku pulang ke rumah untuk mempersiapkan dokumen-dokumen  perlu dibawa ke Jakarta besoknya. Syukurlah malam itu dokumen-dokumen tersebut bisa disiapkan seutuhnya, sebelumnya aku mengabari beberapa orang penting yang harus aku pamiti terkait hijrahku yang mendadak dari kota Yogyakarta ini, yaitu antara lain murabbiku yang rencananya akan aku temui besok ba’da shubuhnya, kemudian mas’ul atas amanahku di kampus yang akan ku temui pada besok paginya, dan siang hari (sambil makan siang) perpisahan dengan teman-teman satu amanah di dakwah kampus. Dan pada malam itu juga aku mulai ber packing, mengingat padat nya agenda ku pada besok harinya, sementara sore aku sudah akan berangkat ke ibukota.

Setelah shalat shubuh, aku permit ke Dorm Principle bahwa tidak bisa mengikuti building skill pagi itu, temen se dorm juga udah tahu bahwa hari itu adalah hari terakhir ku di dorm. Sekitar pukul setengah 6 aku sampai di rumah murabbiku, setelah sempat nyasar dulu sebelumnya, maklum lah itu adalah rumah mertua beliau sehingga aku belum hafal betul jalannya karena baru sekali mampir kesana. Padanya aku menyampaikan kabar bahwa aku telah diterima di Pertamina, dan akan hijrah sorenya ke Jakarta. Beliau mengucapkan selamat dan hanya berpesan agar tetap istiqomah di jalan dakwah, dan akan segera mengurus surat mutasi ku. Dan memang itulah tujuan inti aku menemui beliau, selain ijin pamit meninggalkan Yogya juga minta diuruskan surat mutasi ke Jakarta, agar kegiatan rutin mengaji tetap jalan walau sudah berpindah kota. Setelah selesai semua urusan, aku berbalik dan jam 9 nya aku segera menuju Pogung, memenuhi janji untuk bertemu dengan mas’ul kampus. Selain ijin pamit juga untuk hijrah ke ibukota sorenya, aku juga ingin menyampaikan permohonan maaf bahwa tidak bisa menuntaskan amanah hingga akhir periode. Untunglah beliau memahami dan merestui kepindahanku, walau tahu bahwa sangat berat rasanya untuk berhenti dari amanah saat itu karena kondisi kegiatan kampus lagi padat-padatnya.

Kemudian, siangnya adalah waktu aku berpamitan dengan para partnerku saat beraktivitas di dakwah kampus. Sekalian aku traktir mereka di lombok ijo dekat mirota, di pertemuan terakhir tersebut kami jalani makan siang dengan canda tawa dan happy fun aja, tidak ada terlihat guratan kesedihan ataupun keharuan pada mereka. Hanya aku saja yang dalam hatiku gundah gulana sebenarnya, lepas amanah begitu saja sehingga menambah beban mereka, kemudian juga dengan kenyataan akan berpisah dengan mereka. Tentunya bagi diriku ini meninggalkan duka yang mendalam, namun demi melihat mereka happy-happy aja sehingga aku tetap bisa menstabilkan diriku sehingga (semoga) tetap terlihat ceria. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3an, segera aku akhiri farrawell party yang ceria tersebut, mengingat aku akan dijemput pada pukul 16.00, pada hal packing ku belum beres semua, masih ada beberapa yang perlu di finishing.

Sesampai di dorm, aku kelarkan semua packing an ku, nge cek semua, supaya jangan sampai ada item penting yang ketinggalan. Mengingat banyak nya barang yang aku miliki, ada kotak baju dan buku yang aku titipkan di dorm, semoga kapan-kapan bisa diambil lagi (kenyataannnya hingga sekarang belum terambil disana, pada hal dorm nya udah pindah). Jam 4 lewat dikit, travel ku pun datang, pada hal aku belum siap berangkat saat itu, belum terlalu yakin dengan packing an ku, tapi ya sudahlah, bismillah aku berangkat setelah pamit dengan teman-teman di dorm sekaligus titip motor ku pada salah seorang mereka. Agak kerepotan driver travelnya menata tas-tas bawaanku (ada 7 tas yang aku bawa), dan mobil pun berangkat meninggalkan kota Yogyakarta. Seiring dengan berjalannya mobil yang aku tumpangi meninggalkan kota gudeg ini, aku meng sms kolega-kolega yang belum sempat aku pamitin, mulai dari temen-temen kampus, temen satu halaqoh, temen satu kkn, temen sesama mantan pengurus UKM, dll. Sebagian dari mereka mengaku kaget atas dadakannya kepindahan ku ke ibukota, yahh memang semua terjadi begitu cepatnya. Hujan rintik-rintik pun turun, seakan langitpun ikut mengerti akan keharuan dalam hatiku meninggalkan kota Yogaya yang penuh kenangan ini. Aku harus tegar, bersiap menyongsong ibukota dengan status baru, bukan lagi sebagai mahasiswa, tetapi sebagai pekerja Pertamina.

Selamat tinggal Yogya, Kota Berhati Nyaman. Selamat datang Jakarta, Kota Ibu nya kota.

Demikianlah, sekedar berbagi bagaimana lika-liku perjalananku dalam proses memasuki Perusahaan Minyak Negara ini, sebagaimana yang sudah aku sampaikan pada part #1 bahwa tulisan ini dibuat sebagai jawaban ada banyaknya pertanyaan2, bagaimana cara nya kok bisa masuk pertamina? Sekali lagi tidakn ada tips spesial, hanyalah doa dan ridho orang tua yang bisa membawa ku ke perusahaan ini. Tidak terasa sudah hampir 1,5 tahun aku di perusahaan ini dan ditempatkan di wilayah yang cukup menyenangkan di kota Balikpapan. Semoga kapan-kapan bisa share experience lainnya terkait jejak langkahku di Perusahaan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s