Job Seeker #4

Posted: June 4, 2013 in In memorian

Tanpa diduga, aku adalah salah satu yang lolos untuk mengikuti test kesehatan, bersama dengan 2  orang lainnya. Kaget sebenarnya dan gak nyangka kalau bakalan lolos demi melihat buruknya performance ku pas sesi interview ini, khususnya adalah acara kelupaan bawa transkrip nilai itu. Tapi Alhamdulillah, memang kuasa Allah atas semua ini sehingga aku bisa lanjut pada fase test berikutnya. Setelah menerima surat panggilan untuk test kesehatan yang akan diselenggarakan pada hari Senin besoknya, aku meninggalkan Kantor Pusat Pertamina tersebut, dan segera menuju kost kakakku di Mampang.

Sesampainya di kost, dan setelah menyampaikan kabar gembira ini ke orang tua dirumah untuk memohon doa agar dilancarkan untuk test yang berikutnya, sebenarnya aku dalam kondisi galau yang akut. Senin pagi itu aku akan melakukan test kesehatan, yang membutuhkan kondisi badan prima, sementara hari Sabtu & Ahadnya, di Yogyakarta Gama Cendekia, ex Lembaga yang pernah aku pimpin akan menyelenggarakan kongres. Seharusnya hari itu, Jumat malam nya aku harus tancap gas ke Yogya, hanya saja aku khawatir akan kondisi fisikku yang bisa saja membuatnya tidak fit kalau bolak balik Yogya-Jakarta. Disisi lain, diprediksi kondisi Kongresnya cukup panas sehingga diminta ikut hadir untuk mengkondisikan jalannya kongres, namun apa daya, keputusan harus aku buat bahwa aku tetap stay di Jakarta, dan menitipkan proses Kongres kepada teman-teman sesama PH dahulu. Aku menelepon beberapa PH satu pengurusan dahulunya, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan juga menjelaskan kondisi yang kuhadapi saat ini, alhamdulillah sebagian dari mereka ada yang mengerti dan memahami kondisiku saat itu, bahkan memberikan support agar tes kesehatan ku berjalan lancar, dan juga memberikan saran untuk meminum air kelapa sehari sebelum tes kesehatan, bagus tuk tubuh katanya, aku percaya aja karena Sekretarisku dulu itu adalah mahasiswi biologi. Namun, ada juga yang tak terima dengan apa yang akan aku lakukan sehingga bahkan beberapa kali ditelepon gak diangkat. Tapi ya sudahlah, aku mencoba memahami dari sisi You-View nya teman seperjuangan ku dulu itu, bisa jadi aku dalam posisi dia akan berbuat hal yang sama. Setiap pilihan tentu ada konsekwensinya, ada positif dan negatifnya, dan maaf teman untuk kali ini ijinkan aku untuk sedikit egois dengan lebih memilih kepentingan pribadiku, demikian aku berbatin sebelum terlelap pada malam hari nya.

Hari Senin itu pun datang, pukul 07.00 aku sudah berada di Klinik Pertamedika yang terletak disamping Kantor Pusat Pertamina tersebut. Aku datang dengan perut kosong, karena itu memang hal yang harus dilakukan sebelum melaksanakan test. Selain itu, juga diminta membawa tinja masing-masing (tinja malam atau paginya) yang akan diperiksa di lab. Untunglah pagi tadi aku membuang hajat dan hal inilah yang paling malas untuk diceritakan, dengan pakai tissue aku ambil beberapa potong tinja tersebut terus aku masukkan ke dalam kresek plastik, dengan bungkusan berlapis-lapis. Sayang, walau udah dibungkus sedemikiannya tetap aja tas ku menjadi bau, yahh namanya juga tinja pasti bau lah (ikkk >,<).

Aku sudah ketemu dengan dua temanku lainnya yang juga lolos untuk mengikuti tes kesehatan, kami sudah mulai akrab saling mengenal satu sama lain karena sudah bersama-sama saat wawancara kemaren. Terlihat banyak orang juga di klinik tersebut, yang ternyata juga akan melakukan medical check up, ada yang sudah merupakan pekerja dan ada juga yang merupakan calon pekerja experience Pertamina. Kami mendatangi meja registrasi dan mendapat penjelasan banyak hal terkait medical check up yang akan kami lakukan ini. Ada beberapa tahap proses yang dilakukan, mulai dari cek lab, cek kondisi badan, hingga terakhir saat sore nanti adalah diminta lari 4 kali keliling lapangan bola (1600 meter). Starting dari cek lab, yaitu memeriksa semua sekresi dari tubuh kita, mulai dari darah, air seni, hingga tinja yang sudah dibawa dari rumah tadi. Kemudian dilanjutkan dengan proses rontgen, mulai dari kepala, dada, hingga perut ku juga. Perut ku di USG kayak orang hamil. Agak geli juga melihatnya. Isi perutku terlihat di layar komputer, sepertinya tidak ada masalah.

Setelah peng cek an di lab, berikutnya adalah pemeriksaan kondisi fisik tubuh. Hal ini mencakup mulai dari tekanan darah, berat & tinggi badan, tes pernafasan, tes penglihatan, tes pendengaran, hingga body check up. Yang pemeriksaan badan ini lah agak cukup mengerikan, karena dari bocoran yang ku dengar adalah bahwa katanya di dalam diperiksa semua bagian tubuh, mulai yang biasa diakses oleh publik hingga yang paling privasi. Agak grogi juga sesaat sebelum masuk ke ruang dokter tersebut. Untunglah dokternya pria, kalau dokter nya perempuan bisa repot urusan, hehehe. Pertama-tama yang diperiksa adalah kepala, dada, dan perut, aku diminta untuk lepas baju saat pemeriksaannya. Selanjutnya aku diminta membuka celana (menyisakan celana dalam), sebenarnya aku sudah mulai agak kurang nyama dengan kondisi ini, tapi ya bagaimanalah ini memang prosedur dalam kesehatannya. Berikutnya diperiksa, mulai dari ujung kaki, lutut, dipukul-pukul dengan alat kayak palu, hal ini untuk memeriksa sendi-sendi di kaki ku. Akhirnya, memasuki sesi akhir pemeriksaan badan ini, aku turun dari dipan, berdiri lalu diminta menurunkan celana dalam. Sang dokterpun memeriksa, maaf buah zakar. Kemudian, aku diminta berbungkuk, sang dokter memeriksa, maaf anus untuk memeriksa apakah tidak ada tonjolan. Untunglah sesi akhir ini berlangsung dengan cepat, dokternya pun mengerti dia hanya meraba bagian yang perlu diperiksa dengan membuang pandangannya. Segera aku berpakaian lengkap dan mendengarkan penjelasan dari dokter yang katanya segala informasi ini akan dijaga kerahasiaannya dan hanya untuk kepentingan rekruitment. Aku menanyakan apakah ada yang salah/ganjil selama pemeriksaan tadi, beliau bilang sejauh ini tidak ada, hanya menunggu hasil dari lab, cukup lega mendengar penjelasan sang dokter. Aku pamit keluar, dan bersiap untuk test terakhir, yaitu lari 1600 meter.

Ada 4 orang yang akan melakukan test lari sore itu, 3 orang adalah yang sama-sama dengan ku seleksi BPS Pertamina Finance, kemudian yang seorang lagi adalah bapak-bapak umur 40an, dia sepertinya sedang mengikuti BPS Experience. Pelaksanaan lari dilakukan di lapangan Benteng, ada 2 orang dokter yang mengantar kami dengan mobil ambulance,  yang memberi pengarahan ketentuan-ketentuan umum saat lari, yaitu akan berlari keliling lapangan sebanyak 4 kali, jangan memaksakan diri,  kalau nggak kuat segara melapor untuk menghindari dampak yang lebih bahaya. Selanjutnya beliau juga menjelaskan untuk seumuran kami standardnya memakan waktu 8-9 menit. Masing-masing kami diberikan nomor, dan bersiap start di posisi masing-masing. Aku berlari santai, yang penting dalam berlari ini adalah senantiasa konstan berlari tanpa henti, dan harus mampun mengontrol tenaga, percuma aja kencang diawal tapi gak kuat lari lagi di akhir-akhir. Dari awal aku berlari pada posisi kedua, menjaga jarak dengan yang posisi, meninggalkan jauh bapak-bapak yang di belakang dan temenku yang badannya cukup gemuk, namun tetap menjaga ritme tenaga. Lewat 1 putaran, sekilas aku liat catatan waktu ku, 2’, pas batinku. Sedikit aku menambah kecepatan, walau tidak berapa lama malah tambah lebih lambat. Putaran kedua pun lewat, 2,5’ lebih, masih lumayan batinku. Memasuki putaran ketiga, aku menurunkan kecepatan karena nafasku mulai tidak teratur, karena kecapaian dan juga perutku mulai mengeras. Aku lihat kebelakang, yang dua dibelakang sekarang malah terlihat berjalan, yang didepanku pun sudah sangat kelelahan dengan jarak tidak terlalu jauh di depanku. Aku menguatkan diri, sambil berucap istighfar, percaya atau tidak, lafazh istighfar cukup berpengaruh menjaga staminaku untuk terus berlari. Melewati tengah putaran ketiga, temanku yang didepanku terlihat sudah berjalan, gak kuat lagi dia sepertinya. Aku melewatinya sambil tersenyum, dan memberinya semangat, “Ayo..lari lagi”.

Memasuki putaran keempat aku benar-benar lelah, gak kuat lagi, aku berhenti berlari berganti dengan berjalan, sambil mengatur nafas, yang lain masih tertinggal jauh dibelakang, temenku tadi sudah berlari lagi sepertinya. Setelah 10 langkah berjalan, aku lanjutkan berlari, tinggal 1 putaran lagi, aku yakin aku bisa. Aku kuatkan diri ini, terus aku paksakan. Tinggal 100 meter lagi mengakhiri lari, inilah saatnya batinku, dengan mengucap basmalah, aku menambah kecepatan, separuh sprint, gak perduli apa yang terjadi setelah melewati finish, mengeluarkan segenap tenaga yang tersisa. Aku masih memimpin didepan, yang lain masih tertinggal di tengah lintasan. Dan finish, lesu dan lenu seluruh badan, waktu ku 9’ lebih beberapa detik, alhamdulillah, lumayan. Akhirnya usai sudah rangkaian Medical Check Up Test ini. Aku pulang ke kost kakakku, dan kemudian packing, karena malam nya aku sudah harus balik ke Yogya dengan kereta yang tiketnya sudah kubeli kemaren. Aku harus segera pulang ke Yogya, karena ada banyak hal yang harus ku selesaikan.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s