Job Seeker #3

Posted: June 1, 2013 in curcol abiss :D

Seminggu kemudian, aku masih ingat saat itu hari Rabu. Setelah paginya syuro di Masjid Nurul Islam, dan dilanjutkan dengan rapat di kampus pada siangnya. Sore hari, aku iseng ke toko TOGAMAS, salah satu toko buku favoritku di Yogyakarta, harganya diskon dan ada fasilitas dibungkus dengan plastik sehingga bukunya bisa lebih awet. Aku lupa beli buku apa, yang aku ingat adalah setelah berbelanja buku azan ashar pun berkumandang, dan aku shalat ashar berjamaah di masjid yang kebetulan ada di dekat TOGAMAS tersebut. Masalah muncul saat sedang shalat, HP ku bergetar, cukup lama dan lebih dari satu kali panggilan. Untunglah HP nya udah di silent, kalau tidak, nggak enak juga mengganggu kekhusyukan jemaah lainnya. Sebenarnya agak terganggu shalat ku saat itu, karena pemikirannya adalah ke HP, siapa sih yang nelpon saat shalat begini, gak tahu ya orang lagi shalat (ya gak tahu lah gi, nama nya juga orang nelpon). Setelah selesai shalat aku tidak langsung buka HP, lupa juga dan pikirku palingan anak-anak kampus ngundang ngisi training atau daurah. Maklumlah, akhir tahun banyak lembaga yang ngadain daurah/training sehingga juga berdampak pada padatnya jadwal tiap akhir pekan. Saat tengah berzikir, HP ku bergetar lagi dan aku mengambil HP di saku dan melihat nomor yang tidak dikenali, tapi dengan kode area Jakarta 021, eh..jangan-jangan dari perusahaan pikirku. Segera aku angkat, sambil berjalan keluar masjid agar tidak mengganggu zikir jemaah yang lainnya.

“Hallo, selamat sore, dengan  M Zia Anggiawan?”, suara seorang perempuan di seberang sana.

“Iya benar Mb’, saya sendiri”, jawabku singkat.

“Jadi gini Mas Zia, Mas  Zia lolos untuk tes interview seleksi Pertamina Persero, rencananya tes interview akan diselenggarakan pada Jum’at besok ini. Apakah Pak Zia bisa hadir?”, penjelasan dari Mb’ nya.

“Oh ya, alhamdulillah, insyaallah bisa mb’. Jam berapa dan dimana ya?”, jawabku kaget bercampur syukur.

“Tes interview usernya diselenggarakan pada Jum’at pagi, di Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, untuk lebih lengkap bisa di cek diemail melalui undangan yang kami kirimkan. Terima kasih atas konfirmasinya mas Zia, selamat sore”, jelas Mb’nya.

“Ok, sama-sama mb’,  terima kasih mb’”, balasku dan menutup panggilan.

Alhamdulillah berkah shalat ashar, segera saja aku menuju Dormitory untuk menge cek email, membaca undangan test yang tidak sabar untuk membacanya. Oh iya, saat itu tinggal di Jogja English Dormitory, sebuah asrama berbahasa Inggris. Aku tinggal disana dengan penggunaan English tiap hari sekaligus kursus disana. Di Dorm tersedia Wifi, sehingga aku bisa berinternet ria di kamar tanpa harus repot-repot ke warnet. Demi melihat jadwal test interview yang diselenggarakan pada Jumat pagi di undangan yang dikirimkan via email, segera saja aku menuju stasiun Lempuyangan, untuk membeli tiket tujuan Jakarta, semoga masih tersedia tiket batinku, kalau tidak habislah sudah. Alhamdulillah masih tersedia tiket untuk KA Ekonomi AC Gajah Wong yang berangkat jam 19.30 dari stasiun Lempuyangan. Aku kembali ke Dorm, mempersiapkan segala nya untuk dibawa ke Jakarta.

…..

Untuk kali keduanya aku memasuki kantor pusat Pertamina dengan langkah penuh semangat serta tampilan yang necis. Demi melihat tingginya kantor serta lambang Pertamina yang terpampang di puncaknya, aku sempat membatin, “Semoga suatu saat aku bisa berkantor disini”, sebuah ucapan iseng yang baru aku sadari beberapa bulan kemudian bahwa ucapan iseng tersebut didengar oleh Malaikat yang sedang melintas dan disampaikan ke atas arasy di langit ketujuh, sehingga terkabullah apa yang diucapkan tersebut.

Lokasi wawancara adalah di lantai paling puncai gedung utama, lokasi yang sama saat aku mengikuti psikotes  seminggu sebelumnya. Oleh karenanya aku tidak terlalu kagok lagi memasuki kantor tersebut. Sebelum masuk pintu utama ada pemeriksaan tas terlebih dahulu, kemudian meminta ID Card visitor di resepcionist dengan jaminan KTP. Karena tanpa ID Card tersebut gak akan bisa melewati beberapa “halang rintang” sebelum menuju lift. Tinggal aku sendiri saat keluar lift pada lantai puncak, sepertinya belum ada panitia atau peserta yang datang walau jam sudah menunjukkan pukul 06.50 WIB. Aku lebih cepat datang 40 menit dari jadwal interview yang disampaikan yaitu pukul 07.30 WIB, terlihat hanya beberapa orang OB yang sedang membersihkan ruangan. Kemudian, aku duduk di salah satu kursi dengan meja bundar. Waktu luang ini aku manfaatkan untuk membaca lagi coret-coretan yang sempat aku buat saat perjalanan di kereta. Untuk wawancara kali ini aku mencoba untuk lebih melakukan persiapan, beda dengan wawancara sebelumnya di salah satu perusahaan swasta. Selain mempersiapan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan personal yang umum ditanyakan, aku juga membaca sekilas tentang perusahaan Pertamina, serta juga mereview lagi beberapa materi kuliah penting. Siapa tahu ditanyakan saat wawancara, belajar  dari pengalaman wawancara sebelumnya yang ditanya tentang teori kuliah, dan aku blank sama sekali sehingga hal itu menjadi the main factor aku ditolak dari perusahaan tersebut.

Aku mendapat giliran dipanggil adalah sekitar pukul 9an. Dengan mengucap lafal tasmyah, aku melangkah mantap menuju ruangan interview. Di dalamnya, sudah menunggu dua orang, satu bapak-bapak yang merupakan salah satu dari manajer keuangan, dan satu lagi adalah seorang ibu-ibu yang merupakan perwakilan orang HR. Jadi, dalam sesi wawancara ini adalah sekaligus yang bertanya tentang personalitas kita dan satu lagi wawancara untuk bagian yang akan kita tempati. Aku dipersilahkan duduk sambil menyerahkan berkas-berkas lamaran, seharusnya berkas lamaran tersebut diserahkan pada saat Psikotest, tapi berhubung saat itu aku tidak membawanya baru aku serahkan saat wawancara kali ini. Kemudian aku diminta untuk memperkenalkan diri dengan menggunakan B. Inggris, agak sedikit kaget sebenarnya karena gak nyangka kalau diminta pakai B.Inggris. Syukurlah, aku sudah 3 bulan lebih tinggal di Jogja English Dormitory yang disana setiap hari aku ngomong B.Inggris, sehingga saat wawancara ini aku dapat ber speaking more fluently walau belum fasih betul sebenarnya. Hingga aku diminta ganti pake B.Indonesia saja setelah menjawab beberapa pertanyaan dengan B.Inggris, gak tahu kenapa, apakah mereka merasa penilainnya udah cukup atau bisa jadi mereka udah boring kali ya dengerin, hehehe. Saat itu aku ditanya macam-macam, mulai perihal kelebihan dan kekurangan diri, pengalaman organisasi saat kuliah, motivasi masuk pertamina, dll. Semua nya coba aku jawab semampuku, hingga interviwer user nya bertanya mengenai berkas yang aku kasihkan, karena ia tidak menemukan transkrip nilai ku. Sedikit kaget, seingatku udah aku masukin semuanya kedalam map, tapi kenapa tidak ada ya? Bapaknya mengkonfirmasi dengan panitia yang ada diluar apakah terselip atau tercecer tadi. Ternyata memang tidak ada. Waduh, ini malapetaka, walau diminta untuk mencari lagi di tas atau bahkan ke rumah, jelas ini menunjukkan ketidakprofesionalanku untuk persiapan wawancara ini. Setelah diliat lagi di tas memang tidak ada, aku beranikan bertanya kepada panitia untuk meminta izin pulang ke rumah (rumah kakakku) siapa tahu transkrip nilai nya ketinggalan disana. Alhamdulillah diizinkan, segera aku turun ke bawah, keluar gerbang, nyari ojek dan meminta nya ngebut menuju rumah kakakku di Mampang, sepanjang perjalanan aku terus berucap semoga beneran ada di rumah transkrip nilai nya, kalau tidak ada usai sudah perjalanan ku menuju perusahaan minyak negara ini.

Sesampainya di rumah, langsung menuju kamar, aku bongkar map-map di tas besar, Alhamdulillah aku menemukan fotocopy transkrip nilai disana . Segera saja aku ke tukang ojeknya, dan tancap gas ke Gambir lagi, Kantor Pertamina. Menghabiskan waktu satu jam pulang pergi Kantor-Kos-Kantor. Sesampainya, di Lt 21, Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina itu, aku mencari Mba’-mba’ orang HR nya, dan menyerahkan transkrip tersebut sebagai kelengkapan berkas. Untunglah Bapak dan Ibu interviewer itu masih dalam pembahasan, semoga transkrip nilai ku ini masih membantu untuk jadi bahan pertimbagan. Tapi jujur saat itu aku sudah pasrah dan memupuskan segala harapan, jika pun lolos itu benar-benar murni adalah kekuasaan Allah. Secara English Speech ku tadi biasa-biasa aja, terus pake acara ketinggalan transkrip lagi. Hari itu adalah hari Jumat, aku dengan beberapa kenalan baru sesama peserta test lainnnya shalat Jumat di Istiqlal, salah satu dari mereka berucap masih sempat untuk berdoa, semoga diijabah katanya. Benar saja, kesempatan shalat diistiqlalku itu aku memang benar-benar berdoa, sama sekali tidak berdoa agar diluluskan, tapi diberi kekuatan dan ketabahan atas setiap keputusan yang ditetapkan jika itu tidak sesuai dengan keiginan.

Pengumuman siapa yang lolos untuk test kesehatan adalah pada sore hari sekitar pukul 16.00, menjelang pengumuman hasil tersebut semua peserta terdiam, sibuk sendiri-sendiri di lantai tertinggi Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina tersebut. Hingga jam-jam yang ditunggupun datang, dan ternyata pengumumannya tidak di pampang di lantai 21, tapi di lantai 5, dekat ruangan HR nya. Segeralah kita bersama-sama turun dengan lift, sesampainya di lantai 5, dari jauh terlihat ternyata hanya 3 orang saja yang lolos untuk tes kesehatan yang akan diselenggarakan pada hari Seninnya. Dan ternyata hasilnya….

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s