Belum Ada Judul (20-25) #tamat

Posted: May 29, 2013 in story

Berikut merupakan sesi terakhir dari cerbung salah seorang sahabat aku di FB nya, kata nya sih bakalan ada sesion kedua, so tunggu aja..:)

Episode #20

Faris masih sedikit terkejut dengan pertanyaan professor Tanaka yang tiba-tiba…

Sebenarnya sejak awal Faris sudah memikirkan akan kemana setelah lulus nanti. Tapi Faris masih sedikit ragu dan belum bisa memastikan. Ia masih melihat beberapa kemungkinan-kemungkinan kedepannya…

Beberapa saat professor Tanaka dan Yuriko menanti jawaban Faris. Mereka terlihat sangat penasaran.

“Sebenarnya saya sudah memikirkan ini sejak lama professor… intinya ya, saya akan tinggal di Jepang setelah lulus nanti, tapi hanya untuk sementara waktu…” jawab Faris…

Sontak professor Tanaka dan Yuriko senang mendengar jawaban Faris…

“Benar Faris??? sungguh?? berapa lama kamu akan tinggal? ” tanya Yuriko penasaran…

“Hmmm… saya belum bisa memastikan Yuriko… sensei saya juga meminta saya untuk lanjut ke PhD, tapi saya belum memutuskan. Tapi kemungkinan saya akan tinggal 5-7 tahun lagi dsini setelah lulus nanti… “, jawab Faris…

“Ooo begitu… tidak masalah Faris… 5-7 tahun juga cukup lama… paling tidak saya bisa bersama kamu 5-7 lagi…” ucap Yuriko…

Faris sedikit terkejut mendengar jawaban Yuriko… dia sedikit penasaran apa maksud jawaban itu…

“Wah, sepertinya kamu menginginkan Faris agar tinggal di Jepang selamanya, bukan begitu Yuriko?? , ucap professor Tanaka dengan nada menggoda…

“Ah… hmm… tidak seperti itu papa…”, jawab Yuriko sedikit malu-malu… jawaban Yuriko langsung disambut tawa dari professor Tanaka dan juga Faris…

“Oh ya Faris… jika kamu tidak jadi lanjut ke jenjang PhD, apa yang akan kamu lakukan??? ” tanya professor Tanaka..

Faris diam sejenak… ia juga selalu memikirkan hal itu…

“Mungkin saya akan mencari kerja professor… cuma saya belum mendapatkan tempat kerja yang sesuai…” jawab Faris sedikit gundah…

“Oh bgitu… ok…ok…” jawab professor Tanaka…

“oh ya Faris, boleh saya tanya sesuatu??? lanjut professor tiba-tiba…

“Silahkan professor…” jawab Faris…

“Faris, kamu kan mahasiswa pertanian… tentunya kamu tahu kondisi pertanian di Jepang… bagaimana menurutmu peran pemerintah selama ini dalam mendukung sektor pertanian di Jepang…” tanya professor Tanaka sedikit serius…

Mendengar pertanyaan dari professor, Faris tiba-tiba langsung bersemangat… ia kemudian mencoba duduk dengan posisi yang siap untuk menjawab pertanyaan itu…

“Kalau menurut saya professor, peran pemerintah selama ini………”…

Faris menjelaskan panjang lebar… ia memulai dengan menguraikan bagaimana kondisi pemerintahan dan juga kondisi pertanian saat ini. Kemudian ia lanjutkan dengan menelaah berbagai kebijakan yang terkait dengan pertanian yagn dikeluarkan oleh pemerintah.

Faris menguraikan secara objektif, khususnya kelebihan dan kekurangan pemerintah dalam membuat kebijakan… tidak hanya opini, Faris juga menguraikan fakta-fakta yang ada, mengaitkan satu sama lain dan terakhir ia menutupnya dengan saran dan apa seharusnya perlu dibenahi dalam mengeluarkan kebijakan terkait pertanian…

Mendengar jawaban itu, professor Tanaka mulai tertarik dengan pola pikir Faris… Yuriko juga sedikit terperangah melihat Faris menguraikan dengan panjang lebar.. Ia tidak menyangka Faris bisa memahami kondisi pemerintahan dan juga pertanian Jepang dengan cukup detail…

Kemudian professor Tanaka tidak menyia-nyiakan moment, ia kemudian melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya…

“Lalu, bagaimana seharusnya peran para professor, peneliti, ahli pertanian, perusahaan di bidang pertanian dalam upaya untuk memajukan pertanian di Jepang??” lanjut professor Tanaka..

“Iya benar professor… menurut saya apa yang telah dilakukan para akademisi, peneliti, ahli pertanian, dalam upaya memajukan bidang pertanian, teknologi, ilmu dasar , dan ilmu terapan, sangat luar biasa… itu juga mengapa saya datang ke negara ini, karena saya juga ingin belajar banyak. Namun ada sedikit hal yang belum teroptimalkan dengan baik yaitu…..”…

Faris kembali melanjutkan uraiannya dengan panjang lebar. Ia mencoba menelaah kondisi yang ada. Setelah 1 tahun ini , ia banyak bergaul dengan para professor, peneliti, ahli pertanian. Ia kemudian mencoba mengukur seberapa besar peran mereka bagi majunya teknologi dan perkembangan ilmu pertanian di Jepang. Ia menemukan bebeberapa hal yang kiranya perlu diperbaiki, dikonsolidasi, dan dipadukan, dan ia yakin jika ini berhasil, Jepang akan semakin maju dunia pertaniannya…

Mendengar jawaban Faris, professor Tanaka lagi-lagi takjub… ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu… Ya selama ini memang banyak pakar pertanian di Jepang. Tapi mendengar jawaban Faris, ia semakin sadar adanya banyak kekurangan disana-sini.

“Lalu Faris, bisa tidak kamu mengukur seberapa besar peran sektor pertanian dalam mendukung perekonomian Jepang???” lanjut professor…

Faris kemudian mengambil pulpen dan kertas… Ia mulai menulis angka-angka dan beberapa diagram… beberapa saat lamanya professor Tanaka dan Yuriko menunggu…

“Baik professor, mohon maaf membuat anda menunggu… ya, mungkin professor bisa melihat angka dan diagram ini… jadi….”

Faris kembali menjelaskan dan menguraikan secara detail. Ia menjelaskan statistik tingkat perekonomian Jepang dan bagaimana sektor pertanian memainkan perannya.

Faris menjelaskan data-data yang ia ambil dari beberapa jurnal penelitian dan ia gabungkan dengan penalarannya selama ini. Ia mencoba mengkritisi beberapa data yang menurutnya kurang valid.

Ia menjelaskan potensi pertanian di setiap daerah, bagaimana produksi tanaman pertanian di setiap daerah, bagaimana strategi pemasaran dan penjulaan hasil pertanian. Tidak hanya itu, ia mencoba untuk menelaah hasil-hasil pertanian yang memiliki potensi ekspor.

Ia juga memiliki beberapa pemikiran bagaimana agar potensi hasil pertanian yang sekarang bisa lebih ditingkatkan dan lebih memiliki daya saing. Bagaimana agar penerapan teknologi yang telah maju dapat lebih ditingkatkan lagi..
Faris juga menggambarkan statistik bagaimana jika semua potensi itu bisa dikembangkan, maka akan meningkatkan perekonomian Jepang sekian persen…

“Wow… wow… subarashii, great…ha..haha…hahahahahahaha…..”, jawab professor Tanaka sambil geleng-geleng kepala melihat Faris… Ia tidak menyangka Faris secerdas itu… Walaupun professor Tanaka adalah ahli hukum, namun ia tidak pernah mendengar suatu uraian terhadap sebuah kebijakan yang sangat komprehensif…

Begitu juga Yuriko yang sejak tadi takjub dengan jawaban Faris.. walaupun ia mahasiswa hukum, Yuriko tidak pernah berpikir sejauh itu dalam memahami kebijakan publik, dan juga hukum. Nampaknya Yuriko harus belajar dari pola pikir Faris…

“Luar biasa Faris… lalu dimana kamu belajar mengenai ini semua?? ” tanya professor Tanaka penasaran…

“Oh itu professor… jika terkait pertanian, saya selalu update berita. Saya mencoba berdikskusi dengan beberapa pakar dan saya analisis sendiri…saya juga selalu membaca jurnal-jurnal terbaru seputar dunia pertanian di Jepang…” jawab Faris…

“Lalu dimana kamu belajar analisis kebijakan publik sehingga kamu memiliki pola pikir seperti itu???” lanjut professor Tanaka…

“Oh kalau itu saya pelajari ketika kuliah S1 dulu professor.. kebetulan saya dulu aktif di organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas dan universitas. Bahkan saya tergabung dalam ikatan senat tingkat nasional…

Disanalah kami para mahasiswa dilatih untuk tahu tentang kebijakan, bagaimana menelaah kebijakan, menganalisis kebijakan, dan bagaimana mengkritisi kebijakan…
Saya juga pernah tinggal di sebuah asrama terbaik yang pernah saya temui. Bersama sekitar 30 orang mahasiswa hebat, saya banyak belajar dari mereka, mempelajari pola pikir mereka…kita dilatih untuk bisa peka terhadap kondisi dan bisa mengeluarkan ide-ide untuk menjawab permasalahan…” jawab Faris mantab…

“Great… dan apakah semua mahasiswa di Indonesia ini seperti anda???” tanya professor…

“Wah kalau itu professor saya kurang tahu pasti…tapi yang jelas, jika professor datang ke Indonesia, maka anda akan bertemu dengan banyak mahasiswa dan pemuda yang cerdas, kritis, dan kreatif… jauh lebih baik dari saya…

Ya memang benar kalau negara saya penuh dengan koruptor, tapi disisi lain, kami juga memiliki generasi2 pemuda yang luar biasa…” jawab Faris sambil tersenyum…

“wah…wah…wah.. saya jadi ingin mengunjungi negara anda suatu saat Faris…” jawab Professor…

“Silahkan professor, saya sangat senang jika anda datang ke Indonesia…” jawab Faris mantap…

Beberapa saat lamanya professor Tanaka memandang Faris dengan tersenyum… ia sedikit takjub dengan karakter Faris, pola pikirnya, ide-idenya… Ia mencoba untuk membandingkan dengan mahasiswa-mahasiswa di Jepang yang rata-rata hanya fokus pada bidangnya masing-masing…

Tapi professor Tanaka menyadari bahwa semuanya da kelebihan dan kekurangan, dan setiap negara punya karakter manusia yang berbeda-beda… Namun intinya professor Tanaka sangat suka dan mengagumi Faris…

“Bagaimana Yuriko, luar biasa bukan Faris???” ucap professor kepada Yuriko…

“ya benar papa, Yuriko tidak menyangka Faris punya pola pikir seperti itu…” jawab Yuriko…

“hahaha… sepertinya memang sudah ditakdirkan kita harus bertemu Faris… sudah ditakdirkan… saya sangat senang… bagimana menurutmu Yuriko??? sepertinya Faris adalah orang yang tepat…” ucap professor sambil memandang Yuriko…

“iya papa, sepertinya Faris orang yang tepat…” jawab Yuriko…

Faris sedikit penasaran dengan pembicaraan professor Tanaka dan Yuriko. Ia bertanya-tanya apa kira-kira maksud perkataaan professor yang kemudian diiyakan oleh Yuriko… namun Faris diam saja…

Professor Tanaka kembali melihat Faris dengan tersenyum. Ia kelihatannya sangat puas dengan Faris…

“Faris, bulan depan setelah kamu diperbolehkan keluar dari rumah sakit ini, dengan hormat saya undang kamu ke rumah saya… saya ingin berbicara panjang lebar”… ucap professor Tanaka..

“Oh…ok baik professor… tidak masalah..” jawab Faris sedikit penasaran …

“baiklah kalau begitu Faris, saya mau permisi dulu… sampai bertemu kembali..”…

Professor Tanaka kemudian meninggalkan Faris dan Yuriko… Yuriko masih disana untuk beberapa saat lamanya…

“Baiklah mas Faris, Yuriko pamit dulu ya… sampai bertemu besok.. bye..bye… ” ucap Yuriko yang kemudian juga meninggalkan Faris…

“bye…bye… hati-hati Yuriko…” jawab Faris…

Faris pun ditinggal sendirian di rumah sakit… sepeninggal professor Tanaka dan Yuriko, Faris terus saja memikirkan apa gerangan yang dimaksud professor Tanaka…

Ia tidak bisa tidur malam itu…

Episode #21

Faris kembali menjalani hari-harinya di rumah sakit dengan penuh semangat. Seminggu lagi ia dapat mulai untuk mencoba berjalan. Ia tidak sabar untuk menunggu saat-saat itu.

Yuriko yang setiap saat menemaninya pun nampak bersemangat membantu Faris. Bahkan waktu yang biasa digunakan Yuriko untuk hal yang lain diluar kuliah sekarang ia fokuskan untuk membantu penyembuhan Faris…

Namun Faris masih tetap penasaran apa maksud pembicaraan professor Tanaka dengan Yuriko saat pertemuan mereka yang terakhir.

Di sisi lain Sarah masih tetap sibuk dengan kuliah dan penelitiannya. Ia juga harus mempersiapkan segala sesuatunya karena ibunya akan datang ke Tokyo.

HUbungannya dengan Habib pun semakin hari semakin baik. Mereka sering berkirim email walaupun hanya
untuk sekedar menanyai kabar. Namun Sarah juga terkadang terpikir akan Faris. Ia ingin sekali mengetahui bagaimana pekembangan kesehatan Faris karena sudah hampir 2 minggu Sarah tidak lagi pernah menjenguknya. Ia juga segan untuk mengirim sms.

“Ah sudahlah, kan sudah ada Yuriko yang menemani…” gumam Sarah dalam hati. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada Yuriko untuk menjaga Faris…

****************

Seminggu pun berlalu… Hari itu adalah hari Sabtu ketika Sarah pagi-pagi buta harus berangkat ke bandara Narita untuk menjemput ibunya… Menurut jadwal ibunya akan tiba di narita pukul 7.30 JST.

Sarah kemudian bergegas menuju Narita menaiki skyliner. Ia tiba di Narita pukul 7.30 JST.

Sekitar 40 menit lamanya Sarah menunggu sampai akhirnya ia bertemu dengan ibunya. Sudah cukup lama Sarah berpisah dengannya.

“Ibu…bu…”, Sarah memanggil ibunya diantara kerumunan para penumpang yang keluar dari pintu kedatangan…

Ibu Sarah menoleh ke arah suara itu dan ia langsung tahu kalau itu adalah suara Sarah. Segera sang ibu bergegas menuju ke arah Sarah…

“Assalamualaikum nak, apa kabar? “, ucap sang ibu…

“Alhamdulilah baik bu…” jawab Sarah yang kemudian langsung memeluk ibunya… Sarah sangat rindu sekali…

Kemudian keduanya bergegas menuju apartment Sarah…

*******************

Hari itu juga merupakan hari pertama Faris sudah boleh mencoba untuk berjalan dan melatih kakinya… Yuriko pun nampak bersemangat sekali… Sejak pagi ia telah bersiap-siap dan menuju rumah sakit… Bahkan ia tidak sempat sarapan bersama orang tuanya…

“Selamat pagi Faris….” kata Yuriko yang tiba-tiba masuk ke ruangan Faris…

“Selamat pagi Yuriko… wah kamu cepat sekali datangnya…” Faris tersenyum…

“Tentu saja, ini kan moment yang spesial…Saya ingin segera melihat kamu bisa berjalan lagi Faris… ” jawab Yuriko…

Faris hanya tersenyum….

Waktu telah menunjukkan pukul 08.00 ketika dokter Kubota dan suster Aoki masuk ke ruangan Faris…

“Halo selamat pagi Faris… selamat pagi Yuriko… ” sapa dokter Kubota…

“Selamat pagi dokter…” jawab keduanya…

“Bagaimana apakah kamu sudah siap Faris?” tanya dokter Kubota…

“Ya, sudah siap dokter…” jawab Faris…

“Baiklah kalau begitu… Namun sebelumnya kamu harus tahu bahwa mungkin ini akan sedikit menyakitkan karena otot-otot kaki kamu akan dilatih… cobalah sebisa mungkin, tapi kalau sudah tidak tahan atau terlalu sakit, silahkan berhenti..
tidak perlu dipaksakan karena penyembuhan tentunya butuh proses…” dokter Kubota menjelaskan…

“Baik dokter saya paham…” ucap Faris…

Yuriko kemudian membawa Faris ke sebuah tempat di dalam rumah sakit yang merupakan tempat khusus untuk melatih kaki bagi korban2 seperti Faris…

Bersama dengan suster Aoki, Yuriko memapah Faris dan meminta Faris mencoba berjalan… Faris sempat terkejut dan sedikit malu ketika Yuriko dan suster Aoki memapahnya… Namun apa boleh buat demi penyembuhan…

****************

Setelah menaiki skyliner dan melanjutkan perjalanan, Sarah dan ibunya pun sampai di apartment Sarah… Setelah beberapa saat beristirahat sang ibu memanggil Sarah…

“Sarah, sini nak… ada yang ingin ibu katakan…” ucap sang Ibu…

“Ya bu…” jawab Sarah sambil duduk di samping ibunya…

“Sebenarnya bagaimana hubunganmu dengan Habib nak???” tanya sang Ibu…

Sarah sedikit kaget ketika ibunya bertanya tentang hal itu…

“Alhamdulilah baik-baik saja bu… ya kemarin mas Habib buru-buru pulang karena ada yang harus diselesaikan…” jawab Sarah sedikit menutupi masalahnya dengan Habib…

“Tidak perlu ditutupi nak, Ibu sudah tahu kalau kalian sebelumnya bertengkar yang menyebabkan Habib kembali ke Indonesia… sebenarnya apa yang terjadi nak?? ” tanya sang ibu…

“oh itu… ah ya benar bu kami ada sedikit masalah… tapi sudah selesai kok bu… alhamdulilah sekarang hubungan Sarah dengan mas Habib sudah kembali normal…” jawab Sarah…

“Oh begitu, syukurlah… oh iya ibu dengar Faris kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit ya?? ” tanya sang ibu…

“oh ya bu benar… sudah 2 minggu ini Sarah tidak pernah menjenguk mas Faris… sepertinya kondisinya sudah semakin baik…”.. lanjut Sarah…

“Sore ini ibu mau menjenguk Faris… antar ibu ya…”

“Mengapa terburu-buru bu… besok saja…” ucap Sarah…

“Ah tidak masalah sekarang saja Sarah..” paksa sang ibu..

“Ok baiklah bu… ” jawab Sarah tersenyum…

*******************

Setengah jam lamanya Faris menjalani latihan pertamanya dan sepertinya ia kelelahan… Ia merasakan sakit sekali pada kakinya… Tapi ia tidak menyerah dan terus melatihnya…

“Sudah lah Faris jangan terlalu dipaksakan…” ucap Yuriko…

“Sedikit lagi Yuriko… sedikit lagi…” ucap Faris…

Yuriko tidak mampu mencegah Faris… ia akhirnya pasrah dan membiarkan Faris melakukan apa yang ingin ia lakukan…

Setelah hampir 1 jam, akhirnya Faris menyerah dan tidak sanggup lagi…

“Baiklah Yuriko… sepertinya saya sudah tidak sanggup lagi…” ucap Faris yang kemudian kelelahan dan mencoba beristirahat…

Setelah beberapa menit istirahat, Yuriko membawa Faris kembali ke kamarnya…

“Bagaimana Faris??” tanya Yuriko…

“Masih agak sulit Yuriko… masih terasa sakit… tapi sudah lumayan… saya sudah bisa sedikit berjalan… ” jawab Faris…

“Masih banyak waktu Faris… saya yakin tidak lama lagi kamu akan sanggup berjalan…” jawab Yuriko…

Faris hanya tersenyum melihat Yuriko…

Yuriko kemudian sibuk membersihkan ruangan. Merapikan pakaian Faris dan lainnya. Dokter Kubota dan suster Aoki pun masuk untuk kembali memeriksa Faris. Mereka cukup lama
bercerita ketika tiba2 terdengar suara seorang ibu…

“Assalamualaikum…” ucap sang ibu…

“Waalaikumussalam…” jawab Faris sambil melihat sang ibu…

Beberapa saat lamanya Faris memandang sang ibu, sepertinya ia sangat mengenali ibu tersebut… dan tiba-tiba ia terkejut…

“Ibu???” panggil Faris..

“Iya ini ibu Faris…. akhirnya kita bertemu juga secara langsung..” jawab sang ibu…

Faris sedikit terkejut ketika melihat ibunda Sarah untuk pertama kalinya. Selama ini mereka hanya berkenalan lewat facebook dan email…

Namun hari ini Faris bisa melihat dan bertemu secara langung..

Episode #22

Faris masih asyik berbicara dengan dokter Kubota ketika tiba-tiba terdengar suara dari seorang ibu…

“Assalamualaikum…” ucap sang ibu…

“Waalaikumussalam…” jawab Faris sambil melihat siapakah gerangan yang mengucapkan salam…

Faris sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa ia mengenal orang itu…

“Ibu???” ucap Faris…

“Iya ini ibu Faris… apa kabar?? jawab sang ibu sambil masuk ke dalam ruangan… Sang ibu adalah ibunda Sarah…

Faris tidak pernah bertemu secara langsung dengan sang ibu.. Hanya melalui facebook dan email…

Faris cukup terkejut melihat ketika ibunda Sarah tiba-tiba ada dihadapannya…

“Alhamdulilah baik bu… Faris tidak menyangka ibu ada dsini… ibu bersama Sarah?” tanya Faris…

“Iya… Sarah sedang menunggu di bawah…”

“Oh bgitu… mari silahkan bu…” Faris mengajak sang ibu untuk duduk di sampingnya…

“Baiklah kalau begitu, sepertinya kamu sedang ada tamu Faris… saya permisi dulu ya… sampai bertemu lagi besok…” ucap dokter Kubota yang kemudian meninggalkan ruangan bersama dengan suster Aoki…

“Baik dokter sampai bertemu besok…”, jawab Faris…

Sang ibu kemudian duduk di sebelah Faris… ia melihat ke sekeliling… kemudian ia melihat Yuriko…

“Oh perkenalkan ini Yuriko bu… ” ucap Faris memperkenalkan Yuriko…

“Halo bu salam kenal, saya Yuriko… saya teman Faris… ” Yuriko memperkenalkan diri…

“halo Yuriko, salam kenal… saya Fatimah, saya ibunda Sarah… ” jawab bu Fatimah…

” Ow ibunda Sarah!!! kapan ibu tiba di Tokyo?” lanjut Yuriko yang sedikit terkejut bertemu dengan bu Fatimah..

“Oh ya tadi pagi saya tiba di Tokyo… saya disini berlibur untuk beberapa hari…” jawab bu Fatimah…

“Oh bgitu… wah pasti Sarah senang sekali ibu ada dsini… mungkin kapan2 kita bisa jalan-jalan ibu… akan saya perkenalkan kota Tokyo kepada ibu…” ucap Yuriko…

“Wah terima kasih Yuriko… mudah2an nanti ada kesempatan…” balas bu Fatimah sambil tersenyum ke arah Yuriko…

“Kalau begitu saya mungkin pamit dulu Faris,…, sampai bertemu esok… saya juga pamit ya bu Fatimah.. sampai bertemu lagi..” ucap Yuriko…

“hati-hati Yuriko… ” jawab Faris…

Yuriko kemudian meninggalkan Faris dan bu Fatimah. Sesampainya di bawah ia bertemu dengan Sarah yang sedang duduk sendirian…

“Halo Sarah… lama tidak bertemu… apa kabar??? “, sapa Yuriko sedikit terkejut melihat Sarah…

“Halo Yuriko… ya lama tidak bertemu… kabar baik… kamu juga sepertinya baik Yuriko…” balas Sarah yang disambut senyuman dari Yuriko…

“Sudah 2 minggu kamu tidak pernah datang kesini menjenguk Faris… ada masalah kah?” tanya Yuriko penasaran karena tidak pernah lagi melihat Sarah..

“Oh itu… maaf Yuriko, saya terlalu sibuk di kampus. Saya tidak sempat menjenguk mas Faris…” jawab Sarah…

“Ok baiklah… tidak masalah… oh ya kamu datang kesini bersama ibu ya?? saya tadi sempat bertemu ibu di atas… mungkin nanti kita bisa jalan2 bersama keliling TOkyo??…” pinta Yuriko…

“Terima kasih Yuriko… mudah2an ada kesempatan…” jawab Sarah…

“Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya Sarah… kebetulan saya ada keperluan..” ucap Yuriko sembari meninggalkan Sarah…

Namun belum sempat Yuriko meninggalkan Sarah, Sarah tiba2 memegang tangan Yuriko…

“Tunggu sebantar Yuriko…”, pinta Sarah…

Yuriko sedikit terkejut….

“Oh…ya Sarah… ada apa???” tanya Yuriko…

“Yuriko… sepertinya saya tidak bisa lagi kesini menjenguk mas Faris… mohon maaf dan tolong jangan tanya mengapa… ” ucap Sarah yg tiba2 menghentikan omongannya… Yuriko dengan serius mendengarkan Sarah…

“Saya ingin memohon kepada kamu supaya bisa tetap bisa menjaga mas Faris sampai mas Faris sembuh … please Yuriko….mas Faris sudah begitu baik kepada saya… tapi saya tidak bisa menolong nya ketika dia sedang membutuhkan…” lanjut Sarah dengan suara sedikit terbata-bata..

Sarah menangis…

Yuriko yang tidak tahu persoalan apa yang sedang dihadapi Sarah sedikit terkejut melihat Sarah yang tiba-tiba menangis… ia kasihan melihat Sarah..

“Please Sarah jangan menangis… baiklah jangan khawatir… saya berjanji padamu akan menjaga Faris sampai ia sembuh… please jangan menangis… ” ucap Yuriko…

” terima kasih Yuriko… terimakasih… ” jawab Sarah sambil mengusap air matanya…

untuk beberapa saat Sarah memandang wajah Yuriko… ia ingin meyakinkan hatinya bahwa ia bisa mempercayakan Faris kepada Yuriko…

“OK Sarah… jangan khawatir… saya juga nantinya akan selalu memberi kabar kepadamu tentang Faris… oh iya hari ini Faris sudah boleh mencoba berjalan dan melatih kakinya… ya,. walaupun ia sangat kesakitan, tapi kami akan mencoba terus…
mudah2an ia segera sembuh…” ucap Yuriko…

“benarkah Yuriko??? mas Faris sudah diperbolehkan berjalan…??alhamdulilah…alhamdulilah… terima kasih Yuriko atas perhatian kamu selama ini… dan terima kasih juga untuk mengirim kabar kepada saya tentang perkembangan mas Faris.. ” ucap Sarah sedikit senang mendengar kabar dari Yuriko…

“kalau begitu saya permisi dulu… sampai bertemu lagi Sarah… bye..bye…” ucap Yuriko…

“Bye…bye… hati-hati Yuriko…” jawab Sarah melambaikan kedua tangannya… ia terus melihat Yuriko sampai tak terlihat lagi dari pandangannya…

“Terima kasih Yuriko… terima kasih…” gumam Sarah dalam hati sambil membungkuk ke arah Yuriko…

******************

Setelah Yuriko keluar dari ruang Faris, bu Fatimah mulai berbicara dengan Faris…

“Apa kabar Faris?? bagaimana kesehatanmu? saya tidak menyangka akhirnya kita bisa bertemu secara langsung…” ucap bu Fatimah…

“Baik bu alhamdulilah… kaki saya juga sepertinya sudah mulai membaik… hari ini saya sudah diperbolehkan mencoba berjalan… ”

“Oh ya kenapa ibu tidak memberi kabar kalau mau ke Tokyo??” tanya Faris…

“Oh ini juga mendadak kok nak Faris… ibu ada urusan yang sangat penting… ” jawab bu Fatimah…

“oh bgitu… urusan apa bu?” tanya Faris penasaran…

“urusan Sarah, habib dan kamu Faris… ” jawab bu Fatimah to the point…

Sontak Faris terkejut mendengar hal itu… ia sangat penasaran kiranya apa gerangan yang sedang terjadi…

sebenarnya Faris juga merasakan bahwa sesuatu sedang terjadi…

“oh tentang saya bu? apa yang terjadi bu??” ucap Faris penuh penasaran…

“Kamu tahu tidak Faris kalau Habib sudah 2 minggu yang lalu pulang ke Indonesia??? ia bertengkar dengan Sarah…” ucap sang ibu…

Faris sangat terkejut mendengar hal itu… ia sekarang yakin bahwa sesuatu memang benar-benar terjadi… ia tidak menyangka bahwa Sarah dan Habib sedang bertengkar….

“Apakah mereka baik-baik saja bu? ” tanya Faris penasaran…

“Alhamdulilah sepertinya mereka sudah baikan…tapi yang membuat saya khawatir adalah penyebab mereka bertengkar Faris…” ucap bu Fatimah….

Faris senang mendengar bahwa hubungan mereka telah membaik… tapi ia sedikit terkejut akan kata2 terakhir bu Fatimah… ia khawatir jika itu ada kaitan dengannya…

“Itu karena Sarah terlalu perhatian kepadamu Faris…” ucap bu Fatimah ….

Faris sangat sedih mendengar hal itu… ternyata perkiraannya benar…

Faris kemudian menutup kedua matanya… ia sangat menyesal…

Berkali-kali ia ucapkan istighfar dalam hati memohon ampun kepada sang rabb…

Faris tidak berani membuka matanya… ia sangat malu utk melihat bu Fatimah… apalagi ia pernah berjanji akan menjaga Sarah baik2 dan akan bersikap layaknya seorang pria kepada wanita yg sudah bersuami…

Episode #23

Faris masih menutup matanya…

Ia sangat malu memandang bu Fatimah setelah mengetahui bahwa Sarah dan Habib bertengkar karenanya…

“Faris… nak Faris… ” panggil sang ibu.

Faris kemudian membuka matanya… sedikit demi sedikit ia pandang wajah bu Fatimah… ia pun melihat wajah seorang ibu yang sangat peduli dengan
kehidupan putrinya…

“Maafkan saya bu… maafkan saya… saya khilaf… tolong jangan salahkan Sarah… Sarah hanya mencoba peduli terhadap saya.. mungkin saya yang sepertinya memanfaatkan kesempatan…

maafkan saya..” jawab Faris sambil sejenak memandang bu Fatimah…

“Nak Faris… sebenarnya ibu 100% tidak menyalahkanmu… bagaimana pun juga Sarah juga khilaf yang membuat Habib salah paham nak… ya sudah jadikan ini sebuah pelajaran, ambil saja hikmahnya…
Itulah mengapa dulu ibu mewanti-wanti kepadamu nak untuk selalu ingat bahwa Sarah itu sudah bersuami… tapi apalah daya, iman kita yang lemah membuat syetan mudah sekali mengarahkan kita kepada jalan kemungkaran…
bahkan dengan cara yang sangat halus yang kita sendiri tidak menyadarinya…” ucap bu Fatimah…

“iya bu benar… benar sekali… saya mohon maaf bu… tolong juga sampaikan maaf saya kepada Sarah dan Habib ya bu…” ucap Faris.

“Insya allah Faris… insya allah…” bu Fatimah tersenyum melihat Faris…

“oh ya gadis Jepang tadi, kalau tidak salah Yuriko ya? ia yg selalu datang kesini merawatmu Faris?? ucap bu Fatimah…

“Iya bu benar… kebetulan dia adalah putri dari professor Tanaka, orang yang telah menabrak saya…” jawab Faris.

“Orangnya cantik, sepertinya sih baik hati…” lanjut bu Fatimah…

“Oh ya benar bu… Yuriko sangat baik sekali… ia sangat perhatian terhadap saya. Ia yang terus menemani saya dsini setelah Sarah tidak lagi datang kemari…
ya… walaupun terkadang perhatiannya sedikit berlebihan bu… “ucap Faris tersenyum…

“Oh bgitu… wah, jangan2 dia suka terhadapmu Faris…” goda sang ibu…

“Ah ibu bisa saja… mana mungkin bu putri seorang professor, cantik, baik hati, menyukai saya seorang pemuda yang ya… hanya seperti ini…” ucap Faris sedikit malu-malu..

“Ya siapa tahu Faris… siapa tahu dia memang suka… siapa tahu nanti suatu saat ternyata memang dia adalah jodohmu… siapa tahu suatu saat akhirnya kamu membawanya ke Indonesia sebagai seorang istri.. siapa tahu saja Faris…
Namanya rahasia Allah itu kan tiada satu makhluk pun dapat mengetahuinya… iya kan…” ucap bu Fatimah…

“Hmmm… ya benar bu… tapi.. ya Faris juga tidak tahu bu… kita lihat nanti saja…” ucap Faris sambil tersenyum…

Bu Fatimah tersenyum memandang Faris…

“Baiklah kalau begitu ibu permisi dulu ya Faris… semoga kamu cepat sembuh. Insya allah sebelum pulang ke Indonesia ibu akan menjengukmu… Assalamualaikum…

“Terimakasih bu sudah datang kesini menjenguk saya… terima kasih juga atas nasehatnya…salam saya buat Sarah bu…tolong sampaikan terima kasih saya… Waalaikumussalam…” jawab Faris…

Bu Fatimah kemudian meninggalkan Faris sendirian di rumah sakit…

Faris terus memandang bu Fatimah sampai bu Fatimah benar-benar keluar dari ruangan Faris… Ia memandang dengan wajah penuh penyesalan karena telah membuat sang ibu sakit hati…

Faris terus berpikir… koreksi diri… sambil memantapkan hatinya… Ia belajar sesuatu yang penting hari ini, soal hidup dan kehidupan…

**************

Sarah yang sejak tadi duduk melamun akhirnya tersadar ketika bu Fatimah akhirnya datang…

“Mari Sarah kita pulang… insya allah urusan sudah beres… ” ucap bu Fatimah…

“Oh iya bu…” jawab Sarah… sebenarnya Sarah sangat penasaran kiranya apa yang ibunya telah bicarakan dengan Faris… ia ingin sekali bertanya, tapi ya mungkin lain waktu saja …

Waktu telah menunjukkan pukul 20.00 ketika Sarah dan ibunya tiba di apartment Sarah…

Setelah dari rumah sakit, mereka sempat jalan2 ke beberapa lokasi yang cukup menarik…

Sarah segera menyiapkan makanan karena mereka tidak sempat makan di luar… mereka makan di atas kotatsu (semacam meja dengan penghangat dibawahnya)…

“Bu, sebenarnya ibu tadi ngobrol tentang apa dengan mas Faris?? “… ucap Sarah membuka percakapan…

“Oh itu…gak terlalu penting kok nak… ya cuma pembicaraan biasa saja… ” jawab bu Fatimah tersenyum ke Sarah…

“oh bgitu ya… baik deh bu… ” ucap Sarah…

“Dulu sebelum kamu menikah dengan Habib, ibu hampir saja menjodohkan kamu dengan Faris… tapi karena alasan masih kuliah, Faris belum bisa… ” ucap bu Fatimah tiba-tiba sambil melahap makanan…

“praaakkkk….”…. tiba2 saja sendok yang sedang dipegang Sarah terjatuh di atas meja… Sarah sangat terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan ibunya…

“Sarah…Sarah… kamu tidak apa2?” tanya bu Fatimah sedikit terkejut mendengar suara itu…

Sarah tidak menjawab ibunya… ia diam terpaku…

Segera ia teringat akan cerita Faris saat mereka pertama kali bertemu. Faris sempat bilang kalau dia sangat mencintai gadis yang rencananya akan dijodohkan dengannya…
dan itu adalah Sarah sendiri…

Faris tahu kalau gadis yang dicintainya adalah Sarah, sedangkan Sarah tidak mengetahui bahwa Faris adalah orang yang pernah hampir dijodohkan dengannya, dan mencintai dirinya…

Sarah juga kembali teringat ketika Faris selalu bercerita tentang gadis itu… bagaimana Faris mencoba menutupi penyesalannya menolak lamaran sang ibu… bagaimana Faris hanya bisa memendam perasaannya… bagaimana Faris berusaha melepas keinginan untuk bertemu sang gadis dengan hanya melihat foto sang gadis… dan ternyata sang gadis
malah diterima di universitas yang sama dan akhirnya hampir setiap saat bertemu dengan Faris…

Sarah hampir menangis…

“Maaf bu, Sarah mau ke kamar, ibu lanjut ya makannya…” ucap Sarah… Ia segera meninggalkan sang ibu…

Sarah menuju ke kamarnya… disana ia menangis sendirian… ia seperti bisa merasakan bagaimana perasaan Faris… apalagi selama ini Faris melihat Sarah sangat mesra dengan Habib ketika awal-awal Habib di Tokyo…

Ntah kenapa ia sangat sedih sekali… ntah kenapa hatinya sangat sakit… ntah kenapa tiba2 Sarah sangat peduli terhadap Faris… ntah kenapa Sarah terus memikirkan Faris…

bersambung…

Episode #24

Sarah terkejut ketika mendengar kata-kata ibunya yang tiba-tiba…

Ia tidak menyangka bahwa Faris adalah orang yang pernah hampir dijodohkan dengannya… Dengan menangis Sarah masuk ke dalam kamar…

Bu Fatimah menyusulnya… Ia terkejut ketika melihat Sarah berbaring sambil menangis…

“Sarah… Sarah… ada apa nak?? ” tanya sang ibu sambil membelai rambut Sarah…

“Oh tidak ada apa2 bu… tidak ada apa2…” jawab Sarah berusaha menghentikan tangisannya… tapi ia tidak bisa…

“Ada apa nak? apa karena kata2 ibu? iya ibu memang pernah hampir menjodohkan kamu dengan Faris nak. Maaf ibu tidak pernah menceritakan sebelumnya…”, ucap bu Fatimah mencoba menenangkan Sarah…

“Tidak apa2 kok bu.. tidak masalah…” jawab Sarah yang sambil menahan tangisannya…

“Lalu kamu mengapa menangis Sarah? sebenarnya hubungan kamu dengan Faris sejauh apa nak?? ” tanya bu Fatimah penasaran dengan sikap Sarah…

Mendengar kata-kata ibunya Sarah dengan segera berhenti menangis. Ia tidak ingin membuat resah ibunya. Ia mencoba untuk menutupi apa yang sedang ia rasakan.
Sarah kemudian bangun dan tersenyum ke sang bunda…

“Maafkan Sarah bu, sepertinya Sarah terlalu memikirkan hal yang aneh2, ya sudah kita lupakan saja ya…ah Sarah ternyata masih lapar… makan lagi yuk bu..” ajak Sarah sambil menarik tangan bu Fatimah.. mereka kembali melanjutkan makan malam…

Bu Fatimah yang mulanya sedikit penasaran dengan sikap Sarah akhirnya tidak lagi mengungkit2nya… Ia mencoba berpikir positif dan yakin bahwa Sarah pasti mampu menyelesaikannya sendiri…

Keduanya pun kembali makan malam …

**************************

Hari demi hari dilalui Faris di rumah sakit dengan banyak melatih kakinya untuk berjalan… Faris merasa senang adanya Yuriko yang selalu menemani dan memberikan semangat…

Sedikit demi sedikita ia sudah mulai bisa berdiri dan rasa sakit pun sudah tidak lagi separah ketika pertama kalinya…

Hampir 1 jam Faris berlatih… ia kemudian kelelahan dan Yuriko pun membawanya ke ruangan…

“Bagaimana Faris, apakah kamu merasa lebih baik?

“sebenarnya masih terasa sakit Yuriko… tapi ya sudah jauh lebih baik.. ” jawab Faris…

“syukurlah Faris… oh ya, ibunda Sarah kan masih di Tokyo, mungkin lusa sudah kembali ke Indonesia.. saya berencana mengajak kamu dan mereka berdua makan malam.. bagaimana menurutmu Faris?” tanya Yuriko…

“oh bgitu ya…ya boleh saja Yuriko… terserah kamu saja…”, jawab Faris sedikit terkejut dengan kata-kata Yuriko… Faris sedikit gugup karena tentunya akan bertemu Sarah disana…

“Baiklah saya coba menghubungi mereka ya…” ucap Yuriko…

Yuriko kemudian menghubungi Sarah… beberapa saat kemudian terlihat Yuriko dan Sarah mengobrol… dalam hati Faris sangat berharap bahwa Sarah dan Ibunya menerima tawaran Yuriko… Faris ingin sekali bertemu dengan Sarah…

Yuriko menutup telpon dengan senyuman..

“Yes, mereka bersedia Faris… rencananya besok malam… saya segera akan mencari restoran di sekitar sini, jadi tidak terlalu jauh buatmu… ” ucap Yuriko…

“oh iya… syukurlah Yuriko… ok… baiklah…” jawab Faris gugup…

“Baiklah klo bgitu, saya permisi dulu Faris… sampai bertemu besok ya… saya datang jam 17.00. bye…bye… ” ucap Yuriko sambil meninggalkan Faris..

“bye..bye.. hati-hati Yuriko… sampai bertemu besok…” jawab Faris…

********************

Faris terbangun ketika ia mendengar alarmnya berbunyi tanda subuh telah tiba… segera ia sholat.

Hari itu adalah hari dimana Faris akan bertemu dengan Sarah setelah sekian lama… ia sebenarnya merasa serba salah… ia sedikit malu untuk bertemu dengan Sarah mengingat masalah yang telah terjadi antara Sarah dengan Habib…

Namun demikian ia tetap ingin melihat Sarah…

Tanpa terasa waktu berlalu dengan cepat dan telah menunjukkan pukul 17.00 ketika Yuriko tiba di rumah sakit…

“Ah sudah datang Yuriko…” tanya Faris yang dibalas dengan anggukan dari Yuriko…

Yuriko kemudian menyiapkan pakaian Faris dan juga kursi roda yang akan Faris pakai… mereka janji bertemu Sarah di restoran pukul 18.30.

Pukul 18.10 Faris dan Yuriko tiba di restoran… segera mereka menuju lokasi meja makan yang telah dipesan…

Sekitar 10 menit lamanya mereka menunggu ketika Sarah dan bu Fatimah akhirnya datang juga…

“Assalamualaikum mas Faris… halo Yuriko…”, sapa Sarah…

“Halo Sarah akhirnya datang juga…silahkan duduk”, jawab Yuriko…

“Waalaikumussalam Sarah, bu Fatimah…” jawab Faris dengan suara sedikit pelan…

Faris senang akhirnya bisa melihat Sarah… tapi hatinya juga merasa sedikit tidak enak mengingat apa yang telah terjadi…

Yuriko duduk di sebelah Faris dan Sarah disebelah bu Fatimah… posisi Sarah duduk tepat berhadapan dengan Faris…

Yuriko segera memesan makanan…

Sambil menunggu makanan mereka banyak bercerita… apalagi Yuriko yang sangat bersemangat menceritakan apa saja yang berkaitan dengannya… ocehan Yuriko ternyata disambut oleh bu Fatimah…
mereka mengeluarkan canda-canda yang membuat semuanya tertawa…

Faris hanya terdiam dan menikmati pembicaraan Yuriko dan bu Fatimah… sesekali ia memandang Sarah dan tersenyum, kemudian ia segera memandang ke arah yang lain.. terkadang juga menunduk…

Sarah juga tak banyak bicara… ia juga hanya menikmati pembicaraan ibunya dengan Yuriko…

Faris sebenarnya ingin memulai pembicaraan dengan Sarah… tapi ia sungkan…

“Mas Faris… apa kabar?” tanya Sarah tiba-tiba…

Faris yang tertunduk tiba-tiba melihat ke arah Sarah…

“i..iya.. Sarah… ah, alhamdulilah kabar baik… alhamdulilah… kamu apa kabar?”, balas Faris…

“Alhamdulilah mas, Sarah juga baik…” jawab Sarah…

Setelah itu mereka kembali diam seribu bahasa… tidak ada lanjutan pembicaraan… yang ada hanya kadang-kadang saling pandang dan tersenyum…
Faris malah banyak memandang ke bawah atau mellihat ke arah bu Fatimah dan Yuriko…

“Loh kok Faris dan Sarah diam saja sih?”, tanya Yuriko tiba-tiba..

“Oh itu… ah tidak ada apa2…”, jawab keduanya serentak tanpa sadar…

Mendengar mereka menjawab berbarengan Yuriko dan bu Fatimah pun tertawa… begitu juga dengan Faris dan Sarah…

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya makanan pun tiba… bu Fatimah sangat menikmati masakan Jepang yang memang khusus dipesan oleh Yuriko… ia makan sangat lahap…

Sedangkan Faris makan hanya sedikit… ia kehilangan seleranya, tidak seperti biasanya… Sarah juga…

“Bagaimana bu masakannya? enak bukan??” tanya Yuriko kepada bu Fatimah…

“Wah..wah… ini lezat sekali Yuriko… terima kasih telah mengajak saya kesini..” balas bu Fatimah..

“Sayangnya ibu besok sudah pulang ya bu… kalau dsini lebih lama lagi, pasti saya ajak keliling2 kota sambil menikmati hidangan Jepang yang jauh lebih enak…” lanjut Yuriko tersenyum..

“Wah sayang sekali ya Yuriko… tapi, ya mudah2an ada kesempatan saya datang kesini lagi… nanti saya kan memberi kabar…” jawab bu Fatimah..

Yuriko tersenyum mendengar perkataan bu Fatimah…

Sekitar 1 jam lamanya mereka berada di restoran…

“Sepertinya waktu sudah semakin malam… sebaiknya mari kita pulang…” ucap bu Fatimah…

“Oh ya benar bu…”, ucap Yuriko…

“Baiklah Yuriko, saya dan Sarah mengucapkan terima kasih atas undangan makan malamnya… lezat sekali makanannya… terima kasih… oh iya insya allah besok saya akan pulang ke Indonesia… sekaligus saya ingin pamit kepada Yuriko dan nak Faris…

kepada nak Faris, ibu doakan kamu cepat sembuh ya… jangan lupa kasi-kasi kabar ke ibu… ibu juga mohon doanya semoga di perjalanan lancar, selamat sampai tujuan…”.. ucap bu Fatimah…

“Amin bu, semoga ibu selamat sampai tujuan… dan terimakasih atas kehadirannya di Tokyo…” jawab Faris…

“Sampai bertemu lagi ya bu… jangan lupa untuk memberi kabar jika kesini lagi…” ucap Yuriko…

Bu Fatimah tersenyum ke arah Yuriko… segera ia dan Sarah pergi… Faris terus saja menatap ke arah Sarah, berharap Sarah juga menatap ke arahnya… tapi ternyata tidak…

“Baiklah Faris… mari kita pulang…” ajak Yuriko…
“Ya… terima kasih Yuriko untuk malam ini…” ucap Faris…

Yuriko kemudian mengantar Faris kembali ke rumah sakit…

Malam itu pun menjadi saksi akan gejolak perasaan yang serba tak menentu khususnya bagi Faris dan Sarah… mereka memendam perasaan sendiri-sendiri…

Faris yang ingin sekali berbicara dengan Sarah dan meminta maaf… begitu juga Sarah ingin sekali berbincang dengan Faris setelah mengetahui bahwa Faris adalah pemuda yang pernah dijodohkan dengannya…
Episode #25

Seminggu telah berlalu setelah kepulangan bu Fatimah ke Indonesia… Kedatangan bu Fatimah ke Tokyo benar-benar menjadi pelajaran berharga bagi Faris dan juga Sarah…

Walaupun akhirnya terkuak rahasia yang selama ini tersimpan antara Faris dan bu Fatimah, namun akhirnya semuanya menjadi jelas… semuanya menjadi paham… dan semuanya semakin mudah untuk menempatkan dirinya masing-masing, khususnya bagi Faris dan Sarah…

Walaupun Sarah masih sedikit gundah ketika tahu akan rahasia itu, namun ia senang karena ia akhirnya mengetahui siapakah orang yag pernah dicintai oleh Faris…

Awalnya Sarah masih sedikit salah tingkah ketika berhadapan dengan Faris, namun lambat laun ia semakin bisa menempatkan dirinya dan melupakan masa lalu…

Faris juga merasa bersalah kepada Habib dan Sarah… Ia tidak menyangka sikapnya akan menimbulkan masalah diantara mereka… namun sedikit demi sedikit Faris membangun komunikasi dengan Habib dan juga Sarah…

Ia meminta maaf…

Ya benar… semuanya pasti ada hikmahnya…

***********************************

Ditemani oleh Yuriko, Faris menjalani hari-harinya di rumah sakit… sedikit demi sedikit kakinya sudah mulai bisa digerakkan… setiap hari Faris berusaha keras melatih kakinya…

Ia ingin segera sembuh dan kembali ke kampus…

Akhirnya tanpa terasa 2 bulan pun berlalu sejak hari ketika Faris dibawa ke rumah sakit akibat kecelakaan… Saat ini Faris sudah boleh pulang.. Ia terpaksa harus menggunakan tongkat karena kakinya belum sembuh total…

Dengan diantar Yuriko Faris kembali ke apartemen nya… ditinggal selama 2 bulan membuat apartemen Faris sedikit kotor… Yuriko segera membantu membersihkan…

“Terima kasih Yuriko atas bantuanmu selama ini… “, ucap Faris…

“Oh tidak masalah Faris… saya senang kamu sudah sembuh…”, jawab Yuriko…

“Mulai besok saya akan ke kampus… saya sudah banyak ketinggalan penelitian dan harus segera dikejar…”

“Oh ya benar Faris… oh ya kamu sudah kuat berjalan ke kampus? saya bisa mengantarmu setiap hari kalau kamu mau Faris…”, pinta Yuriko…

“Oh tidak masalah Yuriko… saya bisa sendiri… saya tidak ingin lagi merepotkan kamu…” jawab Faris…

“Oh bgitu.. baiklah… kalau begitu saya pulang dulu Faris… nanti saya akan sering mampir kesini menjenguk kamu… atau kita bisa bertemu di kampus… bye…bye…”, ucap Yuriko…

“bye… bye… terima kasih Yuriko…sampai bertemu lagi…”, jawab Faris…

Yuriko pergi meninggalkan Faris sendirian di apatonya… Berada 2 bulan di rumah sakit membuat Faris sedikit linglung dengan kondisi sekitar…

Faris kembali ke kehidupan asalnya… Ia harus kembali fokus untuk melakukan penelitian…

Dengan menggunakan tongkat, Faris berangkat ke kampus dan kembali melakukan penelitan… Faris semakin sibuk karena ia harus menyelesaikan beberapa penelitian yang sempat tertunda…

Waktunya ia gunakan hampir seluruhnya di lab..Ia masih punya 1 tahun lagi sebelum menyelesaikan masternya…

Faris sangat sibuk dengan penelitiannya.. beberapa kali bahkan ia harus menginap di kampus…
Kesibukannya membuat ia semakin jarang mengikuti kegiatan2 perhimpunan pelajar indonesia.. ia harus segera memulai untuk menulis thesis nya…

Hingga suatu saat tiba2 Yuriko datang menemui Faris di lab…

“halo Faris, apa kabar? ” sapa Yuriko yg tiba2 sudah berada di lab Faris…

“oh Yuriko!!!… lama tak bertemu…”, jawab Faris sedikit terkejut melihat Yuriko …

“wah..wah… sepertinya kamu sibuk sekali Faris… beberapa kali aku ke apartememu tp kamu tidak ada dsana…”

“maaf Yuriko.. saya menghabiskan banyak waktu di lab… ada beberapa penelitian yg harus segera saya selesaikan … oh ya silahkan duduk Yuriko… oh ya kamu mau minum apa?? ” ucap Faris sambil pergi menyiapkan minuman…

“oh apa saja Faris…terima kasih”, jawab Yuriko…

Beberapa saat kemudian Faris datang dengan membawa 2 gelas teh Jepang…

“Oh ya Faris, kamu masih ingatk kalau papa pernah berkata akan mengundang kamu ke rumah kami setelah kamu sembuh?”, tanya Yuriko tiba-tiba…

“ah ya benar Yuriko… saya masih ingat… bahkan sampai sekarang saya masih penasaran dengan undangan itu…” jawab Faris…

“nah saya datang kesini untuk mengirimkan pesan papa Faris… papa ingin mengundang kamu makan malam hari Sabtu ini… bagaimana kamu bisa???”, tanya Yuriko…

“Oh ya sebentar Yuriko…”, jawab Faris sambil mengecek jadwal nya…

“Oh bisa Yuriko… tidak masalah… saya akan datang ke rumah kamu… oh ya alamat kamu dimana?”, tanya Faris…

“tidak perlu Faris… nanti kamu akan saya jemput di kampus pukul 6 sore… kita akan sama2 ke rumah… ok !!!”, balas Yuriko…

“oh bgitu… baiklah Yuriko… terimakasih…”, lanjut Faris..

“kalau begitu saya mau permisi dulu Faris… sampai ketemu sabtu ini… bye…bye…”, ucap Yuriko meninggalkan Faris…

“bye…bye… hati-hati Yuriko…sampai ketemu sabtu ini…”, jawab Faris sambil mengantar Yuriko ke depan pintu…

Faris terus memandangi Yuriko sampai Yuriko hilang dari pandangannya…
Ia masih terus penasaran apa kira-kira gerangan yang ingin dibicarakan professor Tanaka… ia tidak sabar menunggu…

**********************

Sabtu pun tiba… hari itu Faris sengaja mempercepat penelitiannya dan segera bersiap-siap… sebentar lagi Yuriko akan menjemputnya…

Tepat pukul 5.50 sore Yuriko tiba di lab Faris…

“halo Faris, sudah siap???” tanya Yuriko…

“Halo Yuriko… ya saya sudah siap… ayo kita berangkat…”, balas Faris mantap…

Mereka berdua berangkat menggunakan mobil Yuriko… mobil itu melaju kencang melintasi kampus dan keluar ke jalan besar menuju daerah Roppongi… disanalah rumah professor Tanaka berada…

Sekitar 30 menit mobil itu melaju di aspal hitam sebelum akhirnya berhenti di sebuah rumah mewah di kawasan itu… sejenak Faris takjub dengan kemewahannya… semuanya tampak indah, rapi, dan bersih…

“halo Faris lama tidak bertemu… bagaimana kabarmu??” sapa professor Tanaka yang telah menunggu Faris di depan pintu…

“halo professor… apa kabar? ya lama tidak bertemu… kabar saya baik… ” jawab Faris…

“Syukurlah Faris… nampaknya kakimu juga semakin sembuh… oh mari silahkan masuk… “, ajak professor Tanaka…

Professor Tanaka segera mengajak Faris masuk ke dalam rumah… mereka langsung menuju ruang makan…

“Oh ya Faris, perkenalkan ini istri saya… dia koki kita malam ini, hahahaha….”, ucap professor sambil memperkenalkan istrinya…

“Halo bu, salam kenal, saya Faris…”, ucap Faris memperkenalkan diri…

“Halo Faris… saya istri professor Tanaka… ya saya banyak mendengar tentang kamu… khususnya dari Yuriko… karena setiap hari Yuriko selalu berbicara tentang kamu… bukan bgitu Yuriko?” goda sang ibu kepada Yuriko…

“Mama…!!!!”, jawab Yuriko sedikit malu-malu dan membuat semuanya tertawa…

Malam itu sang ibu memasak makanan special… namun sebelumnya karena Yuriko telah memberitahu bahwa Faris adalah seorang muslim, sang mama pun menyiapkan makanan yang bisa disantap oleh Faris…

Dengan lahapnya mereka menyantap makanan sambil banyak bercerita khusunya mengenai Faris dan Yuriko…

“Oh ya professor… rumah ini kelihatannya sepi sekali… apa anak-anak professor yang lain sedang tidak di rumah?”, tanya Faris…

“hahaha… saya hanya punya satu anak Faris, dialah Yuriko… dia putri semata wayang kami…”, jawab professor Tanaka…

“Ooooo bgitu ya…”, jawab Faris sambil mengangguk-angguk memandang Yuriko…

“Baiklah kalau bgitu… sepertinya kita sudah selesai makan… mari ke ruang tamu…” ajak professor Tanaka…

Keempatnya kemudian menuju ruang tamu… mama Yuriko membawa beberapa buah dan minuman…

Mereka duduk santai di atas sofa… Yuriko duduk di sebelah Faris…

“Baiklah Faris… seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya bahwa saya memiliki sesuatu yang ingin saya sampaikan kepadamu… tolong dengarkan baik-baik…”, ucap professor dengan serius…

Faris memandang professor dengan serius… ia semakin penasaran dan tidak sabar menunggu apa gerangan yang ingin disampaikan sang professor…

“Faris…terus terang saya sangat kagum dengan kamu… sampai sakarang saya masih terus terbayang diskusi kita yang terakhir kali seputar sistem pemerintahan dan sistem pertanian yang ada di Jepang… kamu masih ingatkan?, tanya professor…

Faris mengangguk…ia masih ingat ketika terkahir kali mereka berdiskusi dan membuat Faris harus berbicara panjang lebar…

Professor Tanaka kemudian melanjutkan…

“Faris… pengetahuan kamu, kemampuan analisis kamu… terus terang membuat saya sangat menghargai kualitas kamu… sebenarnya saat ini saya juga sedang menekuni bidang kebijakan publik, dan sedikit banyak juga menyinggung masalah pertanian, sebagai salah satu sektor yang penting di Jepang.
Terus terang saya tergabung dalam sebuah partai tertentu… mereka mengusung saya untuk duduk di parlemen dalam pemilu tahun depan… saya tidak tahu apakah kemudian nantinya saya akan menduduki kursi perdana menteri atau tidak ketika nantinya saya menduduki kursi di parlemen… tapi yang pasti, saya akan
duduk di parlemen pada pemilu tahun depan… untuk persiapan kesana, saya sedang membangun sebuah konsep pemerintahan yang unggul, berkompetensi, dan professional, khususnya pada bidang yang nantinya akan saya tekuni, yaitu kebijakan publik yang sedikit banyak menyinggung masalah pertanian…

Saya sudah melihat kemampuan analisis kamu… cara berpikir kamu…luar biasa!!!!… jika kamu tidak keberatan, saya ingin mengajak kamu masuk ke dalam sebuah tim yang telah saya bentuk… tim ahli di bidang kebijakan pertanian dalam negeri dan tentunya nanti akan banyak bersinggungan dengan hubungan internasional antara Jepang dengan negara lainnya…

kamu mungkin nantinya akan menjadi satu-satunya orang asing yang akan masuk dalam gedung parlemen di bawah naungan tim ahli yang sudah saya bentuk… soal gaji dan fasilitas, itu tidak perlu kamu khawatirkan… saya yakin akan sangat cukup…”… ucap professor Tanaka menjelaskan dengan rinci…

Faris yang sejak tadi mendengarkan dengan sangat serius sedikitpun tidak bergerak… ia seperti terhipnotis dengan ucapan professor Tanaka…

“bagaimana Faris dengan tawaran saya? ya, tentunya kamu tidak perlu menjawab ini sekarang… ini juga masih tahun depan… setelah nanti kamu lulus dari master…

kalau kamu sudah memutuskan akan tinggal di Jepang beberapa tahun, saya rasa saya patut memberikan penawaran ini… karena saya tahu potensi kamu, saya tahu kualitas kamu Faris…”, lanjut professor Tanaka…

Faris sedikit terkejut dengan tawaran professor Tanaka… ia diam sejenak… berpikir keras… ia masih bingung harus menjawab apa… dalam hati sebenarnya Faris juga ingin menerima tawaran itu… iya yakin ini akan sangat bagus bagi karirnya nanti… apalagi ia juga masih belum pasti setelah lulus akan bagaimana…

Tawaran ini sepertinya cukup menggiurkan bagi Faris…

“Professor… jujur saya sedikit terkejut degan tawaran ini… namun saya juga sangat senang dan berterima kasih atas kesempatan yang anda berikan… terus terang ketika saya membayangkan sebuah parlemen, apalagi itu adalah parlemen Jepang… sedikit pun saya tidak mempunyai gambaran…
namun jikalau itu berkaitan dengan sebuah tim ahli, atau katakanlah sebuah tim khusus yang nantinya akan bekerja taktis di lapangan… ya menurut saya tidak masalah… saya juga memiliki pengalaman terkait hal itu… namun demikian, saya meminta untuk diberi waktu 1 atau 2 hari untuk memikirkannya…” jawab Faris…

“Oh ya tentu saja Faris… tentu saja… kamu sangat berhak memikirkannya… saya juga tidak akan memaksa kamu jika memang kamu tidak bersedia… namun, ya terus terang saya sangat berharap kamu menerima tawaran ini… kalaupun kamu menolak, jangan khawatir, saya tidak akan tersinggung ataupun sakit hati.. tidak masalah…” ucap professor Tanaka…

Faris tersenyum mendengar kata-kata itu… mereka kemudian kembali menikmati hidangan penutup yang telah disediakan sambil kembali membicarakan hal-hal lain yang lebih santai…

Tampak keempatnya sangat akrab seperti sebuah keluarga…

——–

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9.00 malam. Faris kemudian ijin untuk pamit. Yuriko segera mengatarnya pulang ke apartemen.

Di perjalanan pulang, Faris terus memikirkan kata-kata professor Tanaka. Di masih bingung dan belum bisa memutuskan…

Bahkan sesampainya di apartemen, Faris tidak bisa tidur… ia masih terus memikirkannya…. Faris kemudian sholat istikharah, memohon petunjuk dan kemantapan hati…
Ia sebenarnya ingin menerima tawaran itu, tapi hatinya belum sempurna mantap… masih ada sedikit keraguan yang ada pada dirinya…

Faris dengan khusyuk sholat di tengah malam… ia memohon kepada rabbnya akan petunjuk jalan yang benar, yang baik, yang nantinya akan tetap menjaganya untuk tetap terus istiqomah, sehingga pekerjaannya nanti tidak akan mengganggunya dari mengingat sang rabb…

Beberapa saat lamanya ia sholat dan akhirnya ia mendapat pencerahan…

Faris segera menuju tempat tidurnya dan beristirahat… namun sebelum benar-benar tidur, ia sempat mengambil handphone nya…

dengan mengucapkan bismillah, ia kirimkan pesan kepada Yuriko…

“Yuriko, tolong sampaikan kepada professor, saya menerima tawaran beliau… terimakasih…”…

– TAMAT –

Catatan Penulis (Syaiful Amri S.):

Alhamdulilah, akhirnya berakhir sudah kisah Faris di dalam Season 1 ini… semuanya ada 25 episode….

Namun kisah Faris belumlah selesai… Ia akan memulai babak baru setelah lulus dari Study S2 nya…

Bagaimanakah lika-liku perjalanan Faris selanjutnya? bagaimanakah hubungannya dengan Yuriko? dan bagaimana pula dengan Annisa, seorang gadis cantik pilihan ibu Faris yang akan dijodohkan dengannya??

Nantikan dalam Season 2 (juga berisi 25 episode) yang insya allah akan segera terbit…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s