Sampah Sebagai Barang Ekonomis

Posted: November 19, 2012 in diagnosa
Tags: , ,

            Ilmu ekonomi merupakan ilmu yang megatur urusan hidup manusia sehingga mampu mengatasi kelangkaan yang ada untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidupnya. Dalam setiap aktivitasnya, aspek efektif dan efisiensi selalu menjadi perhatian oleh para ahli ilmu ekonomi. Dalam hidup ini kita tidak bisa menafikan diri bahwa terdapat kelangkaan dan keterbatasan sumber daya (resources) yang dimiliki. Disinilah ilmu ekonomi berfungsi, begaimana mengoptimalkan keberadaan sumber daya itu sehingga sumber daya itu bisa berguna seluruhnya dalam hidup dan tidak yang terbuang percuma. Berbicara tentang benda yang banyak terbuang, pikiran kita akan tertuju dengan komoditas yang disebut sampah. Selama ini, dalam pikiran banyak orang bahwa sampah adalah sisa pengolahan sumber daya yang tidak bernilai. Namun, jika kita sedikit lebih kreatif, sesungguhnya sampah ini bisa bermakna lebih dari sekedar komoditas terbuang, menjadi komoditas yang bernilai ekonomis.

Sampah merupakan benda yang tidak terpisahkan dalam hidup kita. Setiap aktivitas yang dilakukan (aktivitas yang menggunakan sumber daya), bisa dipastikan akan menghasilkan sampah. Begitu mudahnya menghasilkan  sampah ini, sempat menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran bagi pejabat beberapa kota besar di Indonesia, mesti kemana lagi sampah ini dibuang? Saking semakin langkanya tempat pembuangan sampah yang tersedia karena tempat pembuangan sebelumnya sudah tidak memungkinkan lagi untuk dibuang ke sana. Masih ingat dalam benak kita atas apa yang terjadi di kota Bandung dan Jakarta beberapa tahun silam, sampah menumpuk di mana-mana sementara belum ditemukan tempat pembuangan akhir yang baru.

Dalam jangka pendek semakin banyaknya sampah ini tentu saja berfek negatif terhadap kehidupan manusia, seperti penyakit, kuman, dan bakteri tentu saja bertebaran di mana-mana, walaupun kalau ditilik lebih jauh bahwa manusialah yang ternyata penghasil sampah terbanyak. Kemudian, jika kita mampu berpikir lebih jauh, efek jangka panjangnya tentu saja lebih fatal. Isu global warming yang menjadi perhatian banyak orang dan sampah merupakan salah satu penyebab proses itu semakin cepat terjadi. Sampah non organik yang tidak bisa diuraikan oleh hewan pengurai, kemudian pembakaran atas sampah akan semakin memperbesar lubang ozon tersebut, pemanasan global dalam waktu dekat bukan tidak mungkin terjadi jika hal ini terus berlanjut, disamping memperhatikan faktor-faktor penyebab global warming lainnya.

Mengingat semakin banyaknya sampah ini, himbauan untuk melakukan penghematan atas sampah dilakukan. Kemudian, para ahli pun berusaha menemukan jalan keluar agar keberadaan sampah ini bisa terkelola sehingga setidaknya bisa meminimalisir kontribusinya dalam pemercepatan terjadinya global warming. Sebenarnya disinilah ilmu ekonomi berperan, ekonom berpikir tidak hanya bagaimana sampah itu terkelola sehingga berkurang kontribusinya untuk memercepat global warming, tetapi berpikir bagaimana mengubah sampah itu yang sebelumnya tidak bernilai apa-apa, bahkan bernilai negatif, menjadi komoditas yang memilki nilai tambah. Harus ditemukan jalan, sampah yang sebelumnya hanya terbuang percuma, dengan sedikit perlakuan diolah menjadi produk yang memiliki harga ekonomis. Dengan sedikit pikiran kreatif, sampah ini bisa menjadi produk yang berdaya guna, bahkan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sampah terdiri atas organik dan non organik, yang menjadi masalah biasanya adalah sampah non organik karena sampah organik akan bisa teruraikan dengan sendirinya  oleh bakteri pengurai dalam tanah. Sampah non organik biasanya dibakar, perlakuan seperti inilah yang akhirnya menyebabkan semakin tipisnya lapisan ozon tersebut. Akan tetapi, dengan perlakuan yang sedikit lebih kreatif, sampah non organik sebenarnya bisa dikelola menjadi lebih bermanfaat dan bernilai bisnis. Sampah-sampah plastik seperti bekas bungkus diterjen, bekas bungkus makanan, dll., seharusnya bisa dikelola dengan lebih baik dengan menjadikannya sebagai komoditi hasta karya yang kemudian bernilai ekonomis dan berdaya jual. Sampah-sampah itu bisa diubah menjadi benda-benda bernilai tambah, seperti tas belanjaan, kotak pensil, bahkan bisa dibuat produk-maaf-pembalut wanita ramah lingkungan, selain optimalisasi resources, juga berperan dalam mengurangi efek pemanasan global tersebut. Kemudian untuk sampah organik, seharusnya tidak hanya terbuang percuma dengan dikubur semata tetapi juga dengan sedikit perlakuan sampah yang sebelumnya hanya terbuang percuma ini bisa dijadikan sebagai bahan pupuk kompos, yang kemudian hasilnya juga bisa dijual.

Terlepas peluang optimalisasi sampah ini untuk menjadikannya sebagi bahan bernilai ekonomis, pastinya akan ditemukan banyak tantangan dan hambatan di lapangan, khususnya oleh masyarakat sendiri sebagai pelaku pengolahan sampah ini. Diperlukan usaha berkelanjutan dan tak kenal putus asa diiringi dengan penyuluhan secara kontinuitas kepada masyarakat. Desa Sukunan Yogyakarta yang telah mulai berproses menjadi desa pengolahan sampah terpadu, setidaknya membutuhkan waktu lebih dari lima tahun untuk sekedar sosialisasi kepada masyarakatnya. Kalau ingin diimplemantasikan ke seluruh tanah air atau lebih banyak daerah lagi tentu membutuhkan usaha dan waktu yang lebih panjang. Namun sebagaimana di awal dituliskan, jika berpikir panjang akan efek yang ditimbulkan, pengorbanan itu tentulah belum seberapa artinya dibandingkan manfaat yang diperoleh kedepannya.

Paradigma itu harus diubah, sampah bukan lagi sebagai barang yang tiada berguna dan tidak bernilai apa-apa, tetapi telah berevolusi menjadi komoditas yang mahal harganya. Dampaknya, tidak hanya sekedar mencegah efek negatif yang ditimbulkan sebelumnya, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Comments
  1. Terkadang kalau membayangkan ketika di rumah dan kantor sudah dibuatkan tempat sampah yang terpisah-pisah, kemudian ternyata sama tukang angkut sampahnya ternyata masuk bak truk dijadikan satu sampai nanti di TPS akhirnya digambungkan begitu rasane marai gelo, kecewa juga…

    • anggiawan23 says:

      Nah, hal itu juga banyak terjadi di berbagai tempat..terkadang paradigmanya hanya pada tataran pemisahan sampah aja, padahal harus diperhatikan hingga proses akhir sampah tersebut. Termasuk, di TPA (tempat pembuangan akhir) sampahnya. Seharusnya yg dibuang di TPA itu hanyalah sampah2 anorganik yg bener2 gk bisa diolah lebih lanjut lagi. Tapi kenyataan sekarang, kebanyakan daerah kondiisi TPA nya dah mau penuh.
      However, tetap harus memulai perubahan, dari mulai diri sendiri, mulai yg kecil2, mulai saat ini juga (sambil menasehati diri sendiri :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s