Evaluasi Atas Gerakan Mahasiswa

Posted: October 30, 2012 in diagnosa
Tags: ,

Beberapa tahun belakangan terjadi perubahan metode gerakan mahasiswa. Pasca reformasi 1998, gerakan mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia identik dengan nuansa kritis, perlawanan, dan diwujudkan dalam bentuk demonstrasi atau aksi. Seorang mahasiswa tidaklah disebut militan jika belum pernah  turun ke jalan, memperjuangkan aspirasi rakyat katanya. Tidaklah layak disebut mahasiswa jika belum pernah bolos kuliah untuk sekedar aksi, berpanas-panas di jalanan. Begitulah gerakan mahasiswa kala itu, aspek akademis dan kompetensi menjadi hal yang dikesampingkan. Pada hal latar belakang sebenarnya sehingga mereka bisa menyandang status mahasiswa adalah karena faktor akademis tersebut. Tujuan orang tua menyekolahkan anaknya di Perguruan Tinggi tentunya semata-mata mengharap anaknya tersebut bisa menyandang prediket intelektual dan mengabdikan keilmuannya. Jadi, bagaimana mungkin hal itu bisa terwujud ketika paradigma tentang definisi mahasiswa telah bergeser, bukan lagi sebagai civitas akademika, tetapi lebih kepada militansi dengan kritis atas kebijakan pemerintah. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan, akan seperti apa nasib bangsa Indonesia kedepannya?

Mahasiswa-mahasiswa yang ada begitu ahli untuk berorasi, membawa massa, dan berdemontrasi. Pintar mengkritisi walaupun terkadang tidak mempunyai solusi yang bisa ditawarkan. Kompetensi sesuai dengan bidang masing-masing telah kabur, karena kemampuan berorasi  dan berpolitik lebih menonjol dari pada kemampuan untuk memahami materi perkuliahan yang seharusnya menjadi hal utama yang harus dipahami. Pada hal mahasiswa adalah aset strategis bangsa. Jumlahnya terbatas, bahkan kalau boleh dibilang hanya orang tertentu (kaum elit) yang bisa menduduki perguruan tinggi ini. Harus lolos kemampuan dari segi intelektual maupun material. Calon pemimpin masa depan, kepada siapa lagi ditaruh harapannya kalau bukan kepada mahasiswa. sekali lagi, jika fakta di lapangan bahwa karakter mahasiswa adalah sebagaimana yang disebutkan di atas, akan dibawa kemana nasib bangsa ini. Mereka ahli untuk melobi dan bertutur kata, tapi amat minim dalam kompetensi.

Begitulah gerakan mahasiswa dahulunya, dengan latar belakang seperti ini adalah hal yang wajar untuk melakukan perubahan metode dalam gerakan maahasiswa. Zaman telah berubah, tantangannya pun telah berganti, sehingga strategi gerakan yang digunakan pun harus dilakukan perubahan secara signifikan.

Gerakan mahasiswa yang diharapkan adalah gerakan yang mampu menjawab tantangan dan keinginan dari mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang dalam benaknya ingin segera bisa cepat selesai kuliah, bekerja, bekeluarga, sehingga bisa hidup bahagia. Paragmatis memang, tetapi begitulah karakter mahasiswa saat ini. Mereka tidak begitu ngeh ketika diajak untuk aksi dan demonstrasi. Pun persepsi masyarakat saat ini, persepsi yang muncul bukanlah ucapan kebanggaan atas beberapa mahasiswa yang telah dengan ikhlas berpanas-panas dengan alasan menyuarakan aspirasi masyarakat, tetapi masyarakat telah memilki penilaian berbeda, aksi mahasiswa dipandang sebagai kegiatan tanpa guna, yang menyebabkan macet di jalanan.

Melihat tantangan di kampus dan kecenderungan mahasiswa saat ini, adalah hal yang layak jika dilakukan perubahan metode atas gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa yang berbasiskan akademis dan syarat dengan nilai intelektualitas. Gerakan yang mendefinisikan ulang tentang karakter mahasiswa yang sesuangguhnya, agar tetap sejalan dengan fungsi mahasiswa itu sendiri yaitu agen of change, iron stock, dan moral force. Adalah hal yang wajar kiranya jika Lembaga Intelektual atau Kelompok Studi dijadikan sebagai motor utama gerakan mahasiswa saat ini.

Zaman telah berubah, tantangannya pun juga berubah, sehingga bagaimana gaya dalam menanggapi atas kebijakan yang ada pun perlu dilakukan pengubahan. Aksi dan demonstrasi pada kondisi saat ini tidak lagi menjadi media yang cukup efektif dalam mengubah atau memengaruhi suatu kebijakan. Wahana-wahana diskusi, dengan menggunakan data scientifik, kemudian optimalisasi media ternyata lebih memberikan efek yang cukup signifikan dari pada sekedar turun ke jalan. Atas kondisi yang demikian, sudah selayaknya dilakukan revolusi atas gerakan.

Kemudian, dari segi optimalisasi massa atau pemberdayaan kader. Secara nyata kita bisa melihat karakter mahasiswa yang masuk perguruan tinggi akhir-akhir ini. Jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa seperti para founding father reformasi dahulu. Dengan demikian, tentu saja pendekatan yang digunakan seperti 10 tahun yang silam tidak mempan untuk memberikan ketertarikan kepada mereka ikut bergabung dalam gerakan mahasiswa. Melihat situasi dan kondisi saat ini adalah hal yang amat interested bagi mereka ketika ditawari dengan kegiatan-kegiatan yang menunjang aspek akademis. Disinilah lembaga kelompok studi berperan, dengan kegiatan-kegiatan yang lebih berbau akademis dan intelektual akan memasifkan rekruitmen, mengajak mahasiswa dengan karakternya yang seperti sekarang juga turut andil bergerak bersama dalam gerakan mahasiswa.

Berbeda dengan gerakan politik mahasiswa (BEM, red) yang melakukan pengaruh atas kebijakan secara frontal dan langsung, gerakan mahasiswa berbasis akademis lebih bersifat kooperatif dan menggunakan intrumen-instrumen akademis, seperti data, hasil riset, dll. Tidak sekedar mengkritisi tetapi juga memberi solusi, tidak banyak asumsi tetapi lebih kepada klarifikasi. Dengan menggunakan instrumen yang lebih akademis inilah sehingganya gerakan mahasiswa berbasis akademis intelektual lebih mudah melakukan pengaruh atas kebijakan-kebijakan yang ada, baik pada tataran birokrat kampus hingga level negara.

Gerakan mahasiswa berbasis akademis lebih menonjolkan pada fungsi dan peranan mahasiswa. yang mana mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan, yang akan menjadi ujung tombak mengelola negara ini beberapa waktu kedepannya. Karakter mahasiswa yang dibutuhkan adalah bukan sekedar mahasiswa yang pintar berbicara, tetapi lebih kepada kompeten sesuai bidang profesi yang ditekuni, profesional dalam kehidupannya, kemudian senantiasa kontributif terhadap lingkungan sekitarnya.

Dengan berbagai analisis dan pertimbangan yang telah dituliskan di atas, alangkah baiknya kita mencoba untuk mellakukan refleksi atas gerakan mahasiswa saat ini. Yang mana masih menggunakan BEM sebagai motor penggerak utama gerakan mahasiswa, sementara kendaraan-kendaraan lain masih bisa menjadi alternatif bahkan bisa jadi untuk situasi dan kondisi saat ini lebih efektif penggunaannya untuk mencapai tujuan-tujuan sebenarnya dari gerakan mahasiswa itu sendiri.

“hanya orang gila, yang ingin menghasilkan sesuatu yang lebih baik dengan menggunakan instrumen yang sama”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s