Kisah Murid Sang Guru Zen

Posted: August 2, 2012 in hikmah
Tags:

Terkisahkan dalam banyak riwayat, dua orang Murid Sang Guru Zen sedang melakukan perjalanan dalam rangka praktik ajaran yang telah mereka terima dari Sang Guru Zen. Murid Kesatu berbadan kecil berkulit putih kekuning-kuningan. Murid Kedua berbadan tinggi tegap agak berkulit kecoklatan. Murid Kesatu suaranya sangat lembut, jika bicara seolah seluruh isi alam akan takzim mendengarnya. Murid Kedua suaranya keras penuh wibawa, kalau mengatakan sesuatu seakan semesta dengan patuh menyimaknya. Sepanjang perjalanan mereka bahu membahu, tolong menolong, dan saling mengingatkan.

Setelah berblulan-bulan melaksanakan amanat mereka berencana pulang ke tempat pertapaan Sang Guru Zen untuk melaporkan segala yang telah mereka kerjakan. Tentulah bukan perjalanan yang mudah dan menyenangkan, tapi kegembiraan bakal ketemu guru tercinta begitu meruah dalam dada. Gunung dan lembah mereka lalui dengan riang. Hutan gelap mereka lewati dengan begitu gembira.

Hingga mereka tiba di sebuah desa yang baru saja dilanda banjir. Rumah-rumah dan pohon roboh bertumbangan. Mayat-mayat bergelimpangan. Air setinggi mata kaki yang berlumpur. Kedua Murid Sang Guru Zen itu tidak surut. Mereka terus melangkah meski kaki berat diayunkan. Lalu mereka mendengar teriakan seseorang sedang meminta pertolongan. Meski pandangan mereka terhalang, suara itu terdengar walau agak lamat. Mereka bergegas dan terkesiap melihat seorang gadis, dengan pakaian penuh noda lumpur tersingkap di beberapa bagian, berdiri dengan muka pucat pasi.

“Ajaib masih ada korban selamat”, kata Murid Kesatu sambil mengucek-ucek matanya seolah tak percaya.

“Ah, mustahil”, sergah Murid Kedua.

Murid Kesatu tersenyum lembut, “Apapun namanya kita harus tetap menolong gadis itu”.

“Tapi tunggu dulu! Bagaimana kita akan menolongnya? Tidak mungkin kita menggendong atau membopong tubuhnya. Itu melanggar aturan guru”, cetus Murid Kedua dengan suara berat.

“Tak perlu kita bopong sepanjang jalan. Cukup hingga kaki bukit itu. Ingat dibalik bukit ada perkampungan. Kita tinggal mengabarkan kepada penduduk kampung, di desa sebelah ada korban banjir yang masih selamat, mudahkan?”, ujar Murid Kesatu dengan lembut.

Wajah Murid Kedua memerah.”Tidak. aku tidak mau melanggar ajaran guru. Selama ini kita berjuang mati-matian mengamalkan segala perintah dan menjauhi semua larangan. Lantas karena seorang gadis semuanya jadi tak berarti? Tidak mungkin.”

Murid Kesatupun melangkah kea rah Sang Gadis. Menyapanya dengan lembut, menenangkan hatinya, lalu meminta maaf karena harus menggedongnya. Sang Gadis pun mengiya dan segera bergelayut ke tubuh Murid Kesatu. Murid Kedua memejamkan mata, bibirnya komat kamit memohon ampun bagi teman seperguruannya. Setelah susah payah melewati kubangan lumpur sepanjang sekitar 70 meter, mereka pun tiba di kaki bukit. Segera saja Sang Gadis turun dari gendongan, sinar matanya menyiratkan ucapan terima kasih. Murid Kesatu dan Murid Kedua pun melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mereka tiba di perkampungan balik bukit. Lantas menyampaikan kepada penduduk kampung ihwal gadis yang mereka selamatkan, lalu mereka teruskan perjalanan. Karena hari mulai gelap mereka sepakat untuk istirahat.

“Bertobatlah saudaraku”, kata Murid Kedua.

“Karena kesalahan apa?”

“Kamu telah melakukan perbuatan maksiat”

“Aku cuma menggedong gadis itu sepanjang 70 meter, adapun kamu menggendongnya dalam pikiranmu sepanjang 70 kilometer. Siapa yang semestinya bertobat?”, tanya Murid Kesatu.

 

(Terinspirasi dari  “Sepatu Dahlan”, Khrisna Pabichara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s