Apa Tujuan Hidup Kita?

Posted: July 24, 2012 in hikmah
Tags: ,

Maha suci Allah yang telah menciptakan alam dan segenap isinya. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang merupakan sesuatu yang sia-sia diciptakan oleh Allah. Semuanya ada tujuannya, ada hikmahnya, hanya saja kedangkalan akal manusia yang tidak bisa menggapai makna dari setiap makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam dan Segenap isinya.

Perumpamaan sederhana adalah seekor nyamuk atau serangga. Terkadang akal kita secara sederhana mengatakan bahwa nyamuk merupakan makhluk yang diciptakan secara sia-sia. Karena nya dapat mengganggu malam-malam kita, tidur kita, bahkan kalau bernasib buruk bisa berdampak terkena penyakit berbahaya, malaria atau demam berdarah. Akan tetapi sadarkah kita, ada berapa ribu bahkan juta orangyang menggantungkan hidupnya pada nyamuk? Yang mana mereka belum tentu bisa menafkahi diri dan keluarganya jika seandainya tiada nyamuk diciptakan di dunia ini.

Yaa, gara-gara adanya nyamuk membuat manusia berpikir untuk menciptakan obat anti nyamuk. Dari sini diciptakanlah begitu banyak lapangan pekerjaan yang dari sananya ada begitu banyak orang yang bisa diperkerjakan sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan sesuap nasi untuk diri dan keluarganya.

Dengan demikian, masihkah kita mengingkari akan kuasa Tuhan? Yang dari Nya tiada yang bersifat sia-sia, tiada yang tak ada guna. Itu baru merupakan contoh sederhana dari seekor nyamuk, yang secara kasat mata merupakan makhluk tak ada guna, namun ternyata memberi manfaat luar biasa untuk banyak manusia.

Pada kesempatan ini, sedikit saya akan menyampaikan makna serta tujuan kita hidup di atas dunia. Suatu alasan yang perlu kita pahami mengapa Allah menciptakan kita manusia sebagai salah satu makhlukNya?

Secara umum, ada dua alasan Allah menciptakan kita manusia, yang dapat kita simpulkan dari makna yang terkandung pada QS Al Baqarah ayat 30 dan QS Az Zariyat ayat 56.

1. Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka (para Malaikat) berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya, dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” (QS Al Baqarah 30)

Dari penggalan ayat suci di atas dapat kita ambil makna bahwa Allah telah memilih manusia untuk mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah bermakna sederhana sebagai pemimpin atau penguasa. Manusia sebagai khalifah dalam konteks ini adalah peran manusia untuk senantiasa mengoptimalkan segala potensi yang ada di bumi ini, dalam hal ini tidak hanya sekedar mendayagunakan segala sumber daya yang ada di bumi tetapi juga menjaga kelestarian segala sumber daya tersebut.

2. Untuk beribadah (menghamba) kepada Nya

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadalah kepada Ku (QS Az Zaryat : 56)

Ayat ini menjelaskan dengan amat tersurat akan tujuan utama kita diciptakan oleh Allah SWT, yaitu untuk senantiasa beribadah kepada Nya. Bahasa senada dengan ini adalah menghamba kepada nya. Menjadikan diri kita sebagai hamba Allah SWT, jika sudah ada pernyataan yang demikian, maka seorang hamba akan senantiasa menuruti segala keinginan dari Tuhannya, menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Sebagai hamba Allah juga berarti kita menyerahkan segala hidup dan mati kita hanya untuk Allah Azza Wa Jalla. Jika sudah demikian adanya, tidak akan ada lagi banyak pertanyaan maupun kilahan, yang ada hanya patuh dan tunduk terhadap segala ketentuan yang telah ditetapkan tempat menghamba kita, Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sami’na, wa atho’na.

Syaikhul Ibnu Taimyah mengatakan, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir). Maka shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, takut kepada Allah, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (amal ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha/takdir-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Allah.” (Al ‘Ubudiyah, cet. Maktabah Darul Balagh hal. 6).

Dengan demikian ibadah tidak hanya sebatas pada amalan-amalan wajib dan sunah yang biasa kita lakukan dalam keseharian kita. Akan tetapi juga melingkupi setiap perbuatan dalam aspek kehidupan kita yang didasari niat mencari ridha Allah SWT.

Berbicara tentang ibadah, secara umum ibadah ada dua yaitu ibadah maghdah dan ibadah ghairu ma’dah.

a. Ibadah maghdah

Merupakan ibadah yang bersifat langsung mengatur hubungan makhluk dengan Sang Penciptanya. Hal ini meliputi ibadah-ibadah yang sering dilakukan dalam keseharian kita seperti shalat, puasa, zakat, naik haji, dll yang semuanya harus berdasarkan dalil yang jelas dan pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

b. Ibadah ghairu maghdah

Ibadah ghairu maghdah mengandung makna setiap apapun aktivitas dalam hidup kita asal itu berefek kebaikan serta dilandasi keikhlasan, mengharap ridha Allah SWT. Kita bekerja dengan niatan mencari nafkah bagi keluarga, seorang ibu yang memasakkan makanan untuk keluarganya, anak-anak yang rajin belajar di sekolah. Jika perbuatan-perbuatan sederhana tersebut diniati untuk mengharap ridha Allah SWT, maka pada saat tersebut pun kita telah beribadah. Bahkan dalam salah satu haditsnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “senyum itu adalah ibadah”.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk tidak bisa berbuat baik dan mencari pahala yang sebanyak-banyaknya. Karena setiap amal perbuatan asal dilandasi niat ikhlas akan bernilai ibadah dan tentu saja memperoleh pahala dari Allah SWT.

 

Untuk itu marilah kembali kita renungkan atas apa-apa perbuatan yang telah kita lakukan selama ini. Sudahkah kita benar-benar menjalani hidup ini menuju tujuan hidup kita yang hakiki? Yaitu sebagai khalifah di muka bumi dan senantiasa beribadah kepada Allah, Tuhan Maha Pencipta.

Wallahualambisshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s