Nyasar,Untuk Pertama Kalinya #2

Posted: April 15, 2012 in In memorian
Tags: , ,

….

Saat masih kelas 1 itu, SOP dalam keadaan tersesat belum pernah aku dapatkan dan pelajari. Jadi, hal-hal yang kulakukan adalah sekedar mengikuti instuisi ku aja. Saat panik, dan penuh kepasrahan tersebut munculah ide, untuk bertanya pada orang. Sebuah prosedur standar jika tersesat yang baru aku pelajari 3 tahun kemudian, saat kelas IV SD, pelajaran B. Indonesia tentang pribahasa, “malu bertanya, sesat di jalan”. Walaupun sebenarnya, bertanya ini pun ada risiko lain yang harus diambil. Jika aku bertanya, maka aku akan diketahui bahwa sedang tersesat dan jauh dari rumah. Jika yang ditanya bukanlah orang baik-baik, tentulah aku akan menjadi sasaran yang empuk untuk diculik. Tapi ya sudahlah, dari pada nyasar lebih jauh lagi, berharap Allah senantiasa melindungiku, dan bisa kembali pulang ke rumah.

Masih sedikit terbayang-bayang samar-samar wajah bapak tersebut, seorang kuli bangunan yang sedang mengocok semen di pinggir jalan. Dengan sedikit ragu-ragu aku bertanya, “tanyo Pak, arah ka kaniang bukik ka sinan?”, sambil menunjuk searah garis lurus jalan yang sedang ditempuh.

Dengan sedikit tertawa, Bapak tersebut menjawab, “Indak yuang, kalau ka kaniang bukik arah ka seten a”, sambil menunjuk pada arah yang berlawanan. “Ang tasasek yo?”, Bapak tersebut balik bertanya.

Dengan senyum yang dipaksakan, aku menjawab, “Iyo Pak”, sambil bersiap menyebrang, berbalik arah.

“Elok-elok yo! Agak jauah stek mah”, pesannya sebelum aku berlalu darinya.

iyo Pak, makasih banyak”, jawab ku singkat sambil berlalu meninggalkannya.

Habis gelap terbitlah terang. Saat gelap telah memuncak, ingatlah bahwa itu pertanda fajar sudah dekat. Ketika sumur mulai kering, berarti tidak akan lama lagi hujan akan turun. Yapp, saat keputus asaan itu sudah mulai memuncak, dengan sedikit keberanian dan risiko, secercah harapan pun telah terlihat, dan harapan itu masih ada. Walaupun panas terik matahari, jalan mendaki, truk-truk dan bus besar berlalu dengan kencang di sisi, serta bau asapnya yang tak dapat dihindari, aku mengayuh sepeda  dengan semangat. Melangkah pasti bahwa  akan bisa sampai di rumah, tidak jadi menggembel dan kelaparan di jalan. Entah mengapa aku begitu yakin dan percaya sepenuhnya dengan perkataan bapak tadi. Dari pancaran sinar matanya aku tahu kalau dia tidak berbohong. Aku semakin yakin, tuk bisa pulang, bertemu famili lagi.

Menjelang sore, akhirnya aku sampai di rumah. Sungguh perjalanan yang begitu panjang dan melelahkan. Dan tanpa sadar, air mata ku pun menetes saat memasuki rumah. Yaa, aku menangis, serasa selamat dari sebuah bencana besar. Sejak saat itu, kapok dah telusuri jalan baru, sedikit trauma juga. Hingga saat ini, aku adalah termasuk orang yang sulit menghafal jalan atau membaca arah, ada yang bilang itu karena golongan darahku B, yang mana cenderung mengalami kesusahan dalam membaca jalan. Atau karena pengalaman menyasar tersebut, gak tahu pasti, wallahualam. Yang pasti hingga saat ini aku dalam keadaan baik dan tahu jalan pulang ke rumah, alhamdulillah yahh :D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s