Nyasar,Untuk Pertama Kalinya

Posted: April 14, 2012 in In memorian
Tags: , ,

Kalau sebelumnya aku berbagi kisah tentang hal lucu saat berusia 4 tahunan pada tragedi bersembunyi dalam lemari, kali ini adalah cerita tentang saat aku sudah memasuki kelas 1 SD. Saat sudah seusia itu, kami sekeluarga sudah pindah ke kota Payakumbuh, berjarak sekitar 15 km dari rumah sebelumnya, dan berlokasi di kawasan perkotaan. Perpindahan itu dilakukan di tengah tahun aku TK, sehingga sempat mengecap dua TK, yang pertama adalah TK Bundo Kanduang di Ampang Gadang, dan setelah pindah dominisili, aku ber TK di TK PPI yang berlokasi dekat dengan kantor Apa.

Aku ber SD di SD N 19, yang berjarak sekitar 100 m dari rumah, sekolah yang sama dengan kedua Udaku, dan juga akan menjadi SD bagi adikku beberapa tahun kemudian. Saat kelas 1 SD, merupakan saat aku bisa menaiki sepeda, baik sepeda kecil maupun sepeda besar. Sebelumnya aku memakai sepeda kecil butut kalau mau kemana-mana, sepeda warisan dari Uda yang mereka tidak mungkin memakainya lagi. Kemudian, Ama membelikan sebuah sepeda baru untuk Uda, sepeda dengan ukuran yang lebih besar, aku menyebutnya “sepeda federal”. Dinamakan demikian karena kebanyakan sepeda yang berbentuk seperti itu bermerk “federal”, walaupun aku tahu merk sepeda yang baru ini sesungguhnya bukanlah federal.

Tidak lama bagiku belajar untuk bisa dengan cekatan mengendarai sepeda ini, karena sudah cukup mahir menggunakan sepeda yang lebih kecil sebelumnya. Hanya perlu tambahan sedikit keberanian dan hati-hati saat akan mau berhenti, karena kakiku belum sampai sehingga harus turun dari sadel dulu sesaat akan memberhentikan sepedanya.

Saat-saat awal bisa memakai sepeda, merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa saat mengayuh sepeda tersebut berkeliling nagari, masuk kampung keluar kampung di radius 1 Km dari rumah. Sebelumnya, aku sudah cukup menguasai daerah-daerah di sekitar kelurahanku, hal ini dikarenakan seringnya mengarungi wilayah-wilayah baru dengan menggunakan sepeda kecilku. Hari itu adalah untuk pertama kalinya aku berkeliling hingga jalan raya dengan menggunakan sepeda besar ini. Kemudian, setelah bersepeda beberapa jauh, aku menemukan jalan yang baru dibikin. Sempat ada pikiran untuk menembus  jalan ini atau nggak, khawatir nyasar karena benar-benar tidak ada bayangan kalau jalan ini akan tembus kemana. Akan tetapi, rasa penasaranku sudah memuncak, ku belokkan stang sepeda menelusuri jalan yang baru diaspal ini, palingan juga nembusnya di sekitar-kitar sini seperti yang jalan-jalan baru yang pernah ku telusuri sebelumnya. Dan yang menarik adalah jalannya mulus dan sepi kendaraan, sehingga aku bisa bebas dan leluasa menunggangi sepedanya sambil bergaya dengan melepas kedua tangan.

Satu jam kemudian…

Kecemasan itu pun mulai muncul, firasat dan kekhawatiran itu pun menjadi nyata. Setelah terus menelusuri jalan baru yang tidak tahu ujungnya ini selama lebih 1 jam lamanya, jalan yang sudah cukup kukenal pun tidak bersua. Setiap kali menemukan persimpangan, aku senantiasa berhenti, harus menempuh jalan yang mana. Dan setelah menemukan beberapa persimpangan, belok kanan selalu belokan yang aku pilih, karena sepengetahuanku segala sesuatu yang kanan hasilnya insyaallah pasti baik. Sudah sekian kali aku menemukan persimpangan, dan masih kebingungan sekarang berada di kecamatan mana, kelurahan mana? Kalaupun berbalik akupun juga buta arah, karena sudah tak terhitung lagi persimpangan yang telah ku lewati.

Ayat kursi, doa-doa, serta surat-surat pendek yang telah hafal tak henti ku lafalkan. Sungguh saat itu cemas banget, bayangin aja, anak kelas 1 SD tersesat di daerah yang sama sekali tak dikenal. Apalagi setiap kali menemukan persimpangan, bingung dan takut bercampur padu, jalan mana yang musti dipilih? Hingga akhirnya, jalan itu berujung pada sebuah jalan besar, yang mana ada begitu banyak bus-bus besar serta truk yang lalu lalang. Ini jalan mana? Aku sudah nyasar sejauh apakah? Di pertigaan jalan lintas provinsi tersebut, aku terdiam sesaat, berenung memilih belok kemana.

Sebelumnya tiap kali menemukan persimpangan aku selalu memilih belok kanan. Logika sederhana ku memberi kesimpulan, dari tadi yang dipilih selalu belok kanan, masa’ belum ada yang ke kiri. Akhirnya, dengan mengucap bismilah aku putar stang ke arah kiri. Tidak tahu jalan itu akan berujung dimana, aku hanya berharap akan sampai pada persimpangan “kening bukit” yang merupakan wilayah yang sudah aku kenal. Aku meyakinkan itu ketika melihat bus-bus yang lewat, yaitu bus rute ke Pekanbaru yang setahuku melewati persimpangan kening bukit itu.

Ternyata oh ternyata, dugaanku kurang tepat sepertinya, setelah cukup lama menelusuri jalan tersebut, tempat yang kuprediksi dan kuharap tidak kunjung kelihatan. Waduh, gimana ini? Bisakah aku kembali pulang ke rumah? Ataukah ini sudah menjadi suratan takdir, aku akan menjadi anak jalanan? Hampir menetes air mata, kembali, ayat-ayat suci ku lafazkan sebagai tanda bentuk kepasrahan.

Bagaimana aku bisa kembali? Bersambung di sesi #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s