Tak Selamanya Kita Berada di Atas

Posted: April 7, 2012 in curcol abiss :D
Tags: ,

Baru-baru ini sempat chat via fb dengan salah seorang adek kelas MTsN dulu. Satu dari sedikit adek kelas yang masih keep contact hingga sekarang. Hal itu karena pas masih di MTsN dulu cukup sering berinteraksi, karena kita sama-sama bersama mengurus Pramuka dan OSIS MTsN. Aku dulu menjadi Pratama pada periode 2002/2003, dan dia yang melanjutkan estafet dengan menjadi Pratami pada periode 2003/2004. Sebelumnya aku merupakan danton pleton tiap-tiap lomba PBB antar sekolah, dan setelah purna dari Pramuka posisi danton digantikan olehnya. Kemudian kita juga pernah satu tim dalam lomba pramuka untuk bidang cerdas tangkas.

Dalam kesempatan chat kali ini, dia mengingatkan akan saat masih di MTsN dulu, saat nilai dan peringkat nya di kelas jatuh setelah penerimaan rapor semester dua kelas satu, dari yang sebelumnya ranking 1 turun ke ranking 4, yang membuatnya frustrasi berat, seakan tidak menerima kenyataan tersebut. Dia menyampaikan masih ingat akan nasehat dan motivasi yang aku berikan terkait problematikanya tersebut. Apakah yang aku sampaikan? Jangankan nasehatnya, kalau ada kejadian itu pun aku gak ingat sebenarnya. Akibatnya, cap sebagai pelupa akut pun melekat pada diriku. Penasaran, akhirnya akupun dibertahu detail cerita nya dan poin-poin inti nasehat yang pernah aku sampaikan. Dan topik nasehat tersebut coba aku tuliskan di blog ini, coba aku kembangkan sebagaimana kepahaman yang aku miliki saat ini, semoga juga bermanfaat.

Layaknya roda yang berputar, begitulah kehidupan adanya. Ada kala nya kita berada di atas, dikaruniai rejeki berupa harta yang berlimpah, dimudahkan dalam setiap urusan, serta terkabul atas doa dan cita yang diharapkan. Namun, ingatlah bahwa tidak selamanya kenikmatan itu akan membersamai kita. Suatu saat roda itu pun akan bergulir menuju titik paling bawah. Begitupun hal nya hidup kita, bukan tidak mungkin rumah dan toko yang bertingkat empat, akan lenyap seketika dibakar api membara. Bukanlah suatu hal yang mustahil, mobil mewah di depan rumah, hilang dicuri dalam waktu sekejap mata. Pun halnya akan orang-orang dicinta dan mencintai kita, tidak akan kekal, suatu saat kita harus berpisah, karena salah satu diantaranya lebih dahulu dipanggil sang kuasa.

Kalaulah demikian adanya, fase-fase hidup itu harus kita jalani,  dengan ikhlas dan tawakkal. Ketika saat  berada di atas, perbanyaklah syukur pada Nya, hindari takabur dan kufur yang membuatNya murka. Kemudian, ketika kehampaan  itu menimpa, saat ujian itu datang, janganlah kemudian membuat kita syirik dan berburuk sangka pada Nya. Perbanyaklah sabar, bermohon kepada Nya agar diberikan pundak yang kuat untuk menahan segala cobaan yang menimpa.

Kalaulah demikian adanya, tidak selamanya kita berada di atas merupakan suatu keniscayaan. Senang dan sedih akan datang silih berganti, kenikmatan dan cobaan saling berganti posisi pada setiap fase hidup yang kita jalani. Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap waktu yang berjalan harus dilewatkan dan harapannya bisa dioptimalkan atas setiap pergantian fase yang kita lalui.

Rasulullah pernah bersabda, “Ingatlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit,  dan hidup sebelum mati” (HR Al Hakim). Sabda Rasulullah di atas dengan jelas memberi peringatan kepada kita semua untuk senantiasa bersiap diri, atas kehidupan yang kita jalani. Ketika masih dilimpahkan kesehatan, senantiasa syukuri dan manfaatkan seoptimal mungkin sebelum rasa sakit itu datang menimpa. Pun halnya kita harus mengoptimalkan masa muda kita, diisi dengan perbuatan yang bermanfaat, sehingga kala masa tua itu tiba, kita tinggal memetik panen atas benih yang sudah susah ditanam ketika masih muda. Harta yang dimiliki haruslah memberi manfaat terhadap orang di sekitar kita saat kita masih diberi kekayaan, sehingga perlakuan yang sama pun akan kita peroleh jika suatu saat  kemiskinan itu menimpa. Bisa jadi saat ini ada begitu banyak waktu luang dalam keseharian kita, oleh karena itu segeralah selesaikan setiap pekerjaan dan tugas kita, sebelum masa-masa sempit itu menyapa. Dan mumpung masih hidup, isilah sebagaimana dengan apa yang diredhainya, sehingga ketika dicabut roh dari jiwa, kita bisa tenang karena kembali dalam ridha Nya.

Demikianlah, tidak selamanya kita berada di atas, demikian sebaliknya, juga  tidak selamanya kita berada di posisi bawah. Syukur adalah kata kunci ketika roda kehidupan kita berada di atas. Kemudian sabar dan tabah adalah solusi saat kita ada di bawah, optimis bahwa hidup juga tidak akan selamanya berada di bawah.

Wallahualambisshawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s