Antara Ikhwan dan Akhwat

Posted: April 4, 2012 in curcol abiss :D
Tags: , , ,

Beberapa hari ini menemukan problematika unik, gak unik-unik amat sebenarnya sih, yaitu kurang bagusnya intensitas komunikasi sahabat-sahabat yang masih berjuang di dakwah kampus. Karena aku sudah tidak dikampus lagi, jadi sering kali mendapat cerita-cerita yang terjadi disana dari rekan-rekan yang seamanah dulu, termasuk curahan-curahan perasaan yang mereka rasakan. Baru-baru ini thread yang cukup menarik adalah tentang pola interaksi komunikasi antara ikhwan dan akhwat. Pernah suatu kali seorang ikhwan mengeluhkan tentang susahnya komunikasi dengan akhwat, betapa susahnya untuk memahamkan mereka. Dan pernah juga seorang akhwat menyesalkan betapa tidak peka nya para ikhwan, tidak sensitif, dan membuat pusing.

Menurut aku sih, ini hanyalah masalah klasik, tentang pola interakasi komunikasi serta mungkin masih perlu memahami lagi karakter gender masing-masing secara psikologis. Aku bukanlah lulusan psikologi, jadi tidak punya otoritas untuk berkomentar atau berteori tentang problematika ini. Setelah mencoba browsing, menemukan tulisan menarik dan simple dari salah seorang blogger wp yang relevan dengan topik ini. Pada inti nya sih, saling memahami dan saling jaga komunikasi, serta paham perbedaan karakter masing-masing. Akhwat ingin dimengerti, dan ikhwan yang ingin dihargai.

Sumber: http://afifahamatullah.wordpress.com/2010/02/02/antara-ikhwan-dan-akhwat/#comment-765

Antara Ikhwan dan Akhwat

Lucu, entah mengapa beberapa waktu terakhir sering terjadi perbedaan pendapat antara ikhwan dan akhwat dalam sebuah rapat. Mungkin biasa saja kalau sekedar perbedaan pendapat, namun kali ini perbedaan tersebut sempat membuat ruangan ber-AC menjadi ‘hangat’.

Momen terhangat terjadi beberapa minggu lalu. Cerita bermula dari usulan akhwat atas sebuah metode yang sudah ditetapkan sebelumnya. Usulan tersebut sudah disepakati di rapat akhwat, namun setelah akhwat menyampaikan, ikhwan mengatakan bahwa metodenya dilaksanakan seperti yang ditetapkan sebelumnya. Dan saat itu akhwat berpikir, “lho, g dipertimbangkan dulu usulan akhwat?”. Dan akhwat pun kembali mengajukan usulannya.

Akhirnya usulan itu pun dibahas. Dalam perjalanannya, akhwat merasa ada semacam diskriminasi dari ikhwan. Ikhwan seakan tidak peduli dan tidak mau melihat sisi baik dari usulan tersebut. Yang dinilai hanya kekurangannya saja (meski ada seorang ikhwan yang menghargainya, syukran). Bahkan ada ikhwan yang berujar “Ah, payah..”. Dan teririslah hati-hati lembut para akhwat. Karena itu akhwat ingin menunjukkan kelebihan dari usul tersebut, karena sepertinya tidak terlihat oleh ikhwan. Rapat pun berjalan alot. Hingga dari pihak akhwat terlontar kalimat yang membuat ikhwan merasa tersindir. Ikhwan lalu mengungkapkan hal tersebut dan memberi tausiyah. Akhwat juga meyampaikantausiyah. Barulah suhu ruangan mulai kembali normal.

Meski kejadian ini tidak baru terjadi, tapi rasanya ingin meluruskan kembali. Cerita yang saya tulis di atas adalah cerita dari perspektif akhwat, jadi kalau ada ikhwan yang berkaitan yang membacanya, harap dimaklumi. Mungkin ikhwan pun merasa akhwat terlalu memaksa, suka berpikir ribet, padahal ada cara yang lebih simpel. Atau jika ada ikhwan terkait yang ingin menyampaikan perspektif ikhwan, tafadhdhol disampaikan.

Hmm. Kalau teringat dengan kejadian itu rasanya ingin tertawa. Lucu, sungguh. Barangkali ikhwan atau akhwat yang terlibat ada yang tidak sependapat dengan cerita itu, namun itulah yang tampak secara umum, bukan secara individu. Jika berpatokan dari cerita tersebut, sepertinya ada semacam ‘perang’ antara ikhwan dan akhwat. Namun esensinya tidak sesederhana itu. Ikhwan dan akhwat sesungguhnya menginginkan keputusan yang terbaik, namun pola pikirnya tidak sama.

Pada dasarnya ikhwan dan akhwat adalah makhluk yang berbeda : laki-laki dan perempuan, yang memang memiliki cara tersendiri dalam memandang sesuatu. Ikhwan (baca : laki-laki) umumnya lebih cenderung memikirkan hal-hal besar. Mereka lebih menyukai sesuatu atau sistem yang simpel alias tidak rumit. Namun seringkali mereka melupakan hal-hal kecil yang berdampak sistemik. Akhwat (baca : perempuan) justru seringkali memikirkan hal-hal kecil yang dilupakan oleh ikhwan. Mereka berpikir jangka panjang, mereka memikirkan apa-apa yang mungkin terjadi pada setiap keputusan terhadap segala aspek yang berkaitan. Jadi sebenarnya jika kedua pemikiran itu disatukan, akan terbentuk sebuah keputusan yang insya Allah greater, karena pemikiran tersebut saling melengkapi.

Karena itu para ikhwan dan akhwat, mari kita saling memahami (jangan salah memahami kalimat ini ya). Yang perlu dipahami adalah pola pikir kita yang berbeda. Kepada ikhwan, tolong dengarkan pendapat akhwat meski bertentangan. Karena akhwat (baca : perempuan) butuh didengarkan, mereka akan gusar jika tidak ada tanggapan, jadi harap maklum jika barangkali akhwat sering bersikap mendesak.

Kepada akhwat, mari lebih menghargai pendapat ikhwan. Meski tidak sependapat, jangan salahkan pendapat mereka. Karena ikhwan (baca : laki-laki) butuh penghargaan. Seandainya pun kita berpikir pendapat kita lebih baik, sampaikanlah dengan cara yang tidak membuat mereka merasa direndahkan, sampaikan dengan cara yang tidak menunjukkan pendapat kita lebih baik daripada pendapat mereka. Dan mereka juga tidak suka didesak, jadi harap maklum jika barangkali ikhwan sering terkesan tidak menanggapi. Percayalah bahwa mereka sedang berpikir.

Mungkin dulu saya juga tidak paham dengan perbedaan ini. Mungkin saya juga sudah termasuk dalam ‘daftar hitam’. Namun sebuah qodhoya dan review Zafran Saphire kemudian membuat saya tersadar, bahwa keharmonisan dalam rapat harus tetap dijaga. Setelah tersadar dari tidur yang lumayan panjang, saya mulai berusaha untuk lebih sabar saat rapat. Saya berusaha untuk berpikir ‘oh, namanya juga ikhwan (baca : laki-laki)’ tiap kali perbedaan pola pikir itu naik ke permukaan. Namun ternyata saya melihat ada beberapa teman di berbagai rapat, ikhwan maupun akhwat yang sepertinya belum begitu memahami perbedaan ini.

Hal itulah yang mendorong saya untuk menulis tulisan ini. Lucu rasanya mengangkat topik seperti ini dalam blog. Saya berkali-kali tertawa dalam proses penulisannya. Namun ini hal yang penting kan?

Sedikit menekankan, perbedaan pendapat dalam rapat, bagaimana pun adalah suatu hal yang biasa. Perbedaan pendapat itu cukuplah kita rasakan selama rapat saja. Saat keputusan telah ditetapkan, maka pendapat kita semua menjadi sama. Jangan sampai masih tersisa sekuele-sekuele dari pendapat kita yang tidak disepakati. Jangan sampai ada uneg-uneg dalam hati yang mengubah pandangan kita tentang seseorang yang tadi pendapatnya berbeda dengan kita. Apapun yang terjadi di dalam rapat, pikiran kita, perasaan kita, semangat kita mesti sama begitu rapat tersebut selesai. Jika masih ada pertentangan,  meski sedikit, akan berdampak besar bagi pelaksanaan keputusan tersebut.

Saya jadi teringat dengan sebuah kalimat dalam lpj seorang abang dalam sebuah mubes : “Untuk D*** dan Afifah ana mohon maaf jika selama kepengurusan kita pernah sedikit berselisih paham”. Wah, berselisih paham yang mana ya? Yah, sepertinya memang pernah (dengan D*** wallahu a’lam). Meski seperti yang abang itu sering sampaikan juga, perselisihan itu tidak untuk dibawa keluar.

Namun sebuah kata maaf mungkin akan berdampak positif untuk membersihkan hati-hati ini dari noda yang barangkali membandel. Karenanya, saya juga memohon maaf kepada semua ikhwan dan akhwat yang mungkin pernah tersakiti oleh saya selama rapat dan di luar rapat. Afwan jiddan.

Dan untuk tulisan ini, jika ada yang kurang sepakat mohon dimaafkan juga. Terima kasih.

-Terinspirasi dari pengalaman-pengalaman pribadi di berbagai rapat yang berbeda

Wallahu a’lam bishshawab.

Comments
  1. selembar daun says:

    wah… pengalaman pribadi sepertinya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s