Sembunyi di Lemari Baju

Posted: April 2, 2012 in In memorian
Tags: ,

Sembunyi di Lemari Baju

Soekarno pernah berkata, Jas Merah, jangan pernah melupakan sejarah. Yahh, ada banyak begitu kisah yang bisa di bagi, bisa jadi akan menjadi inspirasi atau pembelajaran bagi yang lain, atau sekedar penggumbar tawa bagi diri ini saat terkenang kenangan lama yang diceritakan ini.

Untuk yang pertama, dan semoga bukan yang terakhir, teringat kisah menarik saat masih berumur 3 atau 4 tahun, persisnya aku lupa, yang pasti saat itu aku belum masuk TK dan belum terlalu ahli untuk sekedar mengenakan baju sendiri. Saat itu aku sekeluarga masih tinggal di rumah nenek, di kampung, Desa Ampang Gadang, Kab 50 Kota. Tapi, nenek dan kakek belum tinggal di sana, mereka tinggal di sicicin, mengelola toko apotik disana.

Sebagaimana yang pernah tak ceritakan di postingan “My Beloved Family”, bahwa  kedua orang tuaku bekerja, dua-dua nya PNS. Sehingga sebelum cukup umur untuk sekolah, aku ditinggal bersama pengasuh di rumah, atau dijagain oleh kakak dan sepupu nenek yang rumahnya juga bersebelahan. Kebetulan, saat peristiwa ini terjadi, kalau tidak salah, aku ditinggal dengan sepupu nenek, nenek Khadijah namanya, yang hingga tulisan ini dibuat beliau masih hidup dan cerita ini senantiasa terkenang oleh beliau tiap kali aku bertemu dengannya.

Entah karena apa, saat itu kebetulan Nek Ijah keluar sebentar dari rumah, dan aku sendiri berada dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku bekerja, kedua kakak pergi sekolah yang kebetulan masih SD, dan berlokasi tidak jauh dari rumah. Saat sendiri itu, entah karena apa, aku gak ingat persis, ada keinginan untuk coba-coba membuka baju yang sedang ku pakai. Entah karena apa, ada keinginan untuk melakukannya, padahal saat itu untuk sekedar masang dan lepas baju aku belum melakukannya secara mandiri. Dalam benakku, mumpung gak ada orang, mending di coba-coba aja. Setelah berusaha sekuat tenaga, akhirnya aku bisa melepas baju sendiri, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup senang bisa melakukannya, tanpa ada bayangan bahwa kecemasan muncul beberapa saat setelah kesumringahan itu.

Beberapa saat kemudian, baru aku sadar, terus cara memakai baju ini kembali gimana? Pikir awal ku, ini gampang ah, tidak jauh lebih sulit saat membuka nya. Dan teknik coba-coba seperti sebelumnya pun ku lakukan. Dan kecemasan pun tiba, “Mengapa ini baju gak bisa dipake-pake ya?”.  “Nanti kalau Nek Ijah dah datang gimana?. “Pasti kena marah dan malu banget nih!”, pikirku. Setelah berusaha beberapa kali aku pun give up. “ Ya sudahlah, kayaknya memang gak bisa deh”. Untungnya, sudah lumayan lama, Nek Ijah pun belum datang. Saat itu timbullah ide untuk bersembunyi, agar gak ketahuan kalau aku gak bisa pasang baju kembali, setidaknya sampai Mama datang. Di dalam kamar, aku melihat ada sebuah lemari pakaian, dan pada salah sisi nya memliki luas yang cukup kalau sekedar untuk ditempati oleh tubuhku yang mungil itu. Masuklah aku kesana, dengan niat untuk bersembunyi dari orang-orang, malu dan takut dimarahi karena ngelepas baju sendiri, dan tidak bisa memasangnya lagi. Benar, beberapa saat kemudian Nek Ijah pun datang, dan terdengar jelas kalau dia memanggilku di ruang tengah. Aku diam saja, di tempat persembunyian ini, tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Nek Ijah sudah amatlah cemas, karena tidak menemukan dimana-mana.

……….

Terdengar suara ribut-ribut di luar, membangunkan ku dari sebuah ruang gelap penuh pakaian. Oh, aku ternyata tertidur di dalam lemari pakaian ini. Dan sayup-sayup tak sampai aku mendengar suara Mama dan juga Uda ku di luar. Ahaa, Mama udah pulang, saat nya untuk keluar dari persembunyian ini, meminta untuk dipasangin lagi baju yang telah ku buka sendiri ini. Aku keluar dari lemari, keluar dari kamar, muncul di ruang tengah, memperhatikan, ramai orang di situ, dan semua terperangah melihat ke arahku. Dengan wajah tanpa dosa, aku mendekat ke Mama, sambil membawa baju tadi, minta untuk dipakaikan lagi, dan dengan polosnya bertanya,

Sadang manga Ma? Kok rami na?” (Ada apa ya Ma, kok rame banget?).

Mama malah nanya balik, “Kama se nggi?” (Kamu dari mana?).

“Mandok, tu takalok di lamari, baju ko dak bisa dipasang do” (Sembunyi dan ketiduran dalam lemari, bajunya gak bisa dipake), jawabku lirih sambil mengacungkan baju tadi, masih dengan wajah inocent. Dan seisi rumah pun ketawa sambil bernafas lega. Nek Ijah pun  mendekat, dan mamaciak ku, gemes, “Manga waang mandok ah? Paniang den mancari!” (Ngapain kamu sembunyi ah? Pusing  nyarinya).

Epilog

Tanpa aku sadari, setelah bersembunyi di dalam lemari aku tertidur. Saat itu, setelah kembali lagi masuk rumah, Nek Ijah yang diberi amanah untuk menjagaku cemas bukan kepalang, karena tidak menemukan aku dimana-mana, di dapur, di kamar, di kamar mandi, di rumah tetangga, bahkan sudah di aduk-aduk tuh kolam ikan di belakang rumah, khwatir kalau aku jatuh di sana, dan aku pun tidak ditemukan dimana-mana. Hilang akal, Nek Ijah pun memanggil kedua kakakku ke sekolah, nyuruh pulang, melaporkan bahwa aku hilang. Bahkan, Mama ku pun di telpon ke tempat dia mengajar, diminta segera pulang ke rumah, dengan alasan yang sama, Anggi hilang!. Seisi rumah beserta tetangga sekitar pun dibikin heboh, dan memberikan prasangka masing-masing. Ada yang bilang aku diculik, tenggelam di kolam, dll, aku juga gak ingat sepenuhnya, dan tentunya gak ada yang sempat berpikir, kalau aku tersembunyi di lemari pakaian.

Yahh..yang penting aku tidak kenapa-napa, dan masih sehat dan bugar hingga tulisan ini dibuat. Dan yang terpenting, saat ini, aku sudah bisa melepas dan memakai baju sendiri.

Comments
  1. […] sebelumnya aku berbagi kisah tentang hal lucu saat berusia 4 tahunan pada tragedi bersembunyi dalam lemari, kali ini adalah cerita tentang saat aku sudah memasuki kelas 1 SD. Saat sudah seusia itu, kami […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s