Makna Seorang Guru Bangsa

Posted: March 29, 2012 in tulisan jadul
Tags: , , , ,

*Opini Bulanan PPSDMS_28 November 2008

Baru-baru ini dunia perpolitikan Indonesia dikejutkan dengan iklan kampanye Partai Keadilan Sejatera (PKS) yang salah satu isinya menyebutkan bahwa Soeharto disebut sebagai pahlawan dan guru bangsa. Iklan ini merupakan iklan yang cukup kontroversial dan sempat heboh di seluruh negeri. Wajar saja, banyak orang yang menjadi gusar, PKS yang notabene dianggap sebagai salah satu partai yang lahir dari era reformasi dan memiliki kader yang kebanyakan juga adalah aktivis 1998 ternyata bisa bersikap pragmatis, mengakui Soeharto sebagai guru bangsa sama saja mengkhianati reformasi yang telah dengan susah payah diperjuangkan pada tahun 1998. Banyak orang mempertanyakan kembali jati diri PKS, apakah partai ini masih mempertahankan idealitanya atau malah terjerumus dalam jurang pragmatis yang mementingkan kemenangan dan kekuasaan semata. Terlepas dari sikap politik PKS tersebut yang perlu menjadi catatan adalah pernyataan yang menyebutkan bahwa Soeharto dianggap sebagai guru bangsa. Kita perlu mengkaji lebih jauh dan mendalam, apa saja yang pernah dilakukan Soeharto sehingga dia layak disebut sebagai guru bangsa Indonesia ataukah tidak pantas sama sekali.

Kata guru bangsa bukan sembarang kata. Kata majemuk itu mempunyai makna yang dalam, ada konsekwensi logis yang harus dipertanggungjawabkan ketika kata guru bangsa dilekatkan pada seseorang. Guru bermakna sebagai orang yang patut untuk dicontoh dan diteladani oleh para muridnya. Guru berperan besar dalam membentuk karakter bangsa. Orang-orang bersejarah yang ada di negeri ini terlahir sebagai hasil didikan seorang guru, walaupun itu hanya seorang guru sekolah dasar, tetapi ia memiliki peran yang besar membntuk seseorang tersebut. Guru bangsa tentu memiliki arti yang lebih mendalam lagi. Guru bangsa bisa diartikan sebagai orang yang telah mendidik bangsa ini sehingga membawa kebaikan bagi seluruh negeri. Dialah yang menjadi teladan bangsa. Dia harus memiliki karakter yang baik, membawa perubahan mendasar atas negeri ini, tidak meninggalkan sesuatu kecuali yang baik, dan masyarakat begitu mendambakan dan merindukan kelahiran sosok seperti dirinya ketika dia sudah tiada. Memang belum ada standar yang pasti untuk menetapkan seseorang layak disebut sebagai guru bangsa atau tidak, tetapi setidaknya secara umum tentulah seseorang layak disebut sebagai guru bangsa jika ia dikenal sebagai karakter yang baik dan ketika namanya disebut yang ada dalam ingatan orang adalah dia merupakan tokoh yang baik dan patut dijadikan teladan. Nah, pertanyaannya terkait sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, apakah layak dan pantas jika gelar guru bangsa di lekatkan pada sosok tokoh yang pernah menjadi presiden cukup lama di Republik Indonsia ini, yaitu Soeharto.

Karir Soeharto sebagai orang nomor satu RI

Kalau kita meretas sejarah kebelakang, masih terekam dalam benak kita tentang adanya insiden pemberontakan PKI yang diiringi dengan kejatuhan rezim orde  lama atau pemerintahan Soekarno, kemudian dilanjutkan dengan naik tahtanya Soeharto  sebagai Presiden ke dua Republik Indonesia. Ada hal yang perlu diperhatikan tentang adanya perubahan mendasar dalam negeri ini. Soeharto membabat habis PKI dan antek-anteknya, tak perlu dikaji terlalu lama, ketika diketahui sesorang penah berurusan dengan kaum komunis itu, penghilangannya dari permukaan bumi pun dilakukan, maka tidak heran sesungguhnya telah terjadi pembantaian besar-besaran di negeri ini tanpa memperhatikan keadilan dan hak asasi manusia. Kemudian yang menarik juga yang terjadi adalah berdatangannya investor asing ke negeri ini dengan dikeluarkannya Undang-undang yang mengatur itu oleh pemerintahan Soeharto, sehingga penjualan aset-aset negara ke pihak asing pun secara berangsur dilakukan. Kita bisa melihat hasilnya sekarang, begitu banyak kekayaan dalam negeri yang dikuasai oleh pihak luar negeri, sementara Indonsia sebagai pihak yang memilki tidak mendapat apa-apa, bahkan ada dimana pemerintahan RI hanya mendapat pembagian 0% dari keuntungan, sungguh kemalangan yang nyata. Kembali pada kiprah dan karir Soeharto selama menjadi orang nomor satu di negeri ini. Mungkin tidak banyak yang merasakan dan tahu, bahawa telah terjadi tindakan diluar keprimanusiaan pada rezim ini. Tidak adanya kebebasan berpendapat, penangkapan terhadap tokoh ataupun aktivis muslim, ideolgisasi pancasila yang berlebihan, dan sebagainya. Diluar memang terlihat bagus, tetapi kenyataannya telah dilanggar begitu banyak hak asasi manusia di rezim ini. Kita pasti dekat dengan istilah petrus (penembak misterius) yang diiringi dengan kasus orang hilang yang mana banyak terjadi dinegri ini pada masa orde baru, kejadian ini mengindikasikan bagaimana bobroknya Soeharto masa itu.

Terlapas dari berbagai macam kejelekan yang melekat pada sosok Soeharto sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, kita juga harus bersikap objektif dalam menilai sesuatu, termasuk pandangan terhadap Soeharto. Ketika masa pemerintahan Soeharto setidaknya martabat dan kedudukan Indonesia di mata dunia dalam hal militer patut diancungi jempol, Indonesia cukup ditakuti dimata dunia dengan kapasitas militer yang dimiliki. Kemudian sosok Soeharto lekat dengan istilah Bapak Pembangunan karena memang pembangunan yang luar biasa yang dilakukannya terhadap negeri ini yang mana programnya itu dikenal dengan rangkaian Pelita (Pembanguanan Lima Tahun), walaupun kegiatan pembangunannya itu masih perlu dipertanyakan kembali karena mungkin juga merugikan sebagian pihak. Masyarakat juga merasakan kedamaian dan kesejahteraan pada masa Soeharto yang tidak ditemukan pada masa sekarang, sehingga wajar kiranya jika sebagian orang masih merindukan Soeharto sebagai presiden RI. Namun, amat disayangkan Soeharto mengalami ending yang kurang bagus ketika dia turun dari jabatan, sehingga ingatan yang ada sebagian besar orang terutama tokoh-tokoh reformasi bahwa Soeharto adalah kezhaliman dan ketidakadilan.

Sejenak berenung

Sekarang mari kita mencoba untuk merenungi kembali sejenak tentang makna dari guru bangsa. Bagaimanakah kadar atau standar yang pas ditetapkan untuk seorang yang dicap sebagai guru bangsa. Terlepas dari berbagai macam konflik pro dan kontra yang terjadi saat ini setelah kelurnya iklan PKS yang kontroversial tersebut, kita tidak perlu terlalu sibuk memikirkan hal itu. Silahkan bagi mereka yang memandang dari hal positif yang pernah dilakukan Soeharto untuk berpendapat bersikap adil terhadap Soeharto dengan tidak melupakan jasa-jasanya. Dan biarkanlah bagi orang yang tidak bisa melupakan berbagai macam kebejatan Soeharto untuk senatiasa menghujat Soeharto dan tidak akan pernah memaafkannya walaupun ia telah berpulang kehadirat ilahi. Namun, yang terpenting adalah kita harus mampu untuk bersikap lebih dewasa, merenungi atas nasib bangsa saat ini. Sesungguhnya begitu banyak hikmah bisa kita tarik sebenarnya akan fenomena Soeharto sebagai guru bangsa ini. Marilah kita mempertanyakan diri sendiri, sudah seberapa besar kontribusi kita terhadap pembanguan negeri ini, apa yang telah kita lakukan sehingga telah terjadi perbaikan atas negeri Indonesia tercinta ini.

Prediket guru bangsa bukan memang hanya untuk seseorang, kita pun seharusnya bisa mendapatkannya, tentu dengan berbagai macam kategori atau indikator yang tentunya berbeda masing-masing orang. Marilah kita meningkatkan kualitas dan kapasitas diri sehingga bisa memberi banyak kontribusi untuk negeri ini. Prediket sebagai seorang guru bangsa pun bukan hal yang tidak mungkin untuk bisa kita peroleh.

Bangkitlah bangsaku harapan itu masih ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s