Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis

Posted: March 29, 2012 in tulisan jadul
Tags: , , , ,

*Opini Bulanan PPSDMS_26 Juni 2009

            Berbicara tentang perekonomian tidak bisa dipisahkan dari perbincangan tentang krisis yang melanda dunia. Mulai dari krisis karena depresi (deep depression) pada tahun 1930, krisis pada tahun 1980, 1997, dan terakhir yang tidak kalah menghebohkan krisis yang terjadi baru-baru ini pada akhir tahun 2008 lalu. Krisis ekonomi yang melanda sektor keuangan sebagian besar negara dunia tersebut disebut sebagai krisis yang paling parah dan paling terasa dampaknya ke seluruh penjuru dunia dibandingkan krisis-krisis yang pernah terjadi sebelumnya. Berbeda dengan krisis-krisis  sebelumnya yang disebabkan karena kegagalan pengelolaan sistem ekonomi dalam hal kebijakan, krisis global ini melanda sektor finansial (keuangan/non rill), akibatnya sebagian besar masyarakat dunia yang nota bene punya investasi di pasar saham atau bahkan sudah dijadikan sebagai mata pencaharian utama, mengalami stress dan tekanan yang luar biasa beratnya. Hal yang wajar terjadi pada akhir tahun 2008 kemaren jika banyak ditemukan para orang kaya yang menjadi hilang akal atau terbalik pikirannya karena tidak sanggup membayangkan bencana yang luar biasa berat menimpanya. Harta berlimpah yang ada di depan mata tiba-tiba tenggelam seiring dengan tenggalamnya harga saham-saham di dunia.

Krisis finansial yang katanya terberat sepanjang sejarah ini pun berefek kepada Indonesia. Walaupun secara makro tidak terasa apa-apa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Ini adalah hal yang wajar karena memang jumlah orang yang bermain atau berinvestasi saham di Indonesia hanya sebagian kecil dari jumlah penduduk Indonesia yang luar biasa banyaknya. Kehebohan terjadi hanya pada daerah-daerah kota besar, pusat-pusat bisnis, gedung-gedung bertingkat, dan tempat elite lainnya. Mereka ketakutan membayangkan kerugian yang ada di depan mata. Pemerintah pun turun tangan, membantu para pebisnis untuk menangani krisis yang mereka alami, walaupun di sisi lain sebenarnya masih banyak masalah rakyat yang harus di selesaikan. Kendatipun pemerintah bergerak atas dasar kepentingan rakyat, para kaum elite dan pebisnis pun tidak bisa untuk tidak diistimewakan karena keelitan dan derajat mereka terasa penting bagi pemerintah, tidak hanya pebisnis dalam negeri tetapi juga untuk para pebisnis maupun investor asing. Pasar saham yang dalam hal ini Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat tutup beberapa hari dan mulai terseok-seoknya beberapa perusahaan besar di Indonesia adalah efek terjadinya krisis finansial global terhadap negara Indonesia.

Secara kasat mata krisis yang menimpa dunia dan termasuk Indonesia dirasakan oleh para kaum elite saja, yaitu mereka yang memang terlibat dalam dunia pasar nonrill tersebut. Walaupun demikian, efeknya juga akan sampai ke masyarakat kalangan lapisan bawah. Karena tidak bisa kita pungkiri sistem ekonomi yang secara aktual terjadi di Indonesia adalah kapitalis sekuler (walaupun secara konstitusi adalah ekonomi kerakyatan pancasila). Keberadaan kaum kapitalis termasuk yang asing amat penting bagi pemerintah. Hal ini terjadi jika ditelik jauh ke belakang sebagai akibat salang langkahnya kita dahulunya dalam mengeluarkan kebijakan kerja sama dengan permodalan asing. Akibatnya, kebijakan-kebijakan pemerintah pun tidak bisa dilepaskan dari kepentingan mereka, sehingga hal ini berefek pada apa yang dirasakan oleh rakyat karena bagaimanapun juga rakyat adalah objek pemerintah yang berhak mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara.

Indonesia mengalami krisis finansial global yang mana kalau seandainya mau kembali ke asholahnya tentunya hal itu bisa tidak berdampak pada stabilitas perekonomian Indonesia. Sama-sama kita lihat dan rasakan bagaimana goyangnya pemerintahan dalam menghadapi gejala ekonomi yang menimpa tersebut.

Perekonomian Indonesia

Indonesia termasuk negara yang unik dan kaya akan keanekaragamannya. Berbagai macam budaya dan suku bangsa tercampur dalam negara kepulauan yang terbesar di dunia ini. Walaupun demikian, semuanya itu bisa tergabung menjadi satu bangsa yang diwadahi oleh suatu negara yang bernama Indonesia.

Lahirnya negara dengan nama Indonesia merupakan hasil proses panjang evolusi dari negara-negara atau kerajaan yang dahulunya sudah ada di tanah Indonesia ini. Mulai dari Kerajaan Kutai sebagai kerajaan Hindu pertama, kemudian dibesarkan oleh kerajaan-kerajaan yang tersohor sampai Asia seperti Sriwijaya dan Majapahit yang kita pun sudah sama-sama tahu bagaimana jaya dan besarnya kejayaan kerjaan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan keberadaan kerajaan-kerajaan islam yang berjejer di sepanjang pelosok negeri khatulistiwa ini. Sampai akhirnya pada terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir sebagai proses memperjuangkan kemerdekaan dari tangan penjajahan bangsa asing di tanah air Indonesia. Dari proses panjang tersebut sudah dipastikan bangsa Indonesia bisa dipersatukan karena memiliki latar belakang serta karakter yang sama sebagai bangsa Indonesia, yang kemudian menyatu menjadi semacam falsafah hidup bangsa Indonesia. Falasafah hidup ini begitu mengikat dan menagakar pada sanubari masyarakat Indonesia yang menjadi ciri khas dan karakter bangsa Indonesia sendiri yang tentu saja berbeda dengan bangsa lain. Atas dasar falsafah itulah kita menjalankan hidup di negara ini sehingga begitu cocok dan sesuainya, kemakmuran serta kesejahteraan yang menjadi cita-cita bangsa pun bisa terwujud nantinya.

Falsafah hidup negara Indonesia jelas termaktub dalam lima sila pada Pancasila yang kemudian dijelaskan penurunannya melalui UUD 1945. Lima butir sila tersebut otomatis menjadi pegangan hidup bangsa ini dalam menjalankan aktivitasnya sampai pada bagaimana bentuk dan gaya hidup yang dilakukan oleh warganya. Perekonomian sebagai salah satu bidang yang keberadaannya begitu penting dan mempengaruhi jalannya hidup bangsa ini, tentu saja aktivitas ekonomi seperti apa yang dijalankan harus sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia sehingga tidak menimbulkan friksi-friksi atau ketidakseimbangan dalam prakteknya. Analoginya seorang yang mengalami sakit kepala tentu tidak akan menimbulkan efek yang lebih baik jika diberikan obat cacing, malahan menimbulkan kesengsaraan baginya. Begitupun halnya dengan Indonesia yang mempunyai latar belakang sejarah dan falsafah hidup tersendiri dalam menjalankan aktivitas perekonomian haruslah sesuai dengan falsafahnya itu. Kemudian, hal yang perlu dievaluasi saat ini adalah apakah sistem dan kebijakan perekonomian yang diterapkan di Indonesia belakangan ini sesuai atau tidak dengan falsafah yang dianut. Perlu direnungkan dan dievaluasi sehingga disadari akhirnya kekeliruan yang dilakukan telah berakibat pada tidak mapannya perekonomian Indonesia.

Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya bahwa tanpa disadari seiring dengan arus globalisasi yang menghegemoni telah membawa negara ini pada kebijakan-kebijakan yang tidak lagi sesuai dengan falsafah hidup negerinya, khususnya dalam bidang ekonomi, telah menyeret kita untuk menerapkan apa-apa yang diinginkan pemodal asing atau kreditur asing, sehingga kebijakan ekonomi yang diterapkan dalam bentuk peraturan pemerintah maupun UU begitu identik dengan nuansa liberalisme dan kapitalisme. Kebijakan bukan lagi pada demi kemakmuran rakyat (walaupun di atas kertas atas nama rakyat) tetapi lebih mengutamakan kepentingan pihak pemodal asing. Perekonomian bukan lagi disusun sebagai usaha bersama yang berasaskan kekeluargaan, tetapi lebih kepada mengutamkan kepentingan induvidual yang berlaku hukum homo homini lupus. Terlihat dengan bentuk-bentuk usaha yang ramai dan dihingar-bingarkan, koperasi yang mencerminkan kegiatan ekonomi sesuai falsafah hidup bangsa Indonesia keberlangsungan hidupnya malah tidak jelas, hidup segan mati tak mau. Sebaliknya yang menajadi tren adalah gaya hidup bermain di pasar saham yang lebih banyak bermain di sektor non rill yang tidak jelas bagaimana transaksinya dan tingginya spekulasi disana. Perekonomian Indonesia ini makin tidak jelas gandrungannya, di satu sisi beberapa pihak makin tinggi kesejahteraannya sementara di sisi lain begitu banyak orang atau rakyat yang semakin melarat hidupnya, untuk mendapatkan sesuap nasi saja sudah luar biasa susahnya.

Mari kita renungkan sejenak, sudah tepatkah gaya perekonomian yang dipakai? Bisakah dijelaskan mengapa krisis ini masih terjadi berkepanjangan tanpa ada kelihatan akhirannya? Patut untuk disadari bahwa telah terjadi gap antara sistem ekonomi yang dipakai dengan falsafah hidup bangsa yang berlandaskan pada nilai-nilai pancasila ini. Akibat ketidak sesuaian itu adalah hal yang wajar barang kali mengapa begitu sulit untuk memperbaiki nasib bangsa, khususnya dalam perekonomian yang semakin sembraut ini. Walaupun berganti menteri keuangan, tetapi kalau fondasi dasarnya tidak diubah tidak akan membawa efek apa-apa bagi perbaikan ekonomi bangsa. Masihkah mau bertahan dengan sistem yang seperti ini?

Peluang atas Krisis Ekonomi

Sudah disebutkan bagaimana krisis yang menimpa dunia dan bagaimana efeknya terhadap stabilitas perekonomian bangsa. Alangkah naifnya jika kita hanya merenung saja, menyesali atas nasib yang menimpa, dan stress serta bingung bagaimana menyelesaikan persoalan yang terjadi. Setiap kejadian yang menimpa pasti ada hikmah dan peluang kebaikan yang diperoleh di sana. Masih ingat dibenak kita bagaimana kisah sedih dan duka yang menimpa bangsa ini ketika terjadi bencana alam tsunami di Aceh yang menewaskan ratusan ribu orang. Satu generasi hilang dalam sekejap mata. Walaupun kerasnya bencana yang menimpa, tetapi atas kejadian Aceh tersebut ada peluang yang bisa diambil. Dengan bencana tersebut hubungan dengan pihak GAM bisa diperbaiki karena rasa nasib yang sama. Kesepakatan perdamaian dengan Aceh pun bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan pihak GAM sehingga konflik berkepanjangan di Aceh yang tidak jelas kapan selesainya bisa berakhir dengan damai. Perdamaian dengan GAM adalah peluang yang termanfaatkan dengan tepat ketika bencana maha dahsyat tsunami menimpa. Begitupun halnya dengan krisis yang berkepanjangan ini, di tengah perihnya penderitaan menghadapi krisis tentu ada peluang yang bisa diambil yang membawa perubahan kebaikan atas negeri seribu satu pulau ini.

Krisis finasial global yang terjadi pada akhir tahun 2008 lalu telah menunjukkan betapa lemahnya fundamentalis dari sistem ekonomi liberal yang terlalu menyepelekan dampak spekulasi pada perekonomian yang dilakukan dalam kesehariannya. Adanya krisis ini setidaknya menyadarkan kita bahwa apa-apa yang dilakukan oleh barat belum tentu baik dan sempurna. Seharusnya kita percaya diri atas sistem ekonomi yang seharusnya dianut oleh bangsa ini yang tertuang dalam amanah konstitusi. Perekonomian kerakyatan yang berlandaskan pada sila ke lima Pancasila dan penurunannya terlihat pada Pasal 33 UUD 1945 ayat 1, 2, dan 3. Perekonomian yang disusun atas usaha bersama yang berasaskan kekeluargaan seharusnya menjadi andalan bagi kita bangsa Indonesia. Perekonomian yang sesuai dengan amanah konstitusi, perekonomian yang sesuai dengan falsafah hidup negeri ini. Terlihatnya kebobrokan kapitalisme paska krisis seharusnya menumbuhkan kesadaran bahwa sistem itu tidak sesuai dengan falsafah dan kaidah bangsa, sehingga sebelum terjatuh terlalu dalam kita bisa segera memperbaiki kesalahan dan berbenah diri. Memperbaiki ekonomi negeri dengan instrumen yang lebih pas dan lebih jitu dalam menagani persoalan ekonomi bangsa. Falsafah Indonesia punya ciri khas tersendiri yang tentu saja memperbaiki berbagai kerusakan yang terjadi disesuaikan dengan karakternya tersebut.

Sudah saatnya koperasi unjuk gigi dan memperlihatkan bahwa gerakan ekonomi ini layak diberi kesempatan untuk memperbaiki negeri. Selain itu, dengan krisis ini patutlah disadari pasar-pasar finansial yang bermain di sektor non rill tidak layak untuk dipakai dan membawa kebobrokan pada jangka panjang, walaupun peluang returnnya besar, tetapi risikonya jauh lebih tinggi, buktinya sebagaimana yang terjadi pada krisis global lalu. Para penggiat ekonomi pada sektor rill (UMKM misalnya) haruslah mengambil peluang ini, menunjukkan bahwa sektor rill lah yang jelas bagaimana aktivitas perekonomiannya. Saatnya  aliran dana difokuskan pada pengembangan UMKM, bukan lagi pada sektor non ril di pasar modal yang begitu tinggi spekulasinya dan betapa tidak adanya nilai-nilai sosial dan kebersamaan di sana, yang penting keuntungan induvidu, biarlah orang lain menderita asal diri sendiri bahagia, sungguh bertentangan dengan falsafah hidup bangsa Indonesia.

Bayangkan, jika rakyat dan pemerintahan ini menyadari apa yang terbaik yang bisa dilakukan. Kegiatan perekonomian tentu terfokus pada usaha pengembangan UMKM dan koperasi sebagai basis gerak perekonomian dalam negeri. UMKM kebanyakan dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah, jika sektor ini dikembangkan dengan baik tentu mereka yang statusnya menengah ke bawah tentu akan naik peringkat pada status yang lebih baik, dan yang lebih terpenting lagi adalah terjadinya distribusi kekayaan yang merata, karena yang bergerak adalah kalangan menenagah ke bawah dan di support oleh masyarakat kalangan atas. Sungguh amat beda sebagaimana yang kita rasakan saat sekarang ini, dimana gap antara si miskin dan si kaya begitu tinggi, dan yang lebih parahnya adalah yang kaya menajdi semakin kaya dan si miskin semakin jatuh dalam jurang kemiskinannya karena peluang yang diciptakan hanya memungkinkan bagi orang yang berduit saja yang bisa berusaha, yang punya duit sajalah yang bisa membeli saham. Sunnguh ironis, bertolakan dengan konstitusi negeri ini, padahal jelas-jelas tertuang adanya asas kekelurgaan dalam melakukan usaha bersama.

Kemudian apa yang bisa dilakukan? Pertama, terkait dengan krisis ini selayaknya memberi penyadaran kepada kita bahwa negeri ini mempunyai falsafah tersendiri yang menjadi ciri khasnya sebagai negara berdaulat. Arus globalisasi layak disambut tanpa menghilangkan jati diri bangsa, khususnya dalam implementasi kebijakan-kebijakan ekonomi serta megeluarkan kebijakan-kebijakan yang bukan mengikuti kepentingan pemilik modal tetapi lebih kepada kemaslahatan rakyat banyak. Kedua, Sistem ekonomi yang cenderung bertentangan konstitusi negeri harus segera diperbaiki, dikembalikan kepada asalanya sebagaimana perekonomian yang semestinya yang sesuai dengan falsafah hidup bangsa. Ketiga, senantiasa lakukan aksi nyata dan rill dalam menjaga kedaulatan ekonomi, sadarilah bahwa produk-produk dalam negeri tidak  kalah baik dengan produk luar negeri, mereka hanya butuh pengembangan dan kepercayaan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan bangga dan mencintai produk dalam negeri ini? Sekali lagi, globalisasi boleh saja terus terjadi, tetapi hal itu tidak menghilangkan rasa cinta ini terhadap negeri zamrud khatulistiwa ini.

Perubahan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang mau berubah, maka rubahlah negeri ini menuju yang lebih baik diawali dengan perbaikan atas diri sendiri.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s