Ilmuan Berbuat, Kemiskinan Diembat

Posted: March 29, 2012 in tulisan jadul
Tags: , , , , ,

*Opini Bulanan PPSDMS_1 Juli 2009

           Banyak anak-anak cerdas dalam negeri ini yang terbukti mampu unjuk gigi sampai pada level dunia sekalipun. Sudah sering kali Indonesia meraih mendali di Olimpiade Sains di tingkat dunia, terakhir Indonesia memperoleh peringkat 1 pada Olimpiade presentasi Sains di Polandia pada April lalu. Belum lagi prestasi-prestasi lainnya yang sebenarnya telah membawa harum nama bangsa di pentas di dunia. Mereka adalah aset berharga bangsa, namun sayang sebagian besar dari orang-orang cerdas ini malah berkontribusi besar di luar negeri. Mereka sekolah ke luar negari, kemudian menetap di sana karena ternyata ilmunya lebih bermanfaat di sana dan dari persepsi mereka sendiri bahwa jika pun pulang ke Indonesia tidak banyak yang bisa dilakukan dan penghargaan dari negara pun amat minim terhadap karya mereka. Diakui atau tidak, persepsi negatif mereka tersebut tidak sepenuhnya salah dari realita yang ada.

Kemudian, ada sebagian mereka yang memiliki nasionalisme yang cukup tinggi dan mau pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya. Namun, amat disayangkan perhatian terhadap mereka pun minim sekali, baik berupa kesejahteraan finansial yang tidak memadai maupun karya keilmuan yang mereka hasilkan cenderung tidak mendapat perhatian yang cukup layak oleh pemerintah khususnya. Akibatnya, yang terjadi adalah menurunnya produktifitas mereka dalam menghasilkan karya penelitian atau keilmuan, bukan karena sifat malas atau karena personal mereka, akan tetapi lebih pada sistem yang ada yang mengakibatkan hal itu terjadi. Beginilah kondisi para ilmuan di Indonesia yang katanya kaya raya akan SDA ini. Minimnya penghargaan dan rendahnya produktivitas.

Sementara itu, perlu disadari bahwa sebenarnya seorang ilmuan adalah orang mempunyai posisi strategis dan daya tawar yang tinggi. Mereka adalah orang-orang cerdas yang tentunya memiliki pemikiran dan daya nalar yang melebihi orang biasa. Seseorang yang mampu menyandang gelar sebagai seorang ilmuan tentu adalah orang  yang begitu kompeten di bidangnya sehingga menjadi tempat bertanya bagi orang yang membutuhkan informasi terkait bidang ilmunya tersebut dan juga menjadi rujukan atas ilmu yang ia kuasai. Disadari atau tidak sesungguhnya seorang ilmuan memiliki posisi istimewa dan kemampuan yang lebih dibanding orang biasa. Oleh karena itu, seharusnya mereka mampu berbuat dan berkontribusi lebih banyak karena kelebihan yang mereka miliki.  Terlepas dari bagaimana realita apresiasi terhadap ilmuan di Indonesia, para ilmuan setidaknya memiliki potensi untuk bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak.

Antara Ilmuan dan Kemiskinan

Berbicara tentang kemiskinan dewasa ini pasti akan terkait dengan Indonesia. Tidak bisa diingkari realitas perekonomian Indonesia yang masih terpuruk dan jumlah penduduk miskin yang boleh dibilang relatif banyak yaitu 34,96 juta jiwa (15,42% total penduduk Indonesia) berdasarkan data BPS per Maret 2008. Persoalan kemiskinan akan berkaitan dengan berbagai macam aspek, tidak hanya ekonomi semata tetapi juga merambas ke persoalan politik, sosial, hukum, budaya, termasuk persoalan pendidikan. Kemiskinan bisa menjadi indikator kualitas dari bangsanya tersebut, khususnya tentang Sumber Daya Manusianya. Besarnya persentase kemiskinan di suatu negara menunjukkan semakin rendahnya kualitas manusia dari negara tesebut. Kemudian terkait dengan hal tersebut, pembicaraan tentang kualitas SDM dan pendidikan lagi-lagi akan terkait dengan keilmuan yang telah banyak di bicarakan pada paragraf sebelumnya, karena sosok  seorang ilmuan adalah orang yang kompeten dan berkualitas.

Ilmuan adalah indikator bentuk SDM bermutu dan seorang ilmuan dapat dipastikan adalah orang yang memiliki pendidikan yang memadai. Kemiskinan relevan dengan permasalahan pendidikan, dimana kemiskinan yang tinggi menunjukkan kualitas pendidikan yang rendah, maka kemiskinan juga menunjukkan merosotnya jumlah ilmuan atau rendahnya kultur keilmuan di negara tersebut. Dengan demikian, bisa kita temukan adanya suatu hubungan antara kemiskinan, kualitas SDM, dan perkembangan dari ilmuan itu sendiri. Ketika kemiskinan kuantitasnya naik seiring dengan itu menunjukkan makin rendahnya kualitas SDM manusianya, dan di sisi lain juga mengindikasikan lambatnya bahkan menurunnya perkembangan ilmuan.

Ilmuan berkurang boleh bilang salah satu faktornya adalah karena merebaknya kemiskinan, sehingga jika ingin ilmuan tidak habis dari negara ini, mau tidak mau kemiskinan harus diembat terlebih dahulu. Dengan berkurangnya ilmuan berarti telah makin rendahnya kualitas dari SDM yang ada. Padahal SDM yang berkulitas menjadi faktor penentu kemakmuran suatu negara, sebagaimana pengukuran Indeks Pembangunan Manusia yang salah satu variabel penentunya adalah kualitas pendidikan negara tersebut. Percuma jika negara itu begitu kaya dengan Sumber Daya Alamnya sementara amat buruk kualitas SDMnya. Namun jika kasusnya dibalik, negara yang tidak mempunyai SDA yang tidak begitu memadai tetapi pembagunan manusianya bagus, maka negara tersebut bisa menjadi maju adalah hal yang mungkin saja terjadi. Contoh rill yang bisa kita gunakan untuk kedua logika tersebut adalah perbandingan antara negara Indonesia dan Jepang.

Jepang dan Indonesia sama-sama akan memulai peradaban baru pada tahun 1945. Indonesia baru saja memproklamirkan kemerdekaannya dan Jepang habis porak-poranda karena bom atom dari Amerika. Indonesia begitu kaya dengan Sumber Daya Alam dan wilayah yang luas, sementara Jepang adalah negara yang lebih kecil dan  rawan gempa, serta tidak memiliki SDA yang memadai relatif terhdap Indonesia. Tetapi kenyataannya, tidak satupun yang akan mengingkari bahwa Indonesia adalah jauh tertinggal dari Jepang, penduduk miskin Indonesia jauh lebih banyak daripada Jepang. Bandingkan juga antara Singapura dan Indonesia, hal yang sama hasil perbandingannya. Di sini kita bisa mengambil suatu konglusi bahwa kualitas SDM lebih memilki efek besar terhadap kesejahteraan suatu bangsa.

Seandainya ditelik lebih dalam akan terlihat adanya semacam lingkaran setan antara kemiskinan dan dari perkembangan ilmuan itu sendiri. Kemiskinan yang tinggi kuantitasnya berefek pada rendahnya kualitas SDM dan surutnya jumlah ilmuan. Sementara di sisi lain ilmuan yang berkurang berefek juga pada rendahnya mutu SDM sehingga kemiskinan pun meningkat. Namun, tidak perlu memperdebatkan mana yang lebih dahulu masalah yang harus diselesaikan, yang adanya malah seperti memperdebatkan mana yang duluan keluar antara telur dan ayam. Bukan persoalan mana yang lebih utama diselesaikan dahulu, tetapi lebih kepada memperhatikan kondisi SWOT nya, mana yang memungkinkan untuk lebih cepat diselesaikan atau persoalan mana yang peluangnya lebih besar untuk dipecahkan.

Kemiskinan tidak akan mungkin hilang dengan sendirinya, tetapi perlu usaha keras dan cara yang kreatif lagi efektif untuk memberantasnya. Efek saling negatif yang ditimbulkan antara tingginya kemiskinan dan surutnya jumlahnya ilmuan hendaknya jangan dijadikan sebagai hambatan. Akan tetapi, kedua itu bisa dijadikan suatu peluang untuk menyelesaikan  persolan krusial yang sedang dihadapi, kemiskinan. Keberadaan ilmuan tidak dijadikan  sebagai dampak atau efek dari permasalahan kemiskinan, tetapi akan lebih baik jika kita mengubah paradigmanya, ilmuan sebagai salah solusi untuk mengentaskan kemiskinan. Ilmuan adalah seseorang yang kompeten dan memiliki banyak kemampuan serta kelebihan dari orang biasa. Sewajarnya ilmuan ini bisa berbuat lebih untuk menyelesaikan persoalan krusial bangsa ini, apalagi ketika dikaitkan antara ilmuan dan kemiskinan akan ada hubungan yang relevan sebagaimana telah dituliskan pada paragraf sebelumnya.

Sosok ilmuan identik dengan seseorang yang memiliki daya analisis tinggi, nongkrongnya di perpustakaan dan laboratorium, dan sibuk dengan berbagai macam teori ataupun hukum-hukum keilmuan. Jika melihat konteks saat ini serta realita yang ada sekarang, sudah saatnya definisi itu diubah. Ilmuan seharusnya tidak lagi sibuk dengan hal-hal yang sifatnya teoritis dan berbagai konsepsi-konsepsi yang sifatnya abstrak dan banyak pada tataran wacana. Ilmuan hendaknya turun  dari langit singgasananya dan mulai menyentuh bumi, sehingga bisa merasakan bagaimana realita yang ada di tengah masyarakat serta tahu apa yang dibutuhkan dalam konteks kekinian dan kedisinian. Aksi-aksi nyata dan rill, itulah yang diperlukan saat ini, melakukan perubahan serta memperbaiki hal-hal yang diluar batas kewajaran atas realita yang terjadi di lapisan masyarakat. Dengan kompetensi yang dimilikinya, ilmuan tentu bisa berbuat lebih banyak dan perbaikan yang dilakukan pun tentu bisa lebih cepat dan efektif. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan bisa cepat teratasi. Memang bisa banyak teori yang diciptakan, namun adalah hal yang percuma suatu teori yang begitu bagus dalam mengatasi permasalahan tetapi tidak ada implementasinya di lapangan. Masyarakat tidak merasakan perubahan yang cukup signifikan. Tidak akan ada nilainya jika kompetensi yang tinggi tidak  diiringi dengan kontribusi yang memadai.

Ilmuan Berbuat, Kemiskinan Diembat

Tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya masyarakat menginginkan hal-hal yang kongrit dan nyata. Mereka bosan dengan berbagai macam teori dan dialektika yang tidak menghasilkan hal-hal yang rill di lapangan. Ilmuan, dengan kompetensi yang dimiliki seharusnya bisa melakukan aksi kongrit yang langsung bisa dirasakan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah hal yang penting untuk dilakukan.

Masyarakat sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan, hanya saja terkadang kita skeptis kepada mereka karena melihatnya dari perspektif ekonomi mereka yang jauh dari mapan sehingga langsung menjudge bahwa mereka tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk berkembang. Mereka bisa jadi memiliki kapasitas yang cukup memadai untuk bisa hidup lebih sejahtera, tetapi karena faktor finansial dan tidak adanya pengembangan diri dan peningkatan kualitas diri, potensi-potensi itu layu sebelum berkembang. Di sinilah dibutuhkan peran seorang ilmuan, mereka melakukan pemberdayaan dan pengembangan potensi masyarakat.

Ada ribuan Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta di Negara Indonesia tercinta ini. Jika saja ada 10 orang ilmuan di tiap perguruan tinggi tersebut, berarti sudah ada puluhan ribu jumlah ilmuan di negeri ini, jumlah itu belum termasuk ilmuan-ilmuan yang tidak terjun di ranah akademis, seperti ilmuan yang berada pada sektor publik maupun privat. Kalau dilakukan pembulatan, taruhlah ada 20.000 orang cerdas yang layak disebut sebagai ilmuan, kemudian seandainya saja dengan penuh keikhlasan dan sadar akan nasib bangsa para ilmuan tersebut melakukan pemberdayaan kepaada masyarakat dengan sistem satu ilmuan untuk satu desa atau perkampungan. Jika kita ambil asumsi satu perkampungan ada 1000 warga saja, maka setidaknya 20 juta orang warga Indonesia sudah terberdayakan dan siap untuk mengalami penigkatan taraf hidup menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Jumlah 20 juta memang belum seberapa dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan, namun usaha yang menghasilkan  jumlah yang 10% dari total penduduk Indonesia itu jika dilakukan secara kontinuitas dan konsisten tentu lambat laun akan membawa perubahan yang signifikan bagi bangsa ini secara keseluruhan. Sejatinya, perubahan tidak bisa langsung sekali jadi, tetapi bertahap.

Hal kongrit yang dilakukan disesuaikan dengan kapasitas keilmuan yang dimiliki oleh para ilmuan tersebut. Seorang ilmuan ekonomi dan bisnis memberdayakan masyarakat dalam hal kemampuan berekonomi mereka. Kemampuan entrepreneurship dari masyarakat yang bisa dikembangkan secara matang, sehingga dari masyarakat yang sebagian  besar awalnya adalah tunakarya dibentuk untuk menjadi seorang pengusaha kecil yang bisa hidup lebih mandiri dan bermartabat. Seorang ilmuan pertanian tentu memiliki berbagai macam teori dalam pengembangan pertanian rakyat, potensi rakyat dalam bercocok tanam pun akan teroptimalkan, efeknya tentu saja dalam hal produktivitas petani untuk menghasilkan kebutuhan pangan. Begitupun halnya dengan ilmuan perikanan yang akan mengembangkan ternak ikan masyarakat yang selama ini tidak teroptimalkan dengan baik, dan begitupun juga dengan ilmuan-ilmuan lainnya.

Indonesia terbentang luas dengan berbagai potensi dan ciri khas yang dimiliki oleh tiap daerah. Hanya saja potensi dan ciri khas daerah tersebut tidak teroptimalkan dengan baik, bahkan mungkin masyarakat di daerah tersebut tidak mengetahui atas potensi yang dimilikinya sehingga yang terjadi adalah pergi ke kota (urbanisasi) karena tidak menemukan pekerjaan yang memungkinkan. Sayangnya sampai di kota pun ia tidak memiliki kapasitas yang memadai dan yang terjadi adalah bertambahnya satu pengangguran lagi yang seiring dengan itu bertambahnya kemiskinan. Hal seperti itulah yang banyak terjadi di wilayah-wilayah yang sebenarnya kalau ditelik lebih dalam lagi ternyata memilki potensi untuk dikembangkan.

Wilayah-wilayah potensial yang tidak terkembangkan itulah yang menjadi target para ilmuan untuk diberdayakan. Dengan berbagai macam keahlian spesifik yang mereka miliki, para ilmuan di sebar ke berbagai wilayah yang sesuai potensinya dengan spesifikasi ilmuan tersebut. Cateris paribus, berbagai daerah akan bangkit dengan menonjolkan berbagai macam ciri khas yang mereka miliki. Melalui inisiasi para ilmuan perubahan atas masyarakat pun bisa dilakukan. Mereka (masyarakat) diberi pemahaman akan potensi daerah yang mereka miliki, kemudian diiringi dengan skill-skill yang diberikan oleh ilmuan tersebut yang bisa jadi apa yang disampaikan oleh ilmuan tersebut tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya. Ruang-ruang pekerjaan baru pun bertambah, implikasi dari hal ini adalah tentu saja kepada meningkatnya taraf hidup masyarakat yang juga mengindikasikan mulai terkikisnya kemiskinan. Jika kondisi ini terjadi di banyak daerah, secara makro jumlah penduduk miskin pun akan berkurang. Atas perbuatan para ilmuan, kemiskinan pun diembat.

Kemiskinan menunjukkan kualitas kesejateraan suatu bangsa, kualitas Sumber Daya Manusianya, pendidikan, tingkat pengangguran, dan berbgai macam indikator lainnya. Komprehensifnya efek kemiskinan ini juga merujuk kepada tingkat harkat, derajat, martabat, bangsa. Akibatmya, wajar jika harga diri bangsa ini begitu mudahnya direndahkan, kedaulatan bangsa ini diremehkan, dan kekuatan bangsa ini dipandang sebelah mata. Karena banyak pihak yang memanfaatkan kelemahan ini untuk menikam lebih dalam martabat negara Indonesia ini. Bagaimanpun juga, kemiskinan adalah hal yang prioritas untuk diselesaikan. Pemenuhan kebutahan rakyat dan hajat hidup masyarakat adalah aspek utama yang menjadi perhatian negara melalui pemerintah. Tidak hanya itu, perhatian dari kita masyarakat Indonesia juga mutlak diperlukan. Kerja keras dari pemerintah dalam melakukan usaha pengentasan kemiskinan akan menjadi hal yang sia-sia jika tidak ada renspon yang baik dari lapisan masyarakat dalam bersama-sama mendukung kebijakan yang dilakukan.

Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat

Indonesia yang lebih baik dan bermartabat adalah harapan kita semua karena dengan martabatnya itu akan diakui keberadaan bangsa ini sehingga negara ini pun bisa berkotribusi lebih banyak demi keadilan dunia. Martabat dan kedaulatan bangsa ini tentu saja harus didahului dengan terciptanya kesejahteraan atas masyarakatnya. Masyarakat yang adil dan sejahtera, lepas dari belenggu kemiskinan dan rendahnya kualitas pendidikan adalah harapan kita bersama sehingga menjadi kewajiban bersama untuk mencapai kondisi yang diharapkan tersebut.

Tampaklah dengan jelas apa yang mungkin bisa dilakukan atas perbaikan negeri ini. Berikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap ilmuan yang kemudian menjadi salah satu kunci demi lebih banyaknya ilmuan di Indonesia. Kerahkan ilmuan yang ada untuk tidak lagi sibuk dengan teori-teorinya yang baru sebatas berada pada tataran wacana, tetapi langsung berbuat dengan melakukan pemberdayaan atas potensi-potensi masyarakat yang selama ini tidak begitu terkelola. Terberdayakannya masyarakat berimbas pada meningkatnya taraf hidup masyarakat yang menunjukkan mulai terkikisnya kemiskinan di permukaan bangsa ini. Lepasnya masyarakat dari belenggu kemiskinan dan rendahnya kualitas SDM menjadi jalan Indonesia yang makmur, adil dan sejahtera. Dengan demikian, harkat derajat bangsa ini pun terangkat yang kemudian terwujudnya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat sehingga mampu berkontribusi lebih banyak untuk perbaikan dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s